Mengenal Mayjen Sutoyo, Pahlawan Revolusi Kebanggaan Gatot Subroto

  • 28 Sep 2024 10:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Mayor Jenderal TNI Anumerta Sutoyo Siswomiharjo merupakan seorang perwira tinggi TNI Angkatan Darat asal Kebumen. Ia menjadi salah satu Pahlawan Revolusi Indonesia yang menjadi korban dari peristiwa Gerakan 30 September.

Setelah Indonesia merdeka pada 1945, Sutoyo kemudian bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Sejak saat itu, karier militernya pun semakin meningkat.

[Siapakah Mayor Jenderal TNI Anumerta Sutoyo Siswomiharjo?]

Mengutip dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud RI) Sutoyo Siswomiharjo, lahir dan dibesarkan di Kebumen, Jawa Tengah. Ia menyelesaikan pendidikannya sebelum imvasi Jepang pada tahun 1942.

Selama masa pendudukan Jepang, Sutoyo banyak belajar tentang penyelenggaraan pemerintahan di Jakarta. Kemudian, bekerja sebagai pegawai pemerintah di Purworejo, namun sayangnya pada tahun 1944, Sutoyo mengundurkan diri karena alasan pribadi.


[Bagaimana Karier Kemiliteran Sutoyo?]


Setahun kemudian setelah bergabung Tentara Keamanan Rakyat (TKR), pada 1946, ia kemudian diangkat menjadi ajudan Kolonel Gatot Subroto. Pada tahun 1954, ia menjabat sebagai Kepala Staf di Markas Besar Polisi Militer selama dua tahun.

Sutoyo kemudian diangkat menjadi asisten atase militet din kedutaam besar Indonesia di London. Pada tahun 1959, ia kemudian mengikuti pelatihan di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat di Bandung.

Setelah melakukan pendidikan, Sutoyo menjabat sebagai Inspektur Kehakiman Angkatan Darat. Karena memiliki pengalaman dalam bidang hukum, pada 1961, Sutoyo menjadi Inspektur Kehakiman/Jaksa Militer utama.


[Akhir Hayat Sutoyo]


Karirnya dalam menjaga Indonesia harus terhenti pada dini hari 1 Oktober 1965. Sutoyo ditemukan tewas dengan luka tembakan oleh Gerakan 30 September (G30S) dipimpin Sersan Mayor Surono.

Kelompok tersebut masuk ke dalam kedianan Sutoyo di Jalan Sumenep, Menteng, Jakarta Pusat. Anggota gerombolan masuk melalui garasi di samping rumah.

Mereka memaksa pembantu di rumah itu untuk menyerahkan kunci, sehingga dapat masuk ke dalam rumah. Sesampainya di dalam, para penculik ini mengatakan bahwa Sutoyo dipanggil Presiden Soekarno.

Saat itu, Sutoyo tidak pernah tahu bahwa malam itu merupakan malam terakhirnya menjabat sebagai Inspektur Kehakiman/Jaksa Militer utama. Sutoyo kemudian dibawa ke markas mereka di Lubang Buaya.

Di sana, Sutoyo dibunuh dan tubuhnya dilemparkan ke dalam sumur yang tidak terpakai. Mayat Sutoyo ditemukan empat hari setelahnya pada 4 Oktober 1965.

Jenazah Sutoyo pun disemayamkan sehari setelahnya. Saat setelah kepergiaannya, Sutoyo kemudian dipromosikan menjadi Mayor Jenderal dan dikukuhkan menjadi Pahlawan Revolusi Indonesia.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....