Strategi Menjadi Orang Tua dari Generasi Z

  • 28 Nov 2024 19:15 WIB
  •  Madiun

KBRN, Madiun : Tak sedikit yang menyebut generasi z (gen z) atau yang lahir pada tahun 1997-2012 memiliki karakter yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Karena itu, sebagai orang tua yang memiliki anak remaja gen z, ada baiknya memiliki strategi yang berbeda dalam memberikan pendidikan.

Ester Patricia M.Psi, Psikolog (Owner Kumon Madiun) mengatakan, sebagai orang tua memang harus mengenali kondisi gen z. “Kita kenali dulu, kadang konflik itu karena tidak mengenal atau cukup tahu yang dihadapi gen z,” ucap dia saat menjadi narasumber Pengarusutamaan Gender (PUG) RRI Madiun beberapa waktu lalu (14/10/2024).

Kadang, jelas Ester, konflik terjadi karena orang tua kerap membandingkan. “Kita juga sering membandingkan. Contohnya, ketika orang tua bicara pada anak mereka yang masih gen z. Misalnya, dulu ayah ini, mama ini, berjuang seperti ini, seperti ini. Dulu bangun jam setengah lima pagi, sekolah sungguh-sungguh,” kata dia.

Ester mengatakan, orang tua harus paham jika kondisi sekarang ini bukan seperti dulu. “Nah, para orang tua, (sekarang) ini bukan dulu. Zamannya berbeda. Jadi kita tidak bisa menuntut anak-anak kita yang gen z ini, seperti kita. Ini yang harus disadari. Posisinya berbeda. Jadi orang tua harus membuka diri, melihat kondisi anak sekarang,” ujar dia.

Ester menjelaskan, orang tua ada baiknya tahu karakter gen z. “Sehingga kita bisa memulai menjalin komunikasi yang baik dan orang tua yang baik. Saya percaya menjadi orang tua itu dimulai dari berusaha untuk mengerti dari sudut pandang anak-anak. Bukan meminta anak-anak mengerti kita, tapi kita juga belajar untuk mengerti mereka,” ucap dia.

Usia remaja kadang disebut saat anak mencari jatidiri. “Remaja itu memang dibilang anak-anak bukan, karena fase menuju dewasa, dibilang dewasa penuh juga bukan. Katanya anak remaja harus diberi kebebasan, tapi kalau dilepas, kebablasan juga. Ini kadang orang tua bingung, seberapa batasannya?,” ujar dia.

Ester mengatakan, satu hal yang khusus bagi gen z adalah mereka lahir sudah dibarengi dengan teknologi. “Mereka akrab dengan teknologi. Terlebih setelah pandemi (Covid-19), tidak keluar rumah sehingga hiburan mereka adalah gadget,” kata dia. Hal ini, melahirkan dampak yang positif dan negatif.

“Positifnya, kondisi ini melahirkan karakter, jika gen z ini adalah generasi yang cerdas dan banyak informasi. Sehingga jangan kaget kalau mereka ini anak yang kritis. Ini bagusnya,” ujar dia. Namun, sisi negatif dari terpaparnya informasi itu, para gen z ini jadi lebih rentan stres. Dia mencontohkan seperti anak yang merasa capek, meski hanya scroll (gulir) media sosial.

Menurutnya, rasa capek yang dikeluhkan gen z ini cukup beralasan. “Sebab ketika mereka scroll media sosial (di Hp), otak distimulasi konten (audio visual) singkat, beberapa detik berganti. Nah, bisa dibayangkan betapa lelahnya otak ketika distimulasi terus seperti itu. Itu yang membuat capek,” ujar dia.

Selain scroll media sosial, gen z juga akrab dengan game di gadget (Hp). “Padahal main game ini juga berlomba, berjam-jam, ini memuat anak-anak rentan stres. Secara fisik juga mudah sering terganggu karena kurang istirahat,” ucap Ester. Hal ini, menurut dia, yang perlu disadari orang tua tanpa perlu bertengkar.

“Karena anak gen z kalau diberitahu sedikit marah. Bukan melawan kita, tapi karena lelah (mereka marah). Ini yang dialami gen z. Dan secara relationship juga kekurangan personal face to face. Sehingga anak-anak ini kurang aman kalau bercerita,” ucap dia. Tidak jarang, stres anak-anak gen z ini juga dipicu karena tuntutan akademik.

Orang tua harus melihat situasi ini. Karena tantangan anak zaman dulu beda dengan sekarang.

“Anak remaja mengalami tekanan sosial. Mereka melihat media sosial semua baik. Padahal tidak baik-baik saja. Misal ada anak muda sukses, lalu mereka membandingkan dirinya (dengan anak muda yang sukses itu). Padahal ada perjuangan yang harus dilalui,” ujar dia.

Anak gen z sekarang ini juga sering disebut generasi stroberi, karena rentan. “Anak kita adalah generasi stroberi dan kita generasi durian, terus masuklah satu kresek, bisa bayangkan seperti apa stroberinya?. Karena itu kita yang sudah punya usia, punya hikmat, jadi kita yang harus turun ke level mereka,” ucap dia.

Yang pertama yang perlu dilakukan orang tua adalah menerima anak-anak remaja apa adanya. “Acceptance (kepasrahan), itu adalah kunci relationship, membangun hubungan dengan anak-anak kita. Misal anak kita belum bisa sukses, bilang pada anak, kamu tetap anak yang luar biasa, perjuangan yang kamu lakukan, orang tua melihat,” ucap Ester.

Orang tua, jelas Ester, juga harus tahu potensi anak. “Mungkin anak tidak pandai dalam akademik, tapi di olahraga misalnya bagus. Orang tua harus hadir pas pertandingan. Meski anak sudah SMA. Kita harus pahami mereka belum sepenuhnya dewasa, mereka tetap butuh dihargai,” ujar dia.

Orang tua, juga harus menjadi orang yang mau mendengar anak-anak mereka. “Kita harus mendengar. Bukan berarti harus selalu setuju. Kadang keputusan mereka salah. Kita harus mengontrol reaksi kita. Tidak boleh langsung kita menyalahkan mereka. Pola parenting kita harus jadi coach atau mentor,” ucap dia.

Apa yang dilakukan coach?. “Ketika ada yang salah, maka bertanya kenapa?. Apa pendapatmu tentang hal itu?. Menurutmu secara pribadi hal itu benar atau salah?. Selanjutnya apa yang akan kamu lakukan?. Kamu siap tidak dengan risikonya?. Orang tua harus mulai berubah dari kalimat perintah menjadi kalimat tanya,” ucap Ester.

Kemudian, bagaimana batasan?. “Cara membatasi yang paling aman adalah bagaimana caranya kita, menjadi orang tua yang menyenangkan sehingga membuat anak remaja itu mau bercerita. Dengan begitu kita bisa membentengi mereka. Karena kita tahu anak kemana, pergi dengan siapa, sebab anak-anak selalu bercerita pada kita,” ujar dia.

Lebih lanjut, orang tua juga harus bisa menjadi contoh yang baik. “Sebab, apa yang kita lakukan itu berbicara lebih kuat daripada apa yang kita katakan. Sebelum mengubah anak, kita terbuka ubah diri,” ucap Ester.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....