Mengungkap Hikmah Waktu dan Jumlah Rakaat Shalat Fardhu

  • 06 Okt 2025 13:59 WIB
  •  Wamena

KBRN, Jayawijaya: Kewajiban salat lima waktu (Subuh, Dzuhur, Asar, Maghrib, dan Isya) yang diemban umat Islam ternyata memiliki hikmah mendalam yang tersembunyi di balik penetapan waktu dan jumlah rakaatnya.

Mengutip dari laman kemenag.go.id, hal ini diungkapkan oleh ulama Nusantara terkemuka, Syekh Nawawi Al-Bantani, dalam karyanya, Sullam al-Munajah. Menurut Syekh Nawawi, penentuan jumlah rakaat pada setiap salat fardhu (2, 4, 4, 3, 4) terkait erat dengan peristiwa-peristiwa penting yang dialami oleh para nabi terdahulu.

Setiap rakaat menjadi simbol rasa syukur atas keselamatan atau pertolongan yang mereka terima dari Allah SWT pada waktu-waktu tersebut. Rangkaian Peristiwa yang Melatarbelakangi Salat 5 Waktu:

1. Salat Subuh (2 Rakaat): Kesyukuran Nabi Adam AS

Salat Subuh dua rakaat pertama kali dilaksanakan oleh Nabi Adam AS. Ketika diturunkan ke bumi, beliau diliputi rasa takut karena kegelapan yang pekat. Rakaat pertama merupakan wujud syukur atas diselamatkan dari gelapnya malam, dan rakaat kedua sebagai syukur atas terbitnya fajar yang membawa cahaya.

2. Salat Dzuhur (4 Rakaat): Ujian dan Syukur Nabi Ibrahim AS

Nabi Ibrahim AS adalah orang pertama yang melaksanakan salat Dzuhur empat rakaat. Peristiwa ini terjadi tepat saat tergelincirnya matahari, berkaitan dengan perintah Allah untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS, yang kemudian diganti dengan seekor domba dari surga.

Rakaat 1: Syukur karena Ismail diganti dengan domba.

Rakaat 2: Syukur atas hilangnya kesedihan terhadap anaknya.

Rakaat 3: Permohonan keridhaan atas kejadian tersebut.

Rakaat 4: Syukur atas karunia nikmat berupa domba dari surga.

3. Salat Ashar (4 Rakaat): Keselamatan Nabi Yunus AS

Salat Ashar empat rakaat merupakan ekspresi syukur Nabi Yunus AS tidak lama setelah dikeluarkan oleh Allah dari perut ikan besar tepat pada waktu Ashar. Empat rakaat melambangkan syukur atas keselamatan dari empat kegelapan: kegelapan isi perut ikan, kegelapan air, kegelapan malam, dan kegelapan perut ikan itu sendiri.

4. Salat Maghrib (3 Rakaat): Pemantapan Akidah Nabi Isa AS

Salat Maghrib tiga rakaat dilaksanakan pertama kali oleh Nabi Isa AS setelah beliau selamat dari kejaran kaumnya yang hendak membunuhnya saat matahari terbenam.

Rakaat 1: Pemantapan akidah (tauhid) bahwa tiada tuhan selain Allah.

Rakaat 2: Menghilangkan tuduhan kaumnya yang menuduh ibunya, Sayyidah Maryam, berzina.

Rakaat 3: Memantapkan keyakinan bahwa semua kejadian adalah ketetapan dari Allah.

5. Salat Isya (4 Rakaat): Pertolongan bagi Nabi Musa AS

Nabi Musa AS adalah orang pertama yang menunaikan salat Isya empat rakaat, sebagai bentuk syukur atas pertolongan Allah yang menyelamatkannya dari empat kesedihan yang menimpanya saat tersesat di perjalanan keluar dari Madyan. Empat kesedihan tersebut adalah: meninggalkan istri, berpisah dengan saudaranya (Nabi Harun), meninggalkan putra, dan kezaliman Firaun. Allah kemudian menolongnya pada waktu Isya.

Keterangan yang termuat dalam kitab Sullam al-Munajah ini memberikan perspektif baru bahwa ibadah salat fardhu bukan sekadar rutinitas, melainkan sebuah warisan spiritual yang mengikat umat Islam dengan sejarah perjuangan dan kesyukuran para nabi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....