Jenang Sebagai Produk Budaya yang Kaya Makna Filosofis

  • 21 Feb 2025 11:25 WIB
  •  Surakarta

KBRN, Surakarta: Disetiap tanggal 17 Februari saat memperingati hari ulang tahun Kota Solo selalu diadakan Festival Jenang Nusantara, dengan 17 jenis jenang yang wajib disediakan sebagai penanda perpindahan Keraton Surakarta ke Desa Sala, selain sajian jenang dari berbagai daerah dan jenang kreatifias masyarakat. Festival jenang ini merupakan bagian dari rangkaian acara Hari Jadi ke 280 Kota Solo pada tahun 2025 ini.

" Jenang merupakan produk budaya Jawa yang memiliki makna mendalam berkaitan dengan kehidupan, kesabaran, ketekunan, dan harmoni. Jenang, atau bubur dalam bahasa Indonesia, bukan sekadar makanan, tetapi juga simbol perjalanan hidup manusia," kata Budayawan, Dosen Prodi Ilmu Sejarah FIB UNS, yang juga Ketua Yayasan Jenang Indonesia Drs.Tundjung W.Sutirto, M.Si, dalam dialog di Pro 1 RRI Surakarta , Selasa (18/2/2025).

Lanjutnya, membuat jenang butuh ketekunan karena harus diaduk terus-menerus agar teksturnya menjadi halus dan tidak menggumpal, melambangkan kehidupan, manusia harus sabar dan tekun dalam menghadapi tantangan. Bahan-bahan yang digunakan sederhana seperti beras, santan, dan gula, yang jika diolah dengan tepat, menghasilkan rasa yang lezat, mengajarkan dalam hidup, keseimbangan dan keselarasan dalam berbagai aspek sangat penting untuk mencapai kebahagiaan.

Dalam Festival Jenang Mustika Jenang Nusantara memiliki arti bahwa jenang ini merupakan sesuatu sangat berharga mendapatkan sambutan yang luar biasa dari masyarakat bahkan mendapatkan apresiasi dari berbagai kalangan. “Sebelas takir lebih yang dibagikan ,ludes hanya dalam hitungan menit. Ini merupakan gayung bersambut antara Pemkot,Yayasan Jenang, stakeholder dan masyarakat. Banyak yang menginginkan bahwa event Festival Jenang ini tidak hanya setahun sekali, jadi ini bukti bahwa masyarakat sangat menyambut baik kegiatan seperti ini, dan mengenalkan bahwa jenang dengan segala pernak-perniknya ini sarat dengan nilai filosofis,” ucap Tundjung.

Lanjutnya,17 jenis jenang itu diantaranya Jenang Saloka, Jenang Manggul, Jenang Ngangrang, Jenang Pathi, Jenang Lemu, Jenang Grendul, Jenang Abang Putih, Jenang Taming, Jenang Suran, Jenang Candhil,Jenang Sumsum, Jenang Rangi,Jenang Katul, Jenang Procot dan sebagainya. Semuanya punya makna.

" Beberapa maknanya, Jenang Manggul maknanya supaya manusia kuat menanggung beban hidup, beban keinginan,beban tanggung jawab sehingga kalau kita kuat itu baru dinamakan berkah, " ucapnya "Kemudian Jenang Salaka yang artinya kiasan atau ibarat,jadi hidup manusia itu hidupnya penuh dengan kiasan harus bisa mengartikannya sehingga bisa diterapkan dalam kehidupan, kalau Jenang Pathi itu artinya dalam hidup kita harus bisa mendapatkan sari-sarinya atau makna intinya5,”

Lanjutnya, Jenang Abrit Pethak yang sudah dikenal sejak jaman Majapahit memiliki arti keberanian, kemurnian dan kesucian sebagaimana lambang bendera Merah Putih, simbol-simbol dari jenang-jenang tersebut direpresentasikan dalam bentuk sesaji yang ditujukan kepada kekuatan adi kodrati Tuhan Yang Maha Esa. Jenang dari serapan kata Jannah yang artinya surga ini memiliki tekstur lembut, halus dan lengket menggambarkan suatu hubungan yang lekat atau lengket,dekat dengan Sang Adi Kodrati, sesama dan alam itu menjadi kekuatan hubungan ketiga kekuatan kosmos alam. (Wiwik Martani)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....