Makna Filosofis Suap-Suapan dalam Pernikahan Adat Palembang

  • 27 Jun 2024 17:47 WIB
  •  Palembang

KBNR, Palembang : Pernikahan merupakan momen yang sarat dengan makna dan ritual, menandai perpisahan orang tua untuk melepaskan tanggung jawab anak kepada pasangannya.

Di Palembang, prosesi adat pernikahan mengandung berbagai upacara unik, salah satunya adalah suap-suapan dan cacap-cacapan, yang banyak digunakan oleh masyarakat setempat.

Menurut adat Palembang, upacara suap-suapan dan cacap-cacapan idealnya dilaksanakan di atas ranjang adat, namun seiring perkembangan zaman, prosesi ini juga dapat dilakukan dengan duduk di kursi. Kasur adat atau papan pasangan merupakan simbol bahtera yang akan mengantarkan kedua mempelai menuju pulau harapan.

Suap-suapan dalam prosesi adat pernikahan Palembang memiliki arti tersendiri.

Yuyun Mahyuni, seorang pemandu acara adat pernikahan Palembang, mengungkap makna penting di balik prosesi ini.

"Suap-suapan bermakna suapan terakhir dari orang tua dan sesepuh keluarga. Kalau selama ini tanggung jawab anak perempuan, mulai dalam kandungan hingga dewasa dan akhirnya diantarkan menuju pintu gerbang rumah tangga berada di tangan orang tua, maka dengan ritual pernikahan, tanggung jawab tersebut berpindah kepada suaminya," ungkap Yuyun kepada RRI, Kamis (27/6/2024).

Upacara adat suapan dilaksanakan oleh kaum ibu dalam jumlah ganjil, seperti 3, 5, 7, atau 9 orang. Para peserta terdiri dari ibu pengantin laki-laki, ibu pengantin wanita, serta kerabat perempuan dari kedua mempelai, seperti nenek atau bibi. Kesempatan menyuap juga bisa dipercayakan kepada tamu spesial dari kaum perempuan yang menghadiri prosesi adat tersebut.

Menu suap-suapan adalah nasi kunyit ayam panggang. Ada tata cara tersendiri yang harus dilakukan dalam prosesi ini. "Diawali dengan mencuci tangan terlebih dahulu, kemudian mengambil sejumput nasi kunyit ayam panggang, atau dapat juga dikombinasikan dengan lauk lainnya dengan ukuran sekali suap yang memadai untuk kedua mempelai. Lalu disuapkan ke kedua mempelai dengan pemberian suapan secara silang. Ibu mempelai wanita akan menyuapi mempelai pria terlebih dahulu, baru kemudian menyuapi mempelai wanita. Begitupun sebaliknya. Maknanya, supaya rezeki tidak terputus, kasih sayang ke anak dan menantu itu sama," jelas Yuyun.

Setelah itu, kedua mempelai diberi minum air putih. Makna di balik warna putihnya air yang diminum adalah sebagai simbol doa dan harapan seluruh keluarga besar dan orang tua. "Air putih itu simbol kemurnian dan kesucian, seperti murni dan sucinya hati orang tua yang tak lekang oleh masa. Derasnya air mengalir juga diharapkan akan menunjukkan derasnya rezeki kedua mempelai nantinya," tambah Yuyun.

Setiap unsur dalam menu suap-suapan memiliki makna tersendiri. Warna kuning dari nasi kunyit merupakan lambang keagungan. Sementara ketan yang bersifat lengket diharapkan dapat mengikat silaturahmi dua keluarga besar. Rasa gurih yang berasal dari santan melambangkan cita rasa yang gurih, enak, dan sangat menyenangkan.

Ayam panggang dalam menu suap-suapan juga memiliki makna filosofis. "Ayam itu laksana sebuah pepatah ayam kehilangan induknya. Induk ayam itu mengayomi dan menyayangi. Ayam juga bermakna cikal bakal kehidupan yang akan memberikan keturunan selanjutnya," pungkas Yuyun.

Dengan demikian, suap-suapan dalam prosesi adat pernikahan Palembang bukan sekadar ritual, tetapi juga simbol perpindahan tanggung jawab dan harapan akan kehidupan yang penuh kebahagiaan dan keberkahan bagi kedua mempelai serta keluarganya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....