Penjelasan Grooming, Cerita Kelam Aurelie dalam 'Broken Strings'
- 11 Jan 2026 12:39 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Aurelie Moeremans menuangkan pengalaman paling gelap dalam hidupnya melalui buku berjudul ‘Broken Strings’. Dalam memoir tersebut, dia secara terbuka menceritakan bagaimana dirinya menjadi korban grooming sejak usia remaja.
‘Broken Strings’ bukan sekadar kisah personal, melainkan pengakuan tentang proses manipulasi emosional yang berlangsung perlahan. Aurelie menggambarkan bagaimana sosok yang terlihat peduli dan memberi perhatian justru membangun kontrol atas dirinya.
Melalui buku ini, Aurelie ingin menunjukkan bahwa grooming tidak selalu datang dalam bentuk ancaman atau kekerasan langsung. Sebaliknya, ia sering hadir lewat sikap manis, perlindungan semu, dan kedekatan emosional yang tampak aman.
Melansir dari berbagai sumber, secara umum, grooming adalah pola perilaku terencana untuk membangun kepercayaan korban sebelum melakukan eksploitasi. Perilaku tersebut disengaja untuk membangun hubungan, mendapatkan kepercayaan, lalu memanipulasi atau mengendalikan seorang anak atau orang rentan.
Pelaku grooming biasanya memulai dengan pendekatan yang terlihat positif. Mereka memberi pujian, dukungan, atau rasa aman yang dibutuhkan korban.
Tahap berikutnya adalah membangun kedekatan emosional yang intens. Korban dibuat merasa spesial dan dianggap sebagai satu-satunya yang dipahami.
Dalam banyak kasus, pelaku juga berusaha mengisolasi korban dari lingkungan sekitarnya, seperti keluarga atau teman. Isolasi ini membuat korban semakin bergantung dan sulit meminta bantuan.
Grooming tidak selalu mengandung unsur seksual di awal. Justru manipulasi psikologis menjadi kunci utama dalam proses ini.
Menurut lembaga perlindungan anak internasional, grooming sering kali tidak disadari oleh korban. Korban baru menyadari ketika batasan pribadi mereka sudah terkikis.
Grooming dapat terjadi secara langsung maupun melalui media digital. Korban sering kali tidak menyadari bahwa mereka sedang dimanipulasi hingga dampaknya terasa jauh kemudian.
Pengalaman yang diceritakan Aurelie dalam ‘Broken Strings’ mencerminkan pola tersebut secara nyata. Dia menunjukkan bagaimana grooming meninggalkan trauma jangka panjang yang tidak mudah disembuhkan.
Lewat bukunya, Aurelie berharap kisahnya bisa membuka mata banyak orang. ‘Broken Strings’ menjadi pengingat bahwa grooming adalah kejahatan yang sering tersembunyi, namun sangat merusak.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....