Renungan “Kasih Allah” di RRI SP SUMBA: Ajak Umat Peduli Sesama dan Bertobat
- 05 Mar 2026 06:32 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Sumba – Renungan bertajuk Kasih Allah yang diangkat dari Injil Lukas 16:19-31 tentang perumpamaan orang kaya dan Lazarus, disiarkan dalam program Mutiara Pagi Katolik di RRI Waikabubak, Kamis 5 Maret 2026. Renungan ini dibawakan oleh Richardus Adrianus Gae, S.Fil, Penyuluh Agama Katolik pada Kementerian Agama Kabupaten Sumba Barat.
Dalam refleksinya, ia mengajak umat untuk merenungkan kembali makna kasih Allah dalam kehidupan nyata, terutama dalam relasi antara yang kaya dan yang miskin. Dalam pemaparannya, Richardus menyoroti realitas kehidupan sosial yang memperlihatkan kesenjangan antara orang kaya dan orang miskin.
Ia menggambarkan bagaimana orang kaya kerap hidup dalam kelimpahan dan kemewahan, sementara orang miskin bergumul dalam kemelaratan dan kesendirian. Melalui kisah ilustratif tentang seorang anak yang justru melihat “kekayaan” sejati dalam kesederhanaan hidup orang miskin, umat diajak untuk menilai kembali ukuran kebahagiaan dan makna kekayaan yang sesungguhnya.
Merujuk pada perumpamaan Yesus dalam Injil Lukas, ia menjelaskan kontras kehidupan antara orang kaya yang hidup dalam jubah ungu dan kain halus sebagai simbol kemewahan, dengan Lazarus yang penuh luka dan terbaring di depan pintu rumahnya. Namun setelah kematian, keadaan keduanya berbalik. Lazarus memperoleh penghiburan di pangkuan Abraham, sedangkan orang kaya mengalami penderitaan.
Pesan ini menegaskan keadilan Allah yang melampaui penilaian manusia. Lebih lanjut, Richardus menekankan bahwa dosa orang kaya bukan semata karena kekayaannya, melainkan karena sikap tidak peduli terhadap penderitaan sesama yang hidup di dekatnya.
Orang kaya dan Lazarus hidup berdampingan, tetapi tanpa relasi kasih. Ketidakpekaan sosial inilah yang menjadi peringatan keras bagi umat beriman agar tidak menutup mata terhadap mereka yang membutuhkan pertolongan. Dalam bagian akhir renungan, umat diajak untuk mengambil tiga sikap utama, yakni pertobatan, kepedulian terhadap sesama, dan kesediaan mendengarkan sabda Tuhan sebagaimana disampaikan melalui Musa dan para nabi.
Ia juga menyinggung perumpamaan anak yang hilang dalam Injil Lukas 15:11-32 sebagai gambaran pertobatan sejati yang membawa manusia kembali kepada Allah. Melalui renungan ini, umat diharapkan semakin menyadari bahwa kasih Allah harus diwujudkan dalam tindakan nyata kepada sesama, terutama mereka yang kecil, lemah, dan menderita.