Generasi Sandwich: Terjepit Kini Dinamai Sejak 1981
- 04 Feb 2026 07:53 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Istilah generasi sandwich belakangan ini terasa sangat populer di Indonesia. Seolah-olah ia adalah istilah baru yang muncul dari realitas kekinian.
Padahal, faktanya, istilah ini telah diperkenalkan sejak lama. Pada tahun 1981, Dorothy A. Miller, seorang profesor sosiologi di Amerika Serikat, memopulerkan istilah sandwich generation.
Ia menggunakan istilah tersebut untuk menggambarkan orang dewasa umumnya berusia 30 hingga 50 tahun yang berada dalam posisi “terjepit”: harus menanggung orang tua yang telah lanjut usia sekaligus anak-anak yang masih bergantung secara ekonomi.
Seperti sebuah sandwich, mereka ditekan dari atas dan bawah. Pertanyaannya kemudian, mengapa istilah ini baru populer di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir?
Ada beberapa faktor yang membuat istilah generasi sandwich terasa begitu relevan dan akhirnya ramai digunakan belakangan ini. Pertama, biaya hidup yang terus meningkat, sementara gaji cenderung stagnan.
Berbeda dengan generasi orang tua kita yang relatif lebih mudah memiliki rumah atau aset, generasi saat ini menghadapi kenyataan pahit: harga properti dan aset melambung tinggi, sementara penghasilan tidak berbanding lurus dengan kenaikan tersebut. Memiliki rumah bukan lagi target realistis bagi banyak orang, melainkan mimpi yang terus ditunda.
Kedua, perubahan struktur keluarga. Pada masa lalu, orang tua kita umumnya memiliki banyak anak, sehingga beban ekonomi dan tanggung jawab keluarga dapat dibagi secara gotong royong.
Kini, keluarga semakin kecil. Anak sering kali hanya satu atau dua orang. Akibatnya, satu individu harus memikul banyak peran sekaligus sebagai pencari nafkah, pengasuh, dan penopang keluarga.
Ketiga, dan mungkin yang paling berpengaruh, media sosial memberi nama pada rasa lelah. Sebelum media sosial hadir, banyak orang menjalani tekanan hidup secara diam-diam.
Kini, cerita tentang utang, cicilan, orang tua yang sakit, dan biaya pendidikan anak dibagikan secara terbuka. Dari sanalah muncul satu istilah yang terasa mewakili semuanya: generasi sandwich.
Popularitas istilah ini bukan semata karena tren, melainkan karena terlalu banyak orang merasa berada di posisi yang sama. Bukan karena mereka lemah.
Melainkan karena realitas hidup memang semakin rapat dari segala sisi.(TP)