Mengenal Pesut Mahakam, Lumba-Lumba Sungai Terancam Punah
- 30 Sep 2025 20:35 WIB
- Palangkaraya
KBRN, Palangka Raya : Pesut Mahakam (nama ilmiah Orcaella brevirostris) adalah mamalia air tawar khas Kalimantan yang hanya ditemukan di beberapa sungai besar di Asia Tenggara, termasuk Sungai Mahakam di Kalimantan Timur.
Hewan ini menjadi simbol Provinsi Kalimantan Timur dan mendapat perlindungan hukum penuh melalui Undang‑Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Keanekaragaman Hayati. Namun, populasinya terus menurun drastis sehingga kini berada di ambang kepunahan (critically endangered).
Pesut Mahakam memiliki tubuh bulat dan tegap dengan panjang rata‑rata sekitar 1,5 hingga 2,8 meter dan berat antara 114 hingga 133 kg pada individu dewasa.
Ciri khasnya, tidak memiliki moncong panjang seperti lumba-lumba laut, mata kecil, dan sirip punggung yang kecil dan membulat. Pesut bergerak dalam kelompok kecil, umumnya 3–10 ekor, dan memiliki sistem sonar untuk mendeteksi mangsa di air keruh. Kehamilan berlangsung antara 8 hingga 14 bulan, dan interval kelahiran bisa 1–3 tahun.
Habitat utama pesut Mahakam berada di aliran Sungai Mahakam, terutama di wilayah Kutai Kartanegara (Kukar) seperti Sungai Pela dan muara hingga Muara Kaman.
Dahulu, pesut kadang ditemukan di daerah hulu sungai dan anak sungai lainnya, tetapi kini keberadaannya makin terbatas. Pola kemunculannya cenderung pagi dan sore saat air relatif tenang.
Ancaman utama terhadap kelangsungan hidup pesut Mahakam meliputi pencemaran limbah (termasuk limbah pertambangan), kebisingan dari kapal atau tongkang di sungai, terjerat alat tangkap ikan seperti rengge atau penggunaan setrum, dan rusaknya habitat akibat sedimentasi atau alih fungsi lahan tepi sungai. Menurut data terbaru (2025), jumlah pesut Mahakam diperkirakan tinggal 62 ekor saja, jauh menurun dibanding angka sebelumnya.
Untuk melindungi pesut Mahakam, berbagai upaya dilakukan seperti pemantauan populasi, kampanye kesadaran masyarakat di tepi sungai, dan penggunaan perangkat akustik (pinger) untuk menghindari tangkapan tidak sengaja dalam jaring.
Sejarah konservasi bermula dari upaya eks situ, meskipun gagal berkembang biak di luar habitat alam, lalu bergeser ke konservasi in situ melalui lembaga seperti Yayasan RASI sejak tahun 2000.
Keberlanjutan upaya tersebut membutuhkan sinergi antara pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan masyarakat lokal agar habitat Sungai Mahakam tetap terjaga dan pesut bisa pulih dari ambang kepunahan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....