Mengenal Makna Jenis Buah-buahan dalam Ritual Modutu
- 21 Feb 2024 18:47 WIB
- Gorontalo
KBRN, Gorontalo : Gorontalo merupakan salah satu daerah yang masih menggunakan sastra lisan seperti puisi, syair, bahkan mantra, beserta benda-benda adat yang diperlukan dalam pelaksanaan berbagai ritual, baik ritual adat maupun ritual keagamaan. Ritual ini dilakukan secara turun- temurun baik di daerah perkotaan dan terlebih lagi di daerah pedesaan. Ritual ini dalam prakteknya selalu melibatkan berbagai aspek, mulai dari orang tua, dewasa, remaja, dan
bahkan anak-anak usia dini.
Ritual modutu merupakan salah satu rangkaian prosesi upacara pernikahan yang dilaksanakan sebelum acara puncak yang disebut dulahunika atau ‘hari pernikahan’ dimana dilaksanakan ijab qobul. Melalui ritual ini semua kebutuhan yang digunakan untuk kepentingan pelaksanaan acara puncak termasuk ongkos pernikahan diantarkan dalam bentuk ritual kepada pihak mempelai perempuan sebagaimana sistem yang berlaku selama ini di masyarakat Gorontalo.
Adapun benda-benda adat yang diantarkan itu dibicarakan terlebih dahulu oleh kedua belah pihak yang diwakili oleh masing-masing juru bicara melalui pertemuan yang disebut duulohupa ‘musyawarah’. Musyawarah dilaksanakan di tempat atau rumah kediaman mempelai perempuan. Pada acara musyawarah tersebut, biasanya pihak mempelai laki-laki akan memberikan gambaran kisaran jumlah ongkos pernikahan beserta hal-hal lainnya yang telah dipersiapkan untuk menjadi tanggungan mereka.
Ritual hantaran atau modutu di atas terdapat berbagai material yang dalam bahasa Gorontalo disebut depito dutu “isi hantaran”. Isi hantaran yang dijadikan sasaran ritual adalah mahar atau mas kawin, ongkos penyelenggaraan pernikahan, dan perangkat adat (sirih/pinang, dan beraneka macam buah). Semua material adat itu dikemas dalam berbagai bentuk yang menandakan bahwa setiap kemasan memiliki makna serta nilai yang dapat dijadikan pedoman hidup bagi kedua mempelai terutama dalam menjalani kehidupan berumah tangga.
Perangkat adat yang bersyarat dalam ritual modutu adalah terkait dengan aneka buah atau hungoloayu ‘aneka buah’. Buah-buahan yang dijadikan persyaratan adalah buah yang memiliki nilai dan makna. Adapun jenis buah-buahan yang dijadikan perangkat adat dalam ritual modutu gorontalo seperti yang dikutip dalam jurnal "pengenalan makna dan simbol perangkat tanaman adat dalam ritual modutu antaran gorontalo", hasil penelitian Ellyana Hinta dan rekan-rekannya, mahasiswa/mahasiswi Fakultas Sastra dan Budaya UNG, yaitu :
1. Tumula atau ‘tunas kelapa’
Bermakna sebagai biisalawa yang berarti “pembicaraan awal”. Kata “awal” diambil dari istilah “tunas”, karena “tunas” dalam bahasa Gorontalo tumula bermakna “mengawali”. Jadi tumula dalam ritual ini
dipadankan dengan kata “pembicaraan, kesepakatan, atau ikrar”, yang telah disampaikan dihadapan khalayak dan sanak keluarga sehubungan dengan pelaksanaan prosesi akad nikah pada hari pernikahan.
2. Limubongo atau ‘jeruk Bali’
Limu merupakan nama buah yang kemudian dimaknai dalam bahasa Gorontalo menjadi limomota artinya ‘sempurna’. Kata sempurna atau kesempurnaan diharapkan agar seseorang baik yang akan dilamar maupun sang pelamar dapat dikatakan sebagai orang yang sempurna tanpa ada cacat celah atau kekurangan sedikitpun.
3. Langge atau ‘nangka’
Simbol buah langge dimaknai pula dari aspek istilah. Langge diartikan sebagai kata yang memiliki makna langgelo. Istilah langgelo dalam bahasa Gorontalo artinya ‘melihat ke atas’. Melihat keatas yang dimaksudkan dengan istilah ini bukan saja berarti menjadikan diri sebagai orang yang angkuh atau sombong karena kerapkali membandingkan dirinya dengan orang yang lebih tinggi status sosialnya. Akan tetapi melihat keatas dalam hal ini bemakna bahwa setiap gerak-gerik hendaknya akan selalu berpegang teguh pada aturan Allah SWT sebagaimana yang dicontohkan oleh baginda Nabi besar Muhammad SAW.
4. Nanati atau ‘nenas’
Istilah nanati memiliki penggalan kata yakni nana yang bermakna ‘ibu’. Artinya orang yang sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia sehingga patut dihargai dan dihormati. Pada hakekatnya ritual dutu ini merupakan bukti penghormatan dari pihak yang melamar terhadap orang yang akan dilamar.
5. Patodu atau ‘tebu’
Istilah patodu dalam bahasa Gorontalo artinya ‘tebu’ memiliki padanan
kata po’olingalio yang berarti ‘pemanis’. Sebuah pengharapan dari makna
ini ialah ketulusan dari kedua belah pihak yang ditandai dengan ekspresi wajah yang berseri sehingga terlihat gerak-gerik, karakter yang bermuka manis. Makna yang lebih utama adalah bahwa orang yang
melakukan pelamaran mengharapkan agar seorang wanita yang akan dilamar senantiasa bermanis hati di samping bermanis wajah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....