Lirik "Ranggong Bumoe", Backsound Viral Musibah Banjir Aceh
- 09 Des 2025 11:22 WIB
- Lhokseumawe
KBRN, Lhokseumawe: Lirik lagu Aceh kembali viral di tengah musibah banjir yang melanda Aceh di sejumlah wilayah kabupatennya. Musibah banjir yang melanda tersebut bukan hanya meninggalkan duka mendalam dan kerugian, tetapi juga menghadirkan ruang perenungan bagi banyak orang. Di tengah derasnya air dan kabar evakuasi warga, sebuah lirik lagu berbahasa Aceh "Ranggong Bumoe" kembali viral di media sosial. Lagu ini dibagikan berulang kali karena dianggap sangat relevan dengan kondisi yang sedang terjadi.
Lirik tersebut bukan lagu baru, namun pesan spiritual dan maknanya terasa begitu dekat dengan realitas hari ini. Banyak warganet menyebutnya sebagai doa sekaligus pengingat tentang hubungan manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Lirik Lagu Bumoe Ranggong dan artinya dalam bahasa Indonesia
Meunyoe katroeh janji bak Tuhan
Patot alam turoet seureta
Langet bumoe patoeh keun Rabbon
Allah peutreun lageum tanda
Jika telah tiba janji dari Tuhan
Maka alam pun patuh dan mengikuti
Langit dan bumi taat kepada Rabb-Nya
Allah menurunkannya sebagai suatu tanda
Ie meugulong ombak raya
Jiek teuga hanpat taplung
Kalam rateb dum manusia
Leupah teuga… Hanpat bileung
Air bergulung seperti ombak besar
Datang begitu kuat tak dapat ditahan
Firman menjadi peringatan bagi manusia
Sangat keras, tak dapat dihitung (besarnya)
[Chorus]
Beureutoh gunong jiklik meurawong
Jimeu ranggoeng asoe Donya
Kun fayakun ’oh ka geukeun
Han soe ek then jak peusangga
Gunung meletus menangis meraung
Diguncang hingga seluruh dunia bergetar
“Kun fayakun” telah Dia tetapkan
Tak seorang pun mampu menyangga atau menahan
Ureung maksit ateuh bumo e
Alam jimoe e Rabbana
Lake tulong dum insan nyoe
Kaseb ohno neubri bala
Manusia berbuat maksiat di atas bumi
Alam pun menangis oh Tuhan kami
Semua manusia memohon pertolongan
Cukup sampai di sini bala Engkau turunkan
[Outro]
Ampon Ya Allah… kamoe neu ampon
Kaseb keuh hukom… lage nyoe rupa
Neugaseh kamoe… meunyoe na salah
Kadang ka leupah… nibak but Donya
Kadang na silap… wate meulangkah
Ka gadoh arah… han meuhoe punca
Ampuni kami ya Allah, kami mohon ampun
Cukuplah hukuman yang yang seperti ini
Sayangilah kami bila kami bersalah
Kadang kami lalai dalam urusan dunia
Kadang kami khilaf dalam melangkah
Kami kehilangan arah, tak tahu asal dan tujuan
Tak sedikit warganet yang mengaitkan lirik ini dengan kerusakan lingkungan, penggundulan hutan, hingga kelalaian manusia dalam menjaga alam, sesuatu yang sering disebut sebagai salah satu faktor memperparah dampak banjir.
Menguatkan di Tengah Duka
Di tengah kepanikan dan kesedihan para korban banjir, lagu ini justru menjadi penguat batin. Banyak yang membagikannya sebagai caption video banjir, status media sosial, hingga pengiring tayangan kondisi lapangan. Bagi masyarakat Aceh, syair seperti ini bukan sekadar lagu, melainkan nasihat dan doa yang hidup dalam budaya. Musibah boleh datang silih berganti, namun dari syair inilah lahir harapan agar manusia lebih rendah hati, saling tolong-menolong, dan kembali menjaga keseimbangan alam.
Viralnya kembali lirik lagu ini membuktikan bahwa karya bernuansa spiritual dan lokal tak lekang oleh waktu. Di saat kata-kata sering kehilangan makna, syair sederhana dalam bahasa daerah justru mampu mengetuk hati banyak orang. Semoga musibah ini menjadi pengingat, bukan hanya untuk Aceh, tetapi untuk kita semua.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....