Panduan untuk Hidup yang Tenang dan Damai
- 10 Jun 2024 20:58 WIB
- Kediri
KBRN, Kediri : Kehidupan di dunia tidak akan berjalan mulus, sudah menjadi ketetapan dari Allah bahwa semua manusia akan diuji dalam hidupnya. Tugas kita hanya bersabar, bertahan, dan berdoa memohon petunjuk sampai ujian itu berlalu dan berganti dengan ujian lain.
Ketika kehidupan tidak berjalan sesuai rencana atau harapan kita, mencari kedamaian dapat menjadi tantangan yang nyata. Namun, dalam keadaan ketidakpastian dan kekecewaan, ada langkah-langkah yang dapat diambil untuk meraih ketenangan batin.
Dalam sebuah kesempatan wawancara dengan RRI, Ustadz M. As’ad Effendy memberikan beberapa hal yang membuat manusia bisa menerima ketentuan dari Allah. “Jika saya rangkum secara garis besarnya, kurang lebih ada 5 prinsip dasar agar kita bisa nrimo ing pandum (menerima apa yang diberikan) atas pemberian dari Allah termasuk ujian hidup.” Ucap Ustadz As’ad.
1. Memahami bahwa di dunia ini tidak ada yang abadi.
Memahami bahwa di dunia ini tidak ada yang abadi adalah suatu pengakuan akan kenyataan bahwa segala sesuatu di alam semesta ini, termasuk kebahagiaan, kesedihan, dan perubahan, adalah bagian dari suatu siklus yang tidak pernah berhenti.
2. Yakini bahwa apapun yang terjadi itu sudah tertulis.
Yakini bahwa apapun yang terjadi itu sudah tertulis adalah sebuah penerimaan akan takdir dan kepercayaan pada kekuatan yang lebih besar yang mengatur alur kehidupan. Hal ini mengajarkan kita untuk menerima setiap peristiwa dengan ketenangan, meskipun kita memiliki kendali atas tindakan dan reaksi kita, ada kekuatan luar biasa yang membimbing jalannya.
3. Ada hal yang tidak bisa kita kendalikan, jadi kita harus menerimanya.
Terdapat elemen-elemen dalam kehidupan yang terletak di luar kendali kita, penting bagi kita untuk belajar menerimanya. Ini adalah pengakuan akan keterbatasan kita sebagai manusia dan penghormatan terhadap kompleksitas alam semesta yang terus berubah.
Dengan menerima bahwa tidak semua hal dapat kita kendalikan, kita dapat mengalihkan fokus kita pada hal-hal yang dapat kita pengaruhi dan belajar beradaptasi dengan situasi yang ada.
4. Melakukan penyerahan diri terhadap apa yang belum terjadi dan yang sudah terjadi.
Melakukan penyerahan diri terhadap apa yang belum terjadi dan yang sudah terjadi adalah suatu bentuk pembebasan mental dan emosional. Ini melibatkan melepaskan kontrol yang berlebihan terhadap masa depan, serta melepaskan diri dari beban penyesalan atau kekecewaan atas masa lalu. Dengan penyerahan diri, kita mengakui bahwa ada kekuatan yang lebih besar yang mengatur aliran kehidupan, dan bahwa kebahagiaan sejati dapat ditemukan dalam penerimaan akan apa yang ada di sini dan sekarang.
5. Melakukan penguatan dengan berdo’a, tugas kita itu tawakal dan berdo’a.
Melakukan penguatan dengan berdo'a adalah cara untuk menghubungkan diri dan mencari ketenangan dalam kepercayaan kepada Allah Yang Maha Kuasa. Dalam melakukan tugas kita, yang penting bukan hanya usaha dan kerja keras, tetapi juga sikap tawakal, yaitu melepaskan hasil akhir kepada kehendak Ilahi.
Dengan berserah diri melalui do'a, kita menyadari bahwa segala sesuatu terjadi sesuai dengan rencana-Nya yang lebih besar, dan kita memohon bimbingan-Nya dalam setiap langkah yang kita ambil. Ini adalah kombinasi antara usaha maksimal dan keyakinan bahwa hasil akhirnya akan ditentukan oleh kebijaksanaan yang lebih tinggi.
Semoga dengan memahami dan mengerjakan beberapa hal diatas bisa menjadikan kita lebih dekat dengan Allah dan membuat hidup kita menjadi tenang. Ustadz As’ad mengatakan “Dalam hidup kita tidak hanya bertemu titik dan tanda seru saja, tapi juga koma, dan tanda tanya. Itu artinya banyak hal yang akan kita alami di dunia ini.”
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....