Menteri Nusron Dorong Tradisi Dialektika Berpikir di Politeknik Agraria STPN
- 08 Sep 2026 13:25 WIB
- Langgur
RRI.CO.ID, Langgur - Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, menekankan pentingnya menjaga tradisi dialektika berpikir di lingkungan akademik Politeknik Agraria STPN. Menurutnya, keberagaman pemikiran dapat memperkaya wawasan mahasiswa melalui ruang akademik yang terbuka terhadap berbagai pandangan.
“Tradisi dialektika berpikir tidak boleh mati di mana pun kita berada,” ujar Nusron saat memberikan sambutan dalam Kuliah Umum di Politeknik Agraria STPN, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat (4/9/2026). Kuliah umum tersebut menghadirkan Rocky Gerung sebagai salah satu narasumber.
Nusron mengatakan, meskipun Politeknik Agraria STPN merupakan kampus semi-kedinasan, lingkungan akademik harus tetap memberikan ruang bagi berbagai pemikiran, termasuk pandangan yang kritis terhadap negara maupun kebijakan pemerintah. Ia meminta pihak kampus tidak segan mengundang tokoh dari berbagai latar belakang untuk memperkaya proses pembelajaran.
Menurut Nusron, perbedaan pemikiran justru dapat memperluas wawasan apabila setiap pihak diberikan ruang untuk menyampaikan dan mempertukarkan gagasannya. Ia menggambarkan hal tersebut melalui “filsafat apel” yang dikaitkan dengan pemikiran Bernard Shaw.
“Kalau ada dua orang, saya sama Rocky, masing-masing punya sebuah apel, kemudian kita tukarkan masing-masing apel kita, maka jadinya tetap sama, masing-masing tetap hanya memiliki satu buah apel,” jelas Nusron. Namun, menurutnya, pertukaran pemikiran berbeda karena setiap orang dapat memperoleh perspektif baru dari gagasan yang dipertukarkan.
“Kalau kita mempunyai dua pemikiran yang berbeda, kemudian pemikiran itu kita saling tukarkan, maka jadinya kita mempunyai dua buah pemikiran yang berbeda,” tutur Nusron. Ia berharap tradisi kuliah umum dan dialektika berpikir dapat menjadi ruang berbagi pendapat yang memperkaya cara pandang para Taruna/i Politeknik Agraria STPN.
Kuliah umum mengangkat tema “Tanah, Negara, dan Rakyat: Memaknai Kembali Transformasi Pelayanan Pertanahan dalam Perspektif Kebangsaan”. Dalam kesempatan tersebut, Rocky Gerung menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya perdebatan sebagai bagian dari proses pertukaran pemikiran.
“Pikiran, kuliah umum, kalau tidak ada yang bantah, dia jadi doa. Doa nggak boleh dibantah, pikiran harus dibantah. Itu bedanya,” ujar Rocky Gerung. Ia juga menjelaskan pendekatan filosofis yang digunakan untuk mengajak peserta melihat kembali akar dari berbagai konsep dan pemikiran.
Rocky mengatakan, pendekatan filosofis diperlukan untuk membongkar akar pemikiran agar berbagai konsep dapat dipahami secara lebih mendalam. Menurutnya, membongkar tanah untuk menemukan akar dapat dianalogikan dengan membongkar pikiran agar tidak ada gagasan yang tersembunyi secara politis.
Di hadapan lebih dari 500 Taruna/i Politeknik Agraria STPN, Rocky juga memaparkan tiga pemaknaan mengenai pengelolaan tanah. Bagi masyarakat adat, tanah memiliki nilai magis karena berkaitan dengan kehidupan dan warisan leluhur, bagi negara tanah memiliki fungsi sosial melalui pengaturan dan hukum, sedangkan bagi korporasi tanah dipandang sebagai komoditas yang memiliki nilai bisnis.
Kuliah umum tersebut diikuti sejumlah Pejabat Pimpinan Tinggi Madya dan Pratama Kementerian ATR/BPN, Plt. Direktur Politeknik Agraria STPN, seluruh Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi beserta jajaran, serta lebih dari 500 Taruna/i Politeknik Agraria STPN. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ruang akademik dan tradisi pertukaran gagasan di lingkungan Politeknik Agraria STPN.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....