Tahbisan Uskup Larantuka, Seruan Bela Kaum Lemah
- 11 Feb 2026 17:40 WIB
- Kupang
RRI.CO.D, Kupang - Pentahbisan Episkopal Mgr. Yohanes Hans Monteiro sebagai Uskup Keuskupan Larantuka berlangsung khidmat di Gereja Katedral Reinha Rosari Larantuka, Flores Timur, Rabu, 11 Februari 2026. Peristiwa iman yang dihadiri ribuan umat itu juga menjadi momentum penegasan komitmen Gereja dan pemerintah dalam membela kaum kecil dan terpinggirkan.
Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, yang turut hadir dalam misa tahbisan, menegaskan bahwa Gereja dipanggil untuk selalu berdiri bersama mereka yang lemah.

“Harta karun Gereja adalah orang-orang susah. Bukan mereka yang berkelebihan, tetapi mereka yang miskin dan terpinggirkan,” ujar Gubernur Melki dalam sambutan resepsi tahbisan.
Ia mengaitkan pesan tersebut dengan moto episkopal Mgr. Hans Monteiro, “Unum corpus, unus spiritus, una spes” atau satu tubuh, satu roh, satu harapan. Menurutnya, semangat persatuan dan solidaritas menjadi fondasi penting bagi kehidupan sosial dan pembangunan di NTT.
Sebagai provinsi dengan mayoritas penduduk Katolik, Melki menilai Gereja memiliki peran strategis dalam mendukung pembangunan daerah, terutama dalam bidang sosial, pendidikan, dan pemberdayaan umat. “Peristiwa iman ini kiranya semakin mempererat kerja sama antara pemerintah dan Gereja Katolik demi NTT yang lebih baik,” katanya.
Mgr. Yohanes Hans Monteiro ditunjuk Paus Leo XIV pada 22 November 2025 dan ditahbiskan oleh Mgr. Fransiskus Kopong Kung selaku Uskup Penahbis, didampingi Uskup Agung Ende Mgr. Paulus Budi Kleden dan Uskup Maumere Mgr. Ewaldus Martinus Sedu.
Dalam sambutan perdananya sebagai uskup, Mgr. Hans menegaskan bahwa tahbisan episkopal bukanlah kehormatan pribadi, melainkan panggilan untuk melayani.
“Saya tidak datang sebagai pemilik Gereja, tetapi sebagai pelayan persekutuan. Tahbisan ini adalah rahmat dan tanggung jawab untuk menggembalakan umat,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan makna emosional tahbisan yang berlangsung di katedral tempat ia menerima sakramen-sakramen sejak kecil.
“Gereja ini menyimpan sejarah rohani perjalanan panggilan saya,” kata Mgr. Hans, disambut tepuk tangan ribuan umat yang memadati gereja dan halaman katedral.
Sementara itu, mewakili Menteri Agama RI, Dirjen Bimas Katolik Suparman menyebut tahbisan ini bukan hanya peristiwa gerejawi, tetapi juga momentum nasional.
“Indonesia menerima seorang pemimpin moral baru. Kami percaya tahbisan ini melahirkan energi baru bagi pelayanan Gereja dan kontribusi nyata bagi bangsa,” ujarnya.
Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, turut mengingatkan pentingnya menjaga persatuan di tengah tantangan zaman.
“Gereja tidak akan hancur karena serangan dari luar, tetapi harus waspada terhadap perpecahan dari dalam. Kita dipanggil untuk tetap satu tubuh dalam keberagaman,” katanya.
Tahbisan tersebut turut dihadiri perwakilan Vatikan untuk Indonesia, para uskup dari berbagai keuskupan, anggota DPR RI, pimpinan DPRD NTT, kepala daerah se-daratan Flores, serta umat dari berbagai wilayah Indonesia. Dengan tahbisan ini, Keuskupan Larantuka memasuki babak baru kepemimpinan, di tengah harapan besar agar Gereja terus hadir sebagai rumah bagi mereka yang kecil, lemah, dan membutuhkan harapan. (As)