Membumikan Episentrum Pancasila di Era Digital Generasi Muda

  • 02 Okt 2026 12:26 WIB
  •  Langgur

RRI.CO.ID, Tual - Pegiat Budaya dan Literasi Bahar Kubangun mengatakan. Era digital telah menghadirkan perubahan besar dalam kehidupan generasi muda. Teknologi bukan lagi sekadar alat untuk mempermudah komunikasi, melainkan telah menjadi bagian dari cara manusia belajar, bekerja, berinteraksi, membangun identitas, bahkan membentuk pandangan terhadap kehidupan sosial dan kebangsaan.

Generasi muda hari ini hidup dalam arus informasi yang bergerak begitu cepat. Dalam satu waktu, mereka dapat memperoleh pengetahuan dari berbagai belahan dunia, berinteraksi dengan beragam budaya, sekaligus menjadi bagian dari percakapan publik yang berlangsung tanpa batas geografis.

Perubahan tersebut tentu membawa peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, ruang digital memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk mengembangkan kreativitas, memperluas pengetahuan, membangun jejaring, dan menyuarakan gagasan.

Namun, di sisi lain, ruang yang sama juga dapat menjadi tempat berkembangnya disinformasi, ujaran kebencian, intoleransi, perundungan digital, dan polarisasi. Di tengah derasnya arus tersebut, bangsa Indonesia membutuhkan sebuah titik orientasi yang dapat menjadi kompas moral dan kebangsaan. Di sinilah Pancasila menemukan relevansinya.

Pancasila tidak seharusnya hanya dipahami sebagai lima sila yang dihafalkan di ruang kelas atau diucapkan dalam upacara kenegaraan. Pancasila perlu dibumikan sebagai nilai yang hidup dalam perilaku masyarakat, termasuk dalam kehidupan digital. Karena itu, istilah “episentrum Pancasila” dapat dimaknai sebagai pusat orientasi nilai yang menjadi rujukan generasi muda dalam berpikir, berkomunikasi, mengambil keputusan, dan membangun relasi sosial di tengah perkembangan teknologi.

Membumikan Pancasila berarti membawa nilai-nilainya dari ruang konseptual menuju realitas kehidupan. Nilai Ketuhanan, misalnya, dapat tercermin melalui penghormatan terhadap keyakinan orang lain. Nilai kemanusiaan dapat diwujudkan dengan tidak merendahkan atau melakukan perundungan terhadap orang lain di media sosial.

Nilai persatuan dapat diterapkan dengan tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling membenci. Sementara itu, semangat musyawarah dan keadilan sosial dapat hadir melalui budaya berdiskusi secara sehat, menghargai pendapat, serta memperjuangkan akses yang lebih adil terhadap pengetahuan dan teknologi.

Generasi muda hari ini sedang berada di persimpangan antara kemajuan teknologi dan perubahan sosial yang begitu cepat. Mereka memiliki akses terhadap dunia yang luas, tetapi pada saat yang sama membutuhkan akar yang kuat agar tidak kehilangan arah.

Teknologi dapat membawa manusia ke mana saja, tetapi nilai menentukan ke mana manusia seharusnya melangkah.Pada akhirnya, masa depan Pancasila tidak hanya ditentukan oleh seberapa sering kita mengucapkannya, tetapi oleh seberapa jauh kita mampu menghidupkannya dalam tindakan.

Sebab Pancasila tidak cukup diwariskan dari generasi ke generasi. Pancasila harus terus dihidupkan oleh generasi yang menghadapinya dengan tantangan zamannya sendiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....