Produk Perikanan Maluku Perlu Jaminan Mutu untuk Pasar Ekspor

  • 17 Sep 2026 20:50 WIB
  •  Langgur

RRI.CO.ID, Langgur – Produk perikanan Maluku memiliki peluang untuk menembus pasar ekspor, namun pengembangannya tidak cukup hanya mengandalkan produksi. Jaminan mutu, sertifikasi, ketertelusuran, serta pengolahan produk menjadi bagian penting untuk membangun kepercayaan pembeli internasional.

Direktur Politeknik Kelautan dan Perikanan Tual Dr. Usman Madubun mengatakan penguatan mutu harus menjadi bagian dari strategi pengembangan Kepulauan Kei sebagai Fisheries Export Hub kawasan Selatan Maluku-Papua.

Menurut Usman, produk yang akan dipasarkan ke luar negeri harus memiliki jaminan mutu yang dapat meyakinkan pembeli. Pemenuhan sertifikasi juga menjadi bagian dari persyaratan agar produk perikanan dapat diterima di pasar internasional.

“Bagaimana kita meningkatkan mutu, memberikan jaminan mutu kepada pembeli dengan menerbitkan sertifikasi agar para pembeli itu yakin, karena sekarang memang beberapa sertifikasi diperlukan untuk produk-produk itu bisa dipasarkan ke luar,” kata Usman dalam Forum Konsultasi Publik Strategi Mendorong Tata Kelola Logistik dan Peluang Ekspor Produk Perikanan dalam Mendukung Pertumbuhan Ekonomi di Wilayah Maluku, di Aula KPPN Tual, Rabu (16/9/2026).

Usman menjelaskan, penguatan mutu harus berjalan bersama dengan penataan rantai nilai perikanan. Proses tersebut dimulai dari penanganan hasil tangkapan di atas kapal, pusat pengumpulan, penyediaan rantai dingin, pengolahan, pengemasan, hingga pengendalian mutu sebelum produk diekspor.

Selain memenuhi standar mutu, Usman mendorong produk perikanan Maluku tidak lagi hanya dipasarkan dalam bentuk bahan mentah. Pengolahan menjadi produk turunan membuka peluang peningkatan nilai ekonomi sekaligus memperluas pasar ekspor.

“Tuna dan tongkol misalnya bisa kita jadikan tuna frozen, premium cut dan seterusnya, yang pasar ekspornya bisa di Jepang dan Asia, Eropa maupun Amerika,” ujarnya.

Usman mencontohkan rumput laut yang dapat dikembangkan menjadi berbagai produk turunan, seperti karagenan, agar, pangan fungsional, kosmetik hingga bioplastik. Pengolahan tersebut memungkinkan daerah memperoleh keuntungan lebih tinggi dibandingkan hanya menjual bahan mentah.

Ia menambahkan pengembangan Fisheries Export Hub di Kepulauan Kei juga membutuhkan dukungan logistik yang terintegrasi. Produk perikanan dari Maluku Tenggara, Kepulauan Tanimbar, Kepulauan Aru, Papua Barat Daya, Papua Selatan dan wilayah lainnya dapat dikonsolidasikan melalui pusat pengumpulan sebelum diproses dan diekspor.

Untuk mendukung skema tersebut, Usman mendorong penguatan transportasi laut, fasilitas rantai dingin, pusat pengumpulan, industri pengolahan, sertifikasi, serta digitalisasi. Digitalisasi diperlukan untuk menghubungkan nelayan dengan pembeli dan perusahaan sekaligus membantu penataan jadwal kapal serta pencatatan produk.

Usman menyebut Pelabuhan Perikanan Tual dapat dikembangkan sebagai salah satu pusat pengumpulan produk perikanan Kepulauan Kei. Infrastruktur yang sudah tersedia dapat dioptimalkan untuk mendukung fungsi collection center dan memperkuat konektivitas rantai pasok perikanan.

“Jadi Fisheries Export Hub itu ada fungsi processing, ada fungsi kualitas dan sertifikasinya, ada fungsi atau sistem pendinginnya, kemudian ada fungsi pengumpulnya,” katanya.

Sinergi pemerintah, swasta, investor, koperasi, eksportir, lembaga pendidikan, dan pembeli menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem ekspor tersebut. Dengan rantai nilai yang lebih terintegrasi, produk perikanan Maluku diharapkan tidak hanya meningkat dari sisi volume, tetapi juga memiliki nilai tambah dan akses pasar yang lebih luas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....