Petani Cabai di Lairngangas Menjerit: Pupuk Langka, Air Ada tapi Tak Terjangkau
- 28 Sep 2026 11:13 WIB
- Langgur
RRI.CO.ID, Langgur-Di balik suburnya lahan Ohoi Lairngangas, Kecamatan Manyeuw Maluku Tenggara, petani cabai kecil justru menjerit. Pupuk sulit, air ada tapi tak terjangkau.
Keluhan itu disampaikan Leo Takerubun, petani cabai asal Lairngangas, kepada media ini, Minggu (27/9/2026).
Ia mengaku menggarap lahan cabai berhektar-hektar. Panen tetap ada, dari 2 kilo hingga belasan kilo sekali petik. Namun perawatan jauh dari mudah.
“Kesulitan utama kami itu pupuk dan air,” ujar Leo.
Menurutnya, sumber air sebenarnya dekat dari lahan. Namun medan berat. Air berada di bawah tanjakan curam. Untuk menyiram, petani harus turun-naik tebing mengangkut air secara manual.
“Sumber air dekat, tapi harus naik tanjakan dulu baru bisa ambil. Lahan kami luas, butuh tenaga ekstra,” katanya.
Kondisi ini membuat petani kewalahan. Apalagi jika ingin mengejar untung maksimal, petani harus berani melawan musim. Artinya, penyiraman harus rutin, tidak bisa mengandalkan hujan.
Solusinya, kata Leo, hanya satu: mesin alkon untuk menarik air dari sumber ke lahan. Dengan alkon, tenaga hemat, penyiraman lebih cepat dan merata.
“Kami sangat butuh mesin alkon. Kalau ada mesin, kami bisa siram lebih efisien, hasil bisa lebih maksimal,” tegasnya.
Leo berharap pemerintah daerah, khususnya Dinas Pertanian Maluku Tenggara, tidak tutup mata. Bantuan pupuk dan mesin pompa air sangat dibutuhkan petani kecil untuk bertahan dan berkembang.
“Kami petani kecil. Kami hanya ingin maju demi keluarga. Tolong bantu kami,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....