Arti Kode S dan L Peta Cuaca

  • 31 Des 2025 12:35 WIB
  •  Lhokseumawe

KBRN, Lhokseumawe: Memahami peta cuaca merupakan langkah krusial dalam mitigasi bencana hidrometeorologi di Indonesia. Berdasarkan standar operasional Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), terdapat sejumlah kode penting yang digunakan untuk memantau pergerakan badai dan massa udara di wilayah kepulauan. Dua di antaranya yang paling sering muncul adalah kode L dan S.

1. Kode L (Low Pressure Area)

Menurut penjelasan teknis dari Tropical Cyclone Warning Centre (TCWC) Jakarta, simbol L pada peta cuaca merujuk pada Area Tekanan Rendah. Kode ini menandakan wilayah tempat udara berkumpul dan bergerak naik, sehingga memicu pembentukan awan hujan tebal.

Kode L sering disebut sebagai “alarm awal” bagi pelaut dan masyarakat pesisir. Wilayah tekanan rendah merupakan tempat lahirnya bibit siklon tropis. Jika tekanan udara di pusat area ini terus menurun, maka potensi hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi di wilayah sekitarnya akan semakin meningkat.

2. Kode S (Storm atau Cyclone)

Simbol S digunakan untuk menandai Siklon Tropis yang sudah aktif. Mengacu pada pedoman World Meteorological Organization (WMO), kode S diberikan apabila kecepatan angin maksimum di sekitar pusat badai telah stabil di atas 64 kilometer per jam.

Berbeda dengan kode L yang masih berupa gangguan cuaca, kode S menunjukkan sistem badai yang telah matang dan memiliki daya rusak tinggi. Dampaknya dapat berupa angin ekstrem, hujan deras berkepanjangan, hingga gelombang laut tinggi atau storm surge yang membahayakan wilayah pesisir.

3. Kode Angka pada Bibit Siklon

Selain huruf, BMKG juga menggunakan kode angka seperti 94S, 97W, atau 98S. Angka 90 hingga 99 menunjukkan urutan bibit siklon yang dipantau dalam satu musim. Huruf di belakangnya menandakan wilayah samudera, seperti S untuk Samudera Hindia dan W untuk Pasifik Barat.

4. Garis Konvergensi dan Kode Warna

Dalam laporan kebencanaan, kode-kode ini sering disertai garis putus-putus yang menandakan daerah konvergensi atau pertemuan angin. Meski pusat badai berada di laut, efek tarikannya dapat memicu hujan lebat berkepanjangan di daratan Indonesia.

Dengan memahami kode cuaca resmi BMKG, masyarakat diharapkan lebih waspada dan mampu melakukan langkah antisipasi sejak dini sebelum cuaca ekstrem berkembang menjadi bencana.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....