Kampung Tenongan, Sisi Menarik Grebeg Sudiroprajan

  • 27 Jan 2025 08:39 WIB
  •  Surakarta

KBRN, Surakarta: Kampung Kepanjen terkenal dengan sebutan Kampung Tenongan. Kampung yang terletak di Kelurahan Sudiroprajan, Kecamatan Jebres, Surakarta dikenal dengan keanekaragaman kuliner tradisional, seperti bakpao, mi, cakwe, dan kue keranjang, yang mencerminkan perpaduan budaya Jawa dan Tionghoa.

Kue-kue tersebut dijual dengan menggunakan tenong, yaitu keranjang bundar yang terbuat dari anyaman bambu. Tradisi menjual kue yang menggunakan tenong mengelilingi kampung bahkan di kota kemudian dikenal dengan 'Tenongan'.

Dikutip dari laman kec-jebres.surakarta.go.id, Kelurahan Sudiroprajan dengan luas wilayah luas sekitar 23 hektar dan jumlah penduduk sekitar 3.757 jiwa ini terdiri dari beberapa kampung, antara lain Balong, Samaan, Mijen, Ngampil, Limolasan, Kepanjen dan Ketandan. Sudiroprajan dikenal sebagai kawasan Pecinan di Surakarta, di mana terjadi akulturasi budaya antara masyarakat Tionghoa dan Jawa.

Hal ini terlihat dalam tradisi seperti Grebeg Sudiro, sebuah perayaan tahunan yang menggabungkan unsur budaya Jawa dan Tionghoa untuk menyambut Tahun Baru Imlek. Tradisi menjajakan tenongan dengan berkeliling kampung dari rumah ke rumah, telah ada sejak masa kolonial di Indonesia, khususnya di Jawa.

Salah satu tradisi menjajakan tenongan di ujung gang kampung. (Foto: surakarta.go.id)

Secara spesifik, kapan tepatnya praktik ini dimulai sulit untuk ditentukan karena merupakan bagian dari tradisi lisan dan kebiasaan lokal. Namun dalam konteks Kampung Tenongan di Sudiroprajan, tradisi ini mulai dikenal luas pada awal abad ke-20, berkait dengan gaya hidup masyarakat urban di Surakarta pada masa itu.

Tradisi tenongan ini didasari beberapa faktor, dintaranya karena faktor ekonomi, banyak warga yang menjadikan tenongan sebagai alat utama untuk berjualan makanan karena mudah dibawa dan murah. Tenongan juga menjadi alat interaksi Sosial untuk mempererat hubungan antarwarga saat bertransaksi.

Kondisi kehidupan kampung pada masa lalu, dimana gang atau jalanan yang sempit sempit lebih mudah diakses dengan berjalan kaki sambil menggendong tenong. Tradisi ini masih eksis dan kini menjadi bagian dari identitas budaya lokal, terutama di wilayah seperti Sudiroprajan, yang kaya dengan perpaduan budaya Jawa dan Tionghoa.

Kampung Tenongan khususnya, menjadi simbol kerukunan dan harmoni antara dua budaya yang hidup berdampingan. Masyarakat di sini telah lama hidup bersama dalam toleransi dan saling menghormati, menjadikan Sudiroprajan contoh nyata dari akulturasi budaya yang berhasil. (Wiwik Martani)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....