Potensi Ikan Maluku Besar, Bea Cukai Tual Dorong Ekspor Langsung

  • 17 Sep 2026 13:00 WIB
  •  Langgur

RRI.CO.ID, Langgur – Potensi perikanan Maluku terbuka lebar untuk pasar ekspor, tetapi sebagian hasil perikanan masih dikirim ke Jakarta dan Surabaya sebelum diteruskan ke luar negeri. Kondisi ini membuat nilai tambah dan pencatatan ekspor lebih banyak berada di luar daerah asal komoditas.

Kepala Bea Cukai Tual Wahyu Lafrias mengatakan, peluang untuk mengembangkan ekspor langsung dari Maluku sebenarnya sudah ditopang keberadaan pelaku usaha perikanan di sejumlah wilayah. Tantangannya adalah membangun jalur logistik yang mampu menghubungkan daerah penghasil dengan pasar ekspor secara lebih efisien.

“Mayoritas ikan dari Maluku masih dikirim ke Jakarta atau Surabaya, kemudian diekspor dari sana. Akibatnya pencatatan ekspor tidak berada di Maluku, padahal potensi dan sumber daya ikannya berasal dari wilayah kita,” kata Wahyu dalam Forum Konsultasi Publik Strategi Mendorong Tata Kelola Logistik dan Peluang Ekspor Produk Perikanan dalam Mendukung Pertumbuhan Ekonomi di Wilayah Maluku, di Aula KPPN Tual, Rabu (16/9/2026).

Pelaku usaha perikanan yang berada dalam wilayah kerja Bea Cukai Tual tersebar di beberapa daerah. Kepulauan Aru memiliki sebaran sekitar 21–38,2 persen, Kepulauan Tanimbar 17–30,9 persen, Kota Tual 10–18,2 persen, Maluku Tenggara 5–9,1 persen, dan Maluku Barat Daya 2–3,6 persen.

Sebaran tersebut menunjukkan aktivitas perikanan tidak hanya bertumpu di satu wilayah. Potensi dari daerah-daerah penghasil ini dapat menjadi sumber pasokan untuk pasar ekspor apabila didukung konektivitas, fasilitas penanganan hasil perikanan, serta jalur distribusi yang lebih efisien.

Aktivitas ekspor dari wilayah Maluku sendiri sudah berjalan, salah satunya melalui komoditas ikan kerapu hidup. Data Kinerja Ekspor Wilayah Maluku Januari hingga Juli 2026 mencatat CV Yongfisheries dan CV Indo Marine Fish sebagai eksportir ikan kerapu hidup dengan tujuan Hong Kong.

“Kita memiliki perusahaan-perusahaan yang sebenarnya sudah memiliki potensi untuk masuk ke pasar ekspor. Tinggal bagaimana kita mendorong dan membuka peluang agar kegiatan ekspor itu bisa dilakukan dari wilayah Maluku,” ujarnya.

Menurut Wahyu, persoalan logistik menjadi salah satu hambatan ketika produk perikanan harus melewati daerah lain sebelum mencapai pasar luar negeri. Semakin panjang rantai distribusi, semakin besar pula biaya yang muncul, sementara komoditas perikanan membutuhkan penanganan cepat untuk menjaga kualitas.

Karena itu, penguatan logistik tidak hanya berkaitan dengan kelancaran pengiriman, tetapi juga bagaimana produk perikanan dari daerah penghasil dapat langsung terhubung dengan pasar. Pemerintah daerah, pelaku usaha dan pemangku kepentingan didorong membangun sistem yang mendukung proses tersebut.

“Mari kita sama-sama memperbaiki jembatan tersebut, memperkuat jalurnya dan membangun sistem logistik yang lebih baik sehingga potensi perikanan Maluku tidak hanya berhenti di daerah penghasil, tetapi dapat memberikan nilai tambah melalui ekspor yang tercatat di wilayah kita,” kata Wahyu.

Wahyu berharap forum konsultasi publik dapat mempertemukan kebutuhan pemerintah dan pelaku usaha dalam membenahi hambatan logistik. Dengan jalur distribusi yang lebih efisien, produk perikanan Maluku diharapkan semakin banyak yang dapat menembus pasar internasional secara langsung dari daerah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....