Mengenang Akar Sejarah Lahirnya Polisi Wanita
- 01 Sep 2026 10:02 WIB
- Tual
RRI.CO.ID, Langgur - Peringatan Hari Polisi Wanita (Polwan) setiap tanggal 1 September tidak bisa dilepaskan dari lembaran sejarah perjuangan fisik bangsa Indonesia pada masa awal kemerdekaan tahun 1948, di tengah situasi keamanan nasional yang masih penuh tekanan akibat konfrontasi yang belum reda dengan pihak Belanda.
Dilansir dari wikipedia, krisis keamanan tersebut memicu arus perpindahan serta pengungsian penduduk secara besar-besaran ke berbagai daerah, termasuk wilayah Sumatera Barat yang kala itu memegang peranan strategis dalam pusat pertahanan kedaulatan negara. Di tengah gelombang pengungsian ini, jajaran Djawatan Kepolisian Negara menghadapi kendala operasional yang pelik di lapangan, yakni keharusan melakukan pemeriksaan fisik terhadap para pengungsi perempuan guna mengantisipasi potensi ancaman penyusupan unsur-unsur provokatif maupun spionase musuh.
Kendala etika dan norma kesopanan muncul tatkala pemeriksaan terhadap kaum perempuan harus dilakukan oleh aparat penegak hukum laki-laki, yang kerap menimbulkan kecanggungan sosial di tengah masyarakat. Menjawab urgensi tersebut, Cabang Djawatan Kepolisian Negara untuk Sumatera yang berkedudukan di Bukittinggi mengambil langkah progresif dengan membuka rekrutmen khusus dan pendidikan kepolisian bagi kaum perempuan.
Tonggak sejarah itu resmi tertancap pada tanggal 1 September 1948, ketika enam orang perempuan terpilih mulai mengikuti pendidikan Inspektur Polisi di Sekolah Polisi Negara (SPN) Bukittinggi, berdampingan dengan puluhan siswa laki-laki. Kendati proses belajar mengajar sempat terhenti akibat gelombang Agresi Militer Belanda II pada Desember 1948, semangat juang para perintis tersebut tidak surut hingga akhirnya pendidikan mereka dituntaskan di SPN Sukabumi, Jawa Barat, dan lulus bertugas pada tahun 1951.
Keenam perempuan pionir tersebut—Mariana Saanin, Nelly Pauna, Rosmalina Loekman, Dahniar Sukotjo, Djasmainar, dan Rosnalia Taher—tidak hanya sukses mendobrak dominasi maskulin di institusi penegak hukum, tetapi juga meletakkan fondasi profesionalisme kaum hawa dalam menjaga keamanan serta pelayanan masyarakat. Warisan keberanian mereka kini telah berkembang menjadi jalan lapang bagi ribuan personel Polwan yang mendedikasikan diri untuk kemajuan Kepolisian Republik Indonesia di era modern.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....