Fakta Menarik Tentang Bunga Edelweis yang Jarang Diketahui

  • 04 Agt 2025 15:10 WIB
  •  Sungaipenuh

KBRN, Sungai Penuh : Anaphalis javanica, yang dikenal sebagai Edelweiss jawa atau Bunga Senduro, adalah tumbuhan endemik zona alpina/montana di berbagai pegunungan tinggi di Indonesia yang saat ini dikategorikan sebagai tumbuhan langka. (Wikipedia)

Disarikan dari berbagai sumber serta dari laman detik.com berikut adalah beberapa fakta penting tentang bunga Edelweis :

1. Nama ilmiah Indonesia untuk Edelweis Jawa adalah Anaphalis javanica, sementara Edelweis di Eropa dikenal sebagai Leontopodium alpinum.

2. Bunga ini tumbuh di pegunungan tinggi, umumnya pada ketinggian antara 1.700 hingga 3.000 meter di atas permukaan laut.

3. Batang Edelweis berfungsi sebagai tangkai bunga, dengan daun yang berbulu halus berwarna putih mirip wol. Kelopak bunganya berwarna putih lembut dengan pusat bunga kuning kecil.

4. Bunga tersebut dijuluki "bunga abadi" karena bunga ini mekar dalam waktu sangat lama, hingga bisa bertahan hingga 10 tahun, berkat hormon etilen yang mencegah kelopaknya rontok.

5. Edelweis dikenal sangat tahan terhadap kondisi ekstrem seperti tanah tandus, suhu dingin, dan radiasi UV tinggi di pegunungan.

6. Ukurannya bisa bervariasi, ada yang tumbuh hingga 1 meter dengan batang sebesar kaki manusia, bahkan ada catatan Edelweis mencapai 8 meter dengan usia diperkirakan lebih dari 100 tahun di Gunung Sumbing.

7. Bunga Edelweis merupakan tanaman endemik yang juga memiliki nilai budaya dan ritual adat khususnya bagi masyarakat suku Tengger di Gunung Bromo, digunakan dalam upacara seperti Leliwet, Kasada, dan Karo sebagai sesaji.

8. Dikarenakan langka dan menjadi simbol keabadian serta keindahan, bunga Edelweis dilindungi oleh hukum di Indonesia. Memetiknya dilarang dan dapat dikenai hukuman pidana penjara hingga 10 tahun dan denda maksimal Rp 200 juta sesuai UU No. 5 Tahun 1990 dan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup.

9. Bunga ini juga menyebar dengan cara generatif melalui serbuk bunga ringan yang mudah terbawa angin.

10. Pertama kali ditemukan secara ilmiah di Indonesia oleh naturalis Jerman Georg Carl Reinwardt di Gunung Gede pada tahun 1819

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....