Terapi dan Doa, Ciri Pengobatan Alternatif Bina Warga
- 30 Des 2025 06:12 WIB
- Yogyakarta
KBRN, Sleman: Mengedepankan pendekatan spiritual, dipadukan dengan terapi fisik dan ramuan tradisional merupakan metode yang diterapkan Pengobatan Alternatif Bina Warga dari awal berdiri hingga kini. Didirikan oleh KH. Umarul Yahya Al Faruq, Pengobatan alternatif Bina Warga berada satu lokasi di Pondok Pesantren Asyifa Al Barokah, di Sukunan, Banyuraden, Gamping, Sleman.
Ervanda Danang Setiawan, S.M, Pimpinan Pengobatan Alternatif Bina Warga yang juga merupakan anak kandung KH. Umarul Yahya Al Faruq, didampingi Ngahadi, S.M, M.Pd. Kepala MTs Asyifa Al-Barokah menjelaskan bahwa doa merupakan inti dari seluruh proses pengobatan. Doa dilakukan secara bersama-sama, disertai pembacaan asma dan ruqyah, yang pada dasarnya memiliki tujuan yang sama, yakni memohon kesembuhan kepada Allah SWT.
“Penyebutannya bisa beda-beda, ada yang bilang ruqyah, doa bersama, atau asma. Intinya mendoakan,” ujar Ngahadi.
Doa tersebut kemudian disertai dengan terapi pijat dan pemberian jamu tradisional. Pengobatan ini terbuka untuk umum dan dilaksanakan secara rutin setiap hari Rabu dan Ahad. Pasien datang dari berbagai daerah, bahkan dari luar Yogyakarta, dengan beragam keluhan kesehatan.
Seluruh layanan pengobatan diberikan secara gratis. Biaya pendaftaran sebesar Rp20.000 yang dikenakan kepada pasien baru sepenuhnya dialokasikan untuk kemaslahatan pesantren, termasuk kebutuhan konsumsi santri dan operasional pendidikan.
"Kalau pengobatan ini berbayar dan tidak jujur, tidak mungkin bisa bertahan puluhan tahun,” kata Ngahadi.
Ia menekankan bahwa keberlanjutan pengobatan ini adalah buah dari keikhlasan dan kepercayaan jamaah. Metode Pengobatan Alternatif Bina Warga KH. Umarul Yahya Al Faruq, di antaranya melalui:
· Spiritual dan Keagamaan: Dimulai dengan pembacaan shalawat, doa, dan pengajian singkat yang sangat kental dengan nuansa Islami.
· Terapi Fisik: Setelah doa, pasien didiagnosis penyakitnya, kemudian dilakukan terapi pengobatan dengan menggunakan "bobok" (semacam parem atau ramuan) yang diusapkan ke seluruh tubuh.
· Pemberian Obat: Selain terapi oles, pasien juga diberikan obat loloh yang diminum berupa pil kecil dan ramuan herbal yang bisa dimasak di rumah.
· Bersifat Gratis: Layanan pengobatan ini dikenal tidak memungut biaya, atau bersifat gratis.
Hasil dari kegiatan pengobatan alternatif ini turut menopang pembiayaan pendidikan santri, terutama bagi mereka yang berasal dari keluarga tidak mampu. Santri yatim dan dhuafa bahkan dibebaskan dari seluruh biaya pendidikan. Dengan pendekatan spiritual dan sosial yang menyatu, pengobatan alternatif Bina Warga di Pesantren Asyifa Al Barokah tidak hanya menjadi sarana penyembuhan, tetapi juga sumber keberkahan bagi keberlangsungan pendidikan pesantren. (aan/hanna/par)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....