Seminar Internasional Universitas PTIQ, Perkuat Wawasan Studi Al-Qur’an

  • 25 Jun 2024 10:05 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Memperkuat wawasan tentang studi Al-Qur’an, Universitas PTIQ selenggarakan seminar internasional, Selasa (25/6/2024). Acara merupakan bagian dari rangkaian acara “1st PTIQ International Quranic Studies Conference” di Auditorium Universitas PTIQ Jakarta.

Ketua Pelaksana Conference, Dr. Abd Muid Nawawi, menyatakan, kegiatan bertujuan untuk membuktikan bahwa umat nabi Muhammad adalah penjaga Al-Qur'an. “Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka membuktikan, bahwa kita adalah para penjaga Al-Qur’an," ujarnya.

Pembicara kegiatan, Prof. M. Darwis Hude menekankan pentingnya keberagaman perspektif dalam memahami dan menafsirkan Al-Qur’an. “Dalam tradisi tafsir Al-Qur’an, jangan heran jika banyak pandangan yang tidak sama dengan pandangan umum," ujar Direktur Pascasarjana Universitas PTIQ Jakarta ini.

Sementara narasumber pertama, Prof. Mun’im Sirry, berargumen, Al-Qur’an bukan hanya kalamullah tetapi juga kalam nabi. “Allah hanya mewahyukan maknanya, tetapi secara bahasa dinarasikan oleh Nabi dan kita kehilangan percakapan intelektual yang tidak mau melihat kompleksitas," ujar Professor of Islamic Studies dari University of Notre Dame, USA ini.

Narasumber kedua, Muhammad Nuruddin, membantah argumen Prof. Mun’im Sirry tersebut. Dengan mengutip dalil-dalil Al-Qur’an dan pendapat para ulama, beliau menyatakan rujukan-rujukan Prof. Mun’im Sirry tidak tepat.

“Tidak ada dalil Al-Qur’an yang digunakan oleh Prof. Mun’im Sirry. Kemudian, saya juga menyampaikan ayat Al-Qur’an yang mengancam mereka yang menyebutkan Al-Qur’an adalah ucapan manusia dengan neraka syakar," ucap Director of Darul Archam Islamic Boarding School, Indonesia ini.

Narasumber ketiga, Dr. Mikdar Rusdi, cenderung sepakat dengan Muhammad Nuruddin. "Pengkajian tentang pemahaman Al-Qur’an haruslah berkaitan dengan kemajuan," kata dosen dari Kolej Universiti Perguruan Ugama Seri Begawan, Brunei Darussalam ini.

Dalam responsnya, Prof. Mun’im Sirry menyampaikan kritik terhadap pandangan Muhammad Nuruddin. “Kesalahan Nuruddin adalah karena cara pandang yang salah, karena menurutnya cara pandang itu hanya ‘either or fallacy’, tanpa memikirkan pandangan alternatif," ucapnya.

"Selain itu, ayat tentang ancaman ‘neraka syaqor’ adalah ucapan orang-orang musyrik. Yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah ucapan nabi dan tidak berdasarkan wahyu."

"Sedangkan saya dan juga para ulama yang berpendapat bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah wa kalamu rasulillah. Berpandangan bahwa tetap, Al-Qur’an pun adalah kalamullah, berbeda dengan yang dituduhkan kaum musyrik.”

Menanggapi hal tersebut, Muhammad Nuruddin menegaskan kembali posisinya. “Saya belajar ilmu logika tidak menemukan adanya either or fallacy yang ada justru hukum kontradiksi, bahwa dua hal yang bertentangan itu tidak mungkin terhimpun," ujarnya.

"Contohnya, apakah mungkin ‘ini PTIQ dan ini bukan PTIQ dan kemungkinan ketiga’. Jadi ketika ada pernyataan ini PTIQ, maka pernyataan ini bukan PTIQ itu salah.”

Seminar ini diakhiri dengan sesi tanya jawab yang sangat dinamis. Menunjukkan tingginya antusiasme dan minat peserta terhadap topik yang dibahas.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....