Pemetaan Potensi Kunci Utama Pengembangan Wisata Berkelanjutan
- 02 Okt 2026 14:54 WIB
- Langgur
RRI.CO.ID, Langgur - Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Keluatan Universitas Pattimura, Dr. Mintje Wawo, S.Pi.,M.Si, menjelaskan, dirinya menerima undangan Pihak BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) terhadap kegiatan Pelatihan Skema Pembayaran Jasa Ekosistem ( Payment for Ecosystem Service / PES), Pengelolaan Badan Layanan Umum Daerah , dan Wisata berkelanjutan untuk Konservasi Pesisir Berkelanjutan di Maluku Tenggara, Kamis (1/10/2026).
“Mereka mau menyampaikan hasil penelitian tentang kawasan ini, kira-kira objek-objek mana yang bakal jadi Badan Layanan Umum Daerah. Nah kebetulan mereka kaitkan di Maluku Tenggara. Khususnya daerah wisata berkelanjutan, jadi kegiatan ini sejak dari tanggal 24 September sampai 1 Oktober 2026,” katanya.
Dikatakan Wawo, sebelumnya materi telah disampaikan Narasumber yang juga Dosen Fakultas Perikanan, Husein Rifai tentang bagaimana pengembangan pariwisata berkelanjutan. Pariwisata berkelanjutan berbeda dengan wisata-wisata lainnya yang hanya stagnan dan tidak berkesinambungan.
“Pariwisata berkelanjutan itu mereka memperhitungkan faktor keberlanjutan ekologi, sosial ekonomi, dan budaya. Nah 2 hari terakhir ini ada pelatihan, dipandu oleh modul pelatihan pengelolaan wisata berkelanjutan. Tanggal 30 dan tanggal 1 membahas tentang pengelolaan pariwisata berkelanjutan,” ucap Wawo.
Menurutnya, keterlibatan Peserta yang terdiri dari Pelaku UMKM, Kelompok usaha Pariwisata di Maluku Tenggara, yang dikalkulasikan mencapai kurang lebih 40 orang. Topik yang dibagikan menyangkut bagaimana membangun mindset usaha, juga metode strategis untuk memperkuat kapasitas para pelaku usaha.
“Bahwa jangan usaha itu biasa-biasa saja. Jangan usaha itu cuma pengunjung, tapi bagaimana usaha itu bisa menghasilkan ada uangnya. Nah hari ini kebetulan saya di RRI ini, kelompok yang usaha tetapi di jam yang sama juga ada teman yang dari dosen politekik, Pak John Dobo itu beliau kasih tentang khusus untuk kelompok usaha yang diving,” terangnya.
Lebih jauh Wawo mengungkapkan, sasaran materi yang diberikan bagi peserta untuk membangun mindset usaha dalam pengelolaan pariwisata, langkah positif mewujudkan potensi wisata yang berkontribusi bagi kualitas usaha, selain itu berusaha menghasilkan Peta unggulan, dan identifikasi Destinasi yang dapat menarik para pengunjung.
“Tempat wisata yang ada di Maluku Tenggara yang sudah dan bakal ada. Misalnya di kampung ini, di Ohoi ini ada air terjun, tapi belum orang lihat. Kegiatan ini saya mencoba paling tidak meminta peserta kerja kelompok untuk menghasilkan peta. Saya minta tolong mereka untuk coba petakan menurut kalian per kelompok petakan. Kalau sudah jangan tapi cari yang lain,” ujarnya.
Wawo menekankan pada potensi wisata yang belum dikembangkan, dan mengidentifikasi paket wisata, mengedukasi peserta untuk mempraktekan perhitungan pendapatan dan menyikapi peluang usaha di lapangan.
“Saya minta per kelompok buat simulasi, masing-masing bikin kira-kira potensi apa yang ada pendapatannya bagaimana. Lalu menurut mereka kira-kira peluang yang belum dibikin apa Coba kamu bilang,” tuturnya.
Wawo mencoba mengarahkan peserta dapat menghitung satu paket Wisata, misalnya pada satu titik sasaran wisata di Letfuan Paradise, membutuhkan berapa anggarannya, tarif perhari, dan kalkulasi keuntungan yang diperoleh dari tarif yang ditentukan minimal 25 persen.
“Jadi tidak terpisah kayak orang yang bikin enbal sendiri, Menyelam sendiri tapi saya gabungkan. Supaya kalau wisatawan itu, dia tidak mau hitung satu-satu Dia merasa repot tapi dibuat dalam satu paket,” tambahnya.
Materi terakhir kata Wawo, terkait tata kelola keuangan setelah membenahi mindset pelaku usaha, untuk meningkat semangat berusaha, peluang produk dan identifikasi potensi wisata di masing - masing Ohoi di Maluku Tenggara.
“Terakhir tentang Tata kelola keuangan dan rencana pengembangan usaha. Jadi kira-kira mengajar dong jangan sampai uang pribadi tak masuk di dalam uang usaha. Dengan pembukuan sederhana,” pungkasnya.
Wawo menyimpulkan, aspek usaha Wisata, jika terdapat hasil penelitian, pada pelatihan pengelolaan wisata berkelanjutan yang melibatkan peserta diantaranya Pokdarwis, BUMDes, Pengelola usaha-usaha kecil-kecil, yang terlibat telah bekerja selama 1 hingga 2 tahun.
“Saya mengajarkan mereka bagaimana bisa kelola usaha Pentingnya mengelola Usaha. Ada buku kas sederhana Seperti yang di PPT sana Lalu bagaimana Membuat catatan keuangan Bagaimana melakukan pencatatan sederhana. Supaya mereka bisa tahu Mereka ini untung atau rugi atau mereka ambil dari mana Uang masuk keluar itu mesti mereka tahu,”ungkapnya.
Sasaran pelatihan ini lanjut Wawo, guna memberikan pemahaman peserta terkait tatakelola keuangan, mulai penataan Kas terhadap transaksi keuangan yang masuk dan keluar dalam aktivitas usaha selama 1 bulan penuh.
“Karena ini pesertanya kan dari UMKM, bukan Pejabat, bukan pengambil kebijakan. Jadi kami mencoba bagaimana bikin buku kas sederhana saja dengan mencatat tanggal, catat uraian, uang masuk, uang keluar dan menghitung saldo,” paparnya.
Wawo menandaskan, simulasi juga akan dilakukan terkait alokasi harga jual paket dan mengoptimalkan marginal keuntungan bagi keberlangsungan usaha yang berdampak signifikan terhadap kesejahteraan Pelaku Usaha.
“Pasti dalam setiap pelatihan ada harapan-harapan. Misalnya habis kegiatan ini, Peserta bisa tentukan objek wisata, bagaimana di kampung, lalu kita hitung keuangan secara sederhana. Karena kita tahu para pelaku Usaha ini kan punya pengetahuan dari tengah ke bawah, bukan ke atas. Pelatihan ini bisa memotivasi mereka untuk berusaha kedepan,” harap Wawo.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....