Makna dan Model Hijrah: Dalam Prespektif Islam

  • 01 Jul 2025 07:37 WIB
  •  Madiun

KBRN, Madiun: Hijrah bukan sekadar perpindahan fisik dari satu tempat ke tempat lain, melainkan sebuah perjalanan spiritual dan moral menuju kehidupan yang lebih baik sesuai ajaran Islam. Dalam konteks sejarah dan kehidupan modern, hijrah tetap relevan sebagai bentuk komitmen seorang Muslim untuk terus memperbaiki diri, menjauhi kemaksiatan, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ustaz Amir Abdullah,M.Pd menyampaikan kajian Mutiara Pagi di Pro1 RRI Madiun secara online.

Amir menjelaskan, secara etimologis, hijrah berasal dari bahasa Arab "hajara" yang berarti berpindah atau meninggalkan. Dalam sejarah Islam, hijrah merujuk pada peristiwa monumental ketika Nabi Muhammad SAW bersama para sahabatnya meninggalkan Mekah menuju Madinah pada tahun 622 Masehi. Peristiwa ini bukan hanya pelarian dari tekanan, tetapi strategi dakwah dan tonggak penting dalam pembentukan masyarakat Islam yang berdaulat. Hijrah juga memiliki makna spiritual. Dalam sebuah hadis sahih, Rasulullah SAW bersabda: "Seorang Muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah."

(HR. Bukhari dan Muslim). "Dari sini dapat dipahami bahwa makna hijrah tidak terbatas pada konteks geografis, namun juga mencakup dimensi moral dan spiritual," kata Amir, Selasa (1/7/2025).

Model hijrah dalam Islam terdiri dari beberapa kategori, diantaranya Hijrah fisik, Hijrah spiritual, dan Hijrah Sosial. Hijrah fisik, meskipun jarang terjadi seperti pada zaman Nabi, hijrah fisik masih terjadi, terutama dalam konteks migrasi Muslim ke daerah yang lebih aman untuk beribadah atau berdakwah. Misalnya, beberapa komunitas Muslim di negara minoritas memilih berpindah ke negara yang lebih kondusif bagi praktik keislaman. "Ini berat untuk dilakukan ya kalo diterapkan pada saat ini," ujar Amir.

Sementara hijrah spiritual adalah bentuk hijrah yang paling banyak terjadi di era modern. "Seorang Muslim meninggalkan gaya hidup yang jauh dari nilai-nilai Islam dan beralih ke jalan yang diridhai Allah. Contohnya termasuk berhenti dari kebiasaan maksiat, mulai menunaikan salat lima waktu, mengenakan pakaian yang syar’i, atau memutuskan untuk lebih aktif dalam kegiatan keagamaan," jelas Amir. Kemudian, hijrah sosial adalah Hijrah juga bisa berarti menjauhi lingkungan yang membawa pengaruh buruk dan mendekat ke komunitas yang mendukung pertumbuhan iman dan akhlak. Ini termasuk memilih pergaulan yang baik, menghindari lingkungan penuh ghibah, hingga berpartisipasi dalam majelis ilmu.

Dalam modernisasi sekarang ini, banyak juga digitalisasi yang mengajak hijrah umat Islam pada arah kebaikan. Banyak pemuda hari ini memilih berhijrah dengan menyaring konten media sosial, berhenti mengikuti akun-akun yang tidak mendidik, dan menggantinya dengan konten dakwah, ilmu, dan motivasi Islami. Hijrah bukan proses yang mudah. Banyak orang yang mengalami ujian ketika memutuskan untuk berhijrah, baik dalam bentuk ejekan, pengucilan sosial, bahkan kehilangan pekerjaan. Namun Allah SWT telah menjanjikan pahala besar bagi mereka yang istiqomah.

"Sesungguhnya orang-orang yang berhijrah karena Allah setelah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan kepada mereka tempat yang baik di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat lebih besar, jika mereka mengetahui."

(QS. An-Nahl: 41).

Hijrah adalah panggilan iman, ajakan untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik, dan menjadikan Islam sebagai landasan dalam setiap aspek kehidupan. Dengan memahami makna hijrah secara utuh, umat Islam diharapkan mampu memaknai setiap langkah perubahan dalam hidup sebagai bentuk ibadah dan perjuangan menuju ridha Allah SWT.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....