Manfaat Menjadi Pribadi Pemaaf

  • 13 Apr 2025 09:08 WIB
  •  Madiun

KBRN, Madiun : Menjadi pribadi pemaaf, memang bukan hal mudah. Terlebih jika sudah terlanjur disakiti atau dizalimi. Meski dimikian, ada banyak manfaat positif yang bisa didapatkan dari menjadi pribadi pemaaf. Apa saja?

Ustaz Shofar S.Pd.I SM mengatakan, manusia adalah makhluk sosial. “Siapapun kita, betapa pun hebatnya kita, tetap kita membutuhkan orang lain dalam hidup ini,” ujar dia saat menjadi narasumber Mutiara Pagi Programa 1 RRI Madiun beberapa waktu lalu (29/3/2025).

Dia menjelaskan, seseorang tidak bisa hidup sendiri-sendiri. “Dari pertama kita dilahirkan. Tumbuh besar. Sampai ajal menjemput, saat mati butuh orang lain,” ujar dia. Oleh karena itu, akan ada banyak hal yang terjadi dalam hidup bersama.

“Ada hal-hal yang membuat kita harus berbuat, harus meminta maaf dan berlapang dada memaafkan,” ucap dia. Serta salah satu sifat yang sangat mulia bagi orang beriman adalah pemaaf. “Ini sifat agung, membuat jiwa seseorang bahagia, tentram dan tenang,” ucap dia.

Shofar mengatakan, dalam Al-Qur’an surat Al-A’raf ayat 199 dijelaskan,‘Khudzil-‘afwa wa'mur bil-‘urfi wa a‘ridl ‘anil-jâhilîn’, yang artinya ‘jadilah pemaaf, perintahlah (orang-orang) pada yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang bodoh’.

Ada tiga perkara dari ayat ini yang dijelaskan oleh Rasulullah Muhammad SAW. “Kita menjadi pribadi pemaaf. Memaafkan siapapun yang menzalimi kita. Ini adalah kemulian yang luar biasa yang dicontohkan Nabi (Muhammad SAW),” ujar dia.

Jelas Shofar, memaafkan orang yang menzalimi itu memang berat. “Karena tidak semua orang sampai pada maqam (tempat atau posisi) itu, tapi (memaafkan) ini adalah hal yang sangat mulia,” ujar dia.

Shofar mengatakan, dalam Al-Qur’an surat Asy-syura ayat 40 disebutkan, ‘Wa jazaaa'u saiyi'atin saiyi'tum misluha faman 'afaa wa aslaha fa ajruhuu 'alal laah; innahuu laa yuhibbuz zaalimiin’.

Yang artinya, ‘dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barangsiapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat) maka pahalanya dari Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang zhalim’.

Menurut Shofar, beberapa cara bisa dilakukan agar tidak berat untuk memaafkan. Pertama, pandanglah betapa dasyat, mulia dan agungnya ketika kita mampu memaafkan tanpa membalas kezaliman orang lain itu. “Allah siapkan berbagai anugerah dan kemuliaan bagi orang yang memaafkan,” ujar dia.

Kedua, adalah dengan menyadarkan dan berdamai dengan diri sendiri. “Bahwa seburuk apapun berbuatan orang lain pada kita, seberapa besar orang lain zalim pada kita, ketika kita lebih memilih untuk memaafkannya itu akan menentramkan hati kita,” ujar dia.

Sebab, Shofar menjelaskan, kita tidak akan tentram saat masih memendam perasaan atau dendam pada orang yang pernah zalim pada kita. “Kata para ulama, kita ingin Allah memaafkan dosa-dosa kita, maka kita juga harus mampu menghadirkan maaf pada siapapun yang pernah menzalimi kita,” ujar dia.

Lebih lanjut, menurut Shofar, biasanya yang menghambat kita menjadi pribadi pemaaf adalah ego, rasa besar hati, dan berat untuk memaafkan. “Dan ini adalah dorongan dari setan. Ini misi setan agar kita selalu bermusuhan,” ucap dia.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....