Maulid: Tradisi yang Tidak Berasal dari Islam
- 23 Jan 2026 08:30 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, kupang-Setiap tahun, umat Islam kembali memasuki satu fase yang nyaris selalu memantik perdebatan: perayaan Maulid Nabi. Spanduk terpasang, masjid penuh, shalawat menggema. Di sisi lain, ada suara yang memilih diam, bahkan menolak. Pertanyaannya sederhana tapi krusial: apakah Maulid benar-benar berasal dari ajaran Islam?
Jika jawabannya ditarik ke akar sejarah dan dalil, maka kesimpulannya cukup jelas: Maulid tidak berasal dari Islam dalam pengertian syariat yang dicontohkan Nabi Muhammad ﷺ dan generasi awal umat ini.
Tidak Ada di Zaman Nabi dan Sahabat
Fakta pertama yang tak bisa dibantah adalah ini: Rasulullah ﷺ tidak pernah merayakan Maulidnya sendiri. Para sahabat—yang cintanya kepada Nabi tak perlu diragukan—juga tidak pernah mengadakan perayaan kelahiran beliau. Begitu pula generasi setelahnya: tabi‘in dan tabi‘ut tabi‘in.
Padahal, jika Maulid adalah bagian dari ibadah atau sarana utama mengekspresikan cinta kepada Nabi, tentu generasi terbaik umat ini tidak akan melewatkannya. Apalagi mereka adalah orang-orang yang paling memahami makna cinta, penghormatan, dan pengagungan kepada Rasulullah ﷺ.
Muncul Berabad-Abad Kemudian
Secara historis, perayaan Maulid baru dikenal beberapa abad setelah wafatnya Nabi ﷺ, dan banyak sejarawan mencatat praktik ini dipopulerkan pada masa Dinasti Fathimiyah. Artinya, Maulid adalah produk sejarah, bukan produk wahyu.
Ini penting ditekankan agar umat bisa membedakan antara ajaran agama dan tradisi keagamaan. Tidak semua yang berlabel “Islam” otomatis bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah.
Masalahnya Ada pada Klaim Ibadah
Perdebatan Maulid sejatinya bukan soal shalawat, ceramah, atau sedekah—semua itu jelas dianjurkan dalam Islam. Persoalannya muncul ketika Maulid diposisikan sebagai:
ibadah khusus,
ritual tahunan,
sarana mendekatkan diri kepada Allah dengan keutamaan tertentu.
Dalam kaidah Islam, ibadah bersifat tauqifiyyah—harus ada dalil. Rasulullah ﷺ telah mengingatkan:
“Barangsiapa mengada-adakan perkara baru dalam urusan agama kami ini yang tidak berasal darinya, maka ia tertolak.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dari sini, wajar jika banyak ulama menyimpulkan bahwa Maulid, dalam bentuk ritual keagamaan, termasuk perkara baru dalam agama.
Cinta Nabi Tidak Butuh Perayaan
Ironisnya, Maulid sering dibela atas nama “cinta kepada Nabi”. Padahal, cinta dalam Islam tidak diukur dari seremonial, melainkan dari ketaatan dan keteladanan. Rasulullah ﷺ sendiri menegaskan:
“Jika kalian mencintaiku, ikutilah aku.”
Mengikuti sunnah Nabi dalam akhlak, ibadah, muamalah, dan cara hidup—itulah bukti cinta yang sesungguhnya. Bukan satu hari perayaan, lalu sebelas bulan berikutnya sunnah ditinggalkan.
Penutup
Mengatakan bahwa Maulid tidak berasal dari Islam bukan berarti membenci Nabi ﷺ. Justru sebaliknya, itu adalah upaya menjaga agama agar tetap murni sebagaimana diwariskan oleh beliau dan para sahabatnya.
Islam tidak kekurangan cara untuk mencintai Rasulullah ﷺ. Yang sering kurang justru kesungguhan untuk meneladaninya.