Ini Hukum Mencela Makanan Dalam Islam

  • 26 Agt 2024 22:53 WIB
  •  Lhokseumawe

KBRN, Lhokseumawe : Dalam Islam, adab makan merupakan salah satu bagian penting dari kehidupan sehari-hari yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Salah satu ajaran penting yang selalu ditekankan oleh Rasulullah adalah larangan mencela makanan.

Dalam berbagai riwayat hadis, Rasulullah SAW mencontohkan sikap santun dan penuh syukur dalam menghadapi makanan yang disajikan, terlepas dari selera pribadi beliau.Salah satu hadits yang menceritakan akhlak Rasulullah SAW tersebut bersumber dari kitab Para Nabi bab Sifat Nabi SAW (9/477) dan kitab Minuman bab Tidak Boleh Mencela Makanan (2064). Diceritakan oleh Abu Hurairah RA,


مَا عَابَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ طَعَامًا قَطُّ: إِنِ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ، وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ


Artinya: "Rasulullah saw. tidak pernah mencela makanan. Jika beliau menyukai terhadap suatu makanan, maka beliau memakannya. Dan jika beliau tidak menyukainya, beliau meninggalkannya." (Muttafaq'alaih)

Imam an-Nawawi dalam Syarah Riyadhus Shalihin Jilid 2 menyebutkan, hadits tersebut menunjukkan bahwa mencela makanan termasuk dalam sifat sombong sekaligus penghinaan terhadap nikmat. Sebaliknya, memuji makanan menjadi bukti rasa suka dan bersyukur.

Melalui Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Imam Nawawi juga memberi contoh beberapa bentuk celaan terhadap makanan yang dimaksud dalam hadits sebelumnya. Celaan yang dimaksud di antaranya yakni, "Ini keasinan"; "Kurang asin"; "Kecut"; "Terlalu lembut"; "Masih kasar"; "Belum masak"; dan semisalnya.

Meski demikian, Syarh Riyadh Ash Shalihin menambahkan, memberi kritikan pada masakan berbeda dengan mencela makanan. Memberi kritikan memiliki tujuan agar masakan yang telah dibuat dapat diperbaiki.

"Misalnya dengan berkata, 'Hari ini masakanmu terlalu banyak garam, terlalu pedas, atau semacam itu.' Yang disebutkan ini bukan maksud menjelekkan makanan," bunyi keterangannya yang diterjemahkan H. Brilly El-Rasheed dalam Al-Anfal: Syarah Ijmal 300 Hadits.

Larangan mencela makanan ini mengandung pesan moral yang mendalam bagi umat Islam. Sikap mencela makanan dapat mencerminkan ketidak kebersyukuran terhadap nikmat yang telah Allah SWT berikan. Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk selalu bersyukur dan menghargai setiap rezeki yang diterima, sekecil apapun itu. Dengan tidak mencela makanan, kita diajarkan untuk menghormati usaha orang lain yang telah menyiapkan makanan tersebut dan menjaga perasaan mereka.

Lebih dari itu, larangan mencela makanan juga mengajarkan kita untuk lebih berhati-hati dalam berbicara. Kata-kata negatif yang dilontarkan, meskipun terlihat sepele seperti mencela makanan, dapat membawa dampak buruk, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Rasulullah SAW selalu menekankan pentingnya menjaga lisan dari ucapan yang tidak baik, dan salah satu bentuk penerapannya adalah dengan tidak mencela makanan yang disajikan.

Oleh karena itu, teladan Rasulullah SAW dalam hal ini menjadi pelajaran penting bagi setiap Muslim. Menjaga adab makan dengan tidak mencela makanan bukan hanya bentuk penghormatan terhadap rezeki yang diberikan oleh Allah SWT, tetapi juga mencerminkan akhlak mulia yang harus dimiliki setiap Muslim. Dengan menerapkan ajaran ini, kita dapat hidup lebih bersyukur, rendah hati, dan menjaga hubungan baik dengan sesama.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....