Ini Perbedaan Penanggalan Kalender Masehi
- 12 Jan 2025 13:58 WIB
- Bintuhan
KBRN, Bintuhan : Di Indonesia setiap tahun, orang-orang setidaknya merayakan tiga perayaan tahun baru berdasarkan sistem penanggalan yang berbeda yaitu Tahun Baru Masehi, Tahun Baru Hijriah, dan Tahun Baru Cina atau Imlek. Namun terdapat perbedaan pada tanggal dan waktu perayaan. Nah apakah yang membedakan ketiganya? berikut ulasannya.
Perbedaan momen tahun baru terjadi karena adanya perbedaan sistem kalender atau penanggalan. Selama peradaban, manusia memiliki berbagai sistem penanggalan yang didasarkan pada keyakinan mau pun perubahan alam. Secara umum, Indonesia sendiri memakai sistem kalender Masehi dan Hijriah.
1. Kalender Masehi
Kalender Masehi atau kalender Gregorian sering disebut sebagai kalender matahari, karena penanggalan Masehi didasarkan pada revolusi bumi mengelilingi matahari, sehingga jumlah hari dalam setahun sebanyak 365-366 hari. Satu tahun Masehi dibagi menjadi 12 bulan, dan satu bulan terdiri atas 30 dan 31 hari, kecuali Februari yang hanya 28 hari. Kalender Masehi atau kalender Gregorian ini sistem penanggalan yang paling banyak digunakan di seluruh dunia. Penanggalan ini mulai berlaku ketika Paus Gregorius XIII mengubah kalender Julian pada 1582 M.
Kalender Masehi memiliki tahun kabisat, tahun yang memiliki jumlah 366 hari, yang terjadi setiap 4 tahun sekali (tahun yang habis dibagi 4). Di tahun ini, bulan Februari menjadi 29 hari. Dalam kalender Masehi, perayaan tahun baru jatuh setiap tanggal 1 Januari.
2. Kalender Hijriah
Penanggalan Kalender Hijriah atau tahun Kamariah merupakan sistem penanggalan yang sering dipakai oleh beberapa negara mayoritas Muslim. Kalender Hijriah juga digunakan oleh umat Islam untuk menentukan tanggal-tanggal penting, seperti awal bulan puasa Ramadan, Idulfitri, serta awal ibadah haji dan Iduladha.
Dikutip dari CNN Indonesia, perhitungan hari selama setahun juga berbeda dari Masehi. Kalender Islam memiliki 354-355 hari dalam 12 bulan, lebih pendek 10-11 hari dari tahun Masehi. Dalam sistem Hijriah, awal bulan ditentukan dengan munculnya bulan sabit muda pertama yang terlihat setelah terbenamnya matahari, atau disebut hilal.
Masa satu bulan Hijriah mengikuti periode bulan sinodis, yakni periode bulan dari fase bulan baru sampai bulan baru berikutnya selama 29 ½ hari. Oleh sebab itu, satu bulan Hijriah memiliki 29-30 hari, bergantung pada posisi bulan, bumi, dan matahari.
3. Kalender Cina atau Imlek
Penanggalan Kalender Cina dimulai di tahun 551 Sebelum Masehi, bertepatan dengan tahun lahirnya Confusius, yaitu tokoh penting dalam peradaban Cina. Ia yang menyebarkan paham Confusianisme (Confucianism). Robert Bellah, dalam Asia Society, menyatakan bahwa Confusianisme dapat disebut sebagai ‘Agama Sipil’ dengan kriteria; kesamaan mengenai identitas dan dasar moral masyarakat setempat, tidak didasarkan kepada lembaga-lembaga resmi seperti sekolah atau institusi pemerintahan lainnya tapi didasarkan pada kehidupan sehari-hari, dengan orangtua sebagai guru dan sebagainya. Dalam Confusianisme, keluarga dan kehidupan sehari-hari adalah arena beragama. Confusianisme yang juga disebut Kong Hu-Chu, dilanggengkan oleh Bangsa Cina hingga bertahun-tahun setelahnya, bahkan hingga sekarang. Meskipun banyak masyarakat Cina tidak memeluk Kong Hu Chu, namun nilai-nilai yang diletakkan Confusius tetap dipegang seperti ritual sosial (li) dan kemanusiaan (ren).
Penanggalan Cina kemudian dihitung dari hari lahirnya Confusius dan ditandai dengan bulan baru (saat bulan tidak nampak di langit) yang mengakhiri musim dingin. Melansir Asia Home, Kalender Cina dibagi menjadi 4 musim dan dibagi lagi menjadi 24 perayaan, yang mana setiap perayaan ditandai dengan melihat posisi matahari, atau bulan di langit. Tahun Baru ditandai dengan Bulan Baru Pertama di langit, dan Perayaan Naga (hari kelima di bulan 5 Kalender Cina) juga dibuat dengan melihat tanda benda langit.
Masyarakat Cina menggunakan kalender ini selama ratusan tahun hingga Mao Zedong mengadopsi kalender Gregorian atau Kalender Masehi untuk menandai tanggal di Cina pada tahun 1949 ketika Republik Rakyat Cina dibentuk. Dimana hal tersebut adalah untuk memudahkan administrasi dan hubungan luar negeri. Meskipun sudah menggunakan kalender modern, Bangsa Cina dimanapun berada masih mempertahankan perayaan berdasarkan kalender tradisional Cina, terutama di momen Tahun Baru atau Imlek.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....