Cara Bertani Blewah dan Hama yang Wajib Diwaspadai

  • 31 Okt 2024 10:16 WIB
  •  Madiun

KBRN, Madiun : Tak banyak petani yang memilih Blewah sebagai tanaman utama, membuat harga buah ini cukup stabil dipasaran. Hal inilah yang dimanfaatkan oleh Setyo Budi Utomo, petani Blewah asal Dusun Druju, Desa Singgahan, Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun.

Budi mengaku sudah menekuni pertanian Blewah kurang lebih lima tahun. “Pertanian Blewah ini sudah saya mulai sejak 2019. Awalnya, saya itu basic-nya justru di Buah Melon, Semangka, dan sayuran seperti Pare serta Gambas,” ucap dia.

Dari pengalaman itu, dia mulai beralih dan tertarik menanam Blewah. “Saya amati mana yang bisa menghasilkan nilai ekonomis. Ternyata setelah saya research itu justru malah Blewah yang menghasilkan untuk menghidupi keluarga,” ujar Budi.

Ada beberapa alasan, kenapa Blewah memiliki nilai yang menguntungkan. “Milih Blewah juga karena dulu belum ada petani yang menanam. Sehingga pasar masih luas. Kebanyakan di pasar sini Blewah itu mendatangkan dari luar kota. Saya pikir ini potensi,” ujar dia.

Kemudian, Blewah itu umurnya singkat. “Dari mulai tanam hingga panen itu usia 45 hari bisa menghasilkan, jadi cukup pendek daripada Padi atau Jagung. Jadi Blewah ini satu bulan setengah sudah menghasilkan,” ujar dia.

Budi menjelaskan, panen Blewah juga tidak sekali petik langsung habis. “(Satu lahan itu) bisa sampai 6-7 kali petik baru habis. Panen itu mulai usia 45 hari bisa sampai 70 hari. Cukup menjanjikan untuk putaran (keuangan) harian karena selalu ada untuk dipetik,” ucapnya.

Saat ini Budi memiliki luasan pertanian Blewah sekitar 3.500 meter persegi. “Luas itu (3.500 meter persegi) saya jadikan tiga tahap. Jadi setiap dua minggu sekali kami tanam. Sehingga lahan satu habis, satunya panen. Jadi saya continue ada panen. Karena pasar mintanya ada barang terus,” ucap dia.

Dia mengkalkulasi, untuk lahan perkotak sekitar 1.400 meter persegi itu bisa menghasilkan Blewah kurang lebih 4 ton. Dengan harga rata-rata harga sekarang ini Rp4.000 perkilogram, maka bisa menghasilkan sekitar Rp16 juta.

Hasil tersebut terbilang untung. “Karena biaya menanam Blewah itu sangat rendah. Pertama, Blewah tidak butuh lanjaran (tiang penegak), terus tidak butuh tenaga kerja banyak, satu kotak lahan itu cukup satu tenaga kerja. Kita pupuk dan semprot tanaman sudah bagus,” ucap dia.

Ada beberapa varietas Blewah yang saat ini beradar dipasaran. Namun, Budi memilih jenis Blaster. “Dari beberapa varietas yang bagus itu, jenis Blaster di daerah sini cocok. Ini jadi andalan saya dan teman-teman,” ucap dia.

Varietas Blaster, Budi menjelaskan, juga memiliki keunggulan. “Varitas Blaster ini benihnya adalah hibrida F1 jadi tahan serangan virus. Lalu dagingnya tebal, harum, model atau bentuknya bagus tidak mletot-mletot, buah lebat, rasa cukup manis, daya simpan cukup lama bisa sampai 7 hingga 10 hari,” ucap dia.

Budi membagikan beberapa tips menanam Blewah agar untung. “Pertama, siapkan lahan dengan membuat guludan (tumpukan tanah yang dibuat memanjang),” ujar dia. Guludan yang dipakai Budi dengan lebar 1,5 meter dan parit 50 centimeter (cm).

Lalu gunakan pupuk dasar kompos, boleh (kompos) Kambing, Sapi, dan Cacing, lalu kapur dolomit, gunakan pupuk fertiphos. “Itu saya aduk dan tabur di guludan, kemudian tutup dengan plastik mulsa,” ujar Budi.

Dia juga menyarankan, untuk pertanian Blewah menggunakan plastik Mulsa. “Tujuannya biar gulma tidak tumbuh, lalu untuk menjaga kelembaban tanah, dan warna silver pada plastik mulsa itu biar memantulkan sinar agar hama takut,” ujar dia.

Setelah lahan siap, buat lubang tanam di guludan. “Untuk tanam dengan jarak 60 centimeter (cm), saya tanam kanan kiri satu guludan dua baris,” ucap Budi. Setelah lubang siap baru proses tanam bibit.

Untuk penanaman bibit Blewah, menurutnya waktu yang tepat adalah sore hari. “Karena bibit masih kecil, kalau ditanam pada pagi hari akan terkena panas matahari nanti bibit tidak tahan. Berbeda kalau ditanam pada sore, karena matahari tenggelam dan suhu dingin malam hari akan membuat bibit Blewah cukup beradaptasi,” ujar dia.

Lalu untuk perawatan berikutnya 7 sampai 10 hari diberi pupuk susulan pertama NPK dan lainnya. Dan selanjutnya, sekitar 7-10 hari diberi pupuk lagi. “Kalau 25 hari Blewah sudah berbunga, ini calon bakal buah, itu dirawat untuk pembesaran,” ujar dia.

Meski terkesan mudah, namun menanam Blewah juga harus telaten karena ada beberapa hama dan penyakit yang mengancam. “Hama itu menyesuaikan usia, misal seminggu pertama itu biasanya Kumbang Daun, ini akan makan daun, cirinya warna orange ini harus semprot,” ujar dia.

Lalu berikutnya adalah hama Kutu Kebul. “Ini menyebabkan daun kriting, kalau daun kriting nanti kena virus ini tidak ada obatnya dan tanaman harus dicabut. (Untuk pencegahan) biar Kutu Kebul tidak masuk, saya semprot lagi. Ini ada obatnya dipasaran,” ujar Budi.

Saat tanaman Blewah masih masih muda biasanya juga ada ada Ulat, dan nanti saat sudah berbuah ada ancaman Lalat Buah. “Saya kendalikan dengan semprot yang berbau tajam untuk mengusir,” ucap dia.

Serta saat daun sudah lebar dan kelembaban tinggi ada ancaman Jamur Embun Tepung. “Kalau tidak dikendalikan akan menyebar ke lainnya,” ujar Budi. Dengan pencegahan dan penanganan yang tepat, hama dan penyakit relatif bisa dikendalikan.

Budi mengaku, Blewah bisa ditanam pada musim apapun. “Sepanjang tahun Blewah bisa ditanam. Tidak kenal musim. Namun, kami mencari timing waktu yang tepat untuk mencari harga yang paling bagus. Seperti kalau Bulan Ramadan harga tinggi,” ujar dia.

Saat musim kemarau, juga masih banyak yang mencari. Sebab, Blewah digunakan untuk isi minuman yang umumnya diberikan pada saat ada hajatan. “Ya musim panas permintaan tinggi,” ucap dia.

Meski begitu, saat musim hujan permintaan Blewah masih tetap ada dan petani masih bisa untung. Untuk penjualan juga tidak sulit, karena pedagang dan pasar lokal selalu menerima hasil panen Blewah.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....