Mengurai Benang Kusut Antara Potensi dan Paradoks Pariwisata-NTT
- 17 Nov 2025 13:55 WIB
- Kupang
KBRN,Rote: Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan provinsi kepulauan yang terletak di bagian tenggara Indonesia yang terkenal sebagai rumah bagi lebih dari 500 pulau yang memukau. Sejak lama, NTT telah diakui sebagai salah satu mutiara pariwisata Indonesia berkat kekayaan alam dan budayanya yang unik, keunikan ini menempatkan pariwisata sebagai harapan bagi pemerintah daerah untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan pekerjaan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa jumlah perjalanan wisatawan domestik dan mancanegara tujuan NTT pada tahun 2024 sebanyak 8.139.288 perjalanan yang didominasi oleh wisatawan nusantara, jumlah ini terus meningkat secara signifikan selama lima tahun berturut-turut. Selain itu, jumlah tamu hotel mancanegara dan domestik pada tahun 2024 tercatat sebanyak 1.176.467 jiwa yang juga meningkat secara terus-menerus selama lima tahun terakhir, namun, di balik potensi besar tersebut tersembunyi sebuah ironi paradoks yang menjadikan pariwisata seperti pisau bermata dua, sektor pariwisata menjanjikan kekayaan bagi daerah tujuan, tetapi sebagian besar keuntungannya tidak dapat dinikmati masyarakat lokal.
Terdapat kontradiksi yang menonjol antara potensi alam dan budaya daerah yang luar biasa dengan kenyataan bahwa manfaat ekonomi dari sektor ini belum terdistribusi secara inklusif dan merata, misalnya potensi ekowisata dan surfing kelas dunia dengan isu keberlanjutan ekonomi lokal di Rote Ndao, meskipun Rote menarik banyak peselancar internasional ke kawasan seperti Nemberala dan Bo'a, paradoks muncul karena dominasi kepemilikan lahan dan usaha penginapan oleh pihak asing atau investor luar yang menyebabkan kebocoran ekonomi di mana keuntungannya sebagian besar tidak dinikmati secara maksimal oleh masyarakat Rote Ndao sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan yang gencar justru menimbulkan kekhawatiran akan ketidakadilan sosial di mana keuntungan didominasi oleh investor luar, sementara itu masyarakat lokal sering terpinggirkan dari kepemilikan usaha atau bahkan terancam kehilangan akses ke sumber daya mereka yang menunjukkan adanya kesenjangan besar antara potensi global dan realitas ekonomi lokal.
Oleh karena itu, meskipun jumlah wisatawan baik domestik maupun mancanegara terus mencatat peningkatan yang signifikan dari tahun ke tahun, sebagian besar uang yang dibelanjakan oleh wisatawan tersebut terus keluar dari perekonomian daerah karena dominasi investasi non-lokal dalam sektor akomodasi, transportasi, dan operator tur skala besar serta tingginya ketergantungan pada pasokan dari luar daerah seperti makanan, minuman, dan perlengkapan akomodasi. Akibatnya, pendapatan dari sector pariwisata tidak berputar maksimal di tingkat lokal untuk menstimulasi sektor riil masyarakat, tetapi hanya menyentuh permukaan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Jika dilihat secara ekonomi, kontribusi sektor pariwisata yang ditunjukkan melalui Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum terhadap PDRB di NTT pada tahun 2024 hanya sebesar 0,71% di mana angka ini tergolong masih rendah, hal ini menunjukkan bahwa pariwisata dianggap sebagai sektor nonbasis yang cenderung tidak memberikan dampak besar bagi perekonomian sehingga perlu ditingkatkan untuk mencapai pertumbuhan yang maksimal.
Jika dilihat dari penyerapan tenaga kerja, sektor pariwisata di NTT hanya menyerap sebanyak 1,46%, rendahnya penyerapan tenaga kerja di sektor ini mengimplikasikan bahwa sektor pariwisata belum mampu menjadi motor penggerak utama dalam pengentasan pengangguran. Angka ini mencerminkan adanya kesenjangan antara potensi destinasi wisata yang besar dengan kapasitas riil daerah dalam menciptakan lapangan kerja formal yang berujung pada kontribusi PDRB pariwisata yang belum optimal.
Jika potensi ini tidak segera dioptimalkan melalui investasi, pelatihan, dan pengembangan fasilitas yang terintegrasi, manfaat ekonomi dari pariwisata berisiko hanya dinikmati oleh pihak luar, sedangkan masyarakat lokal tetap menghadapi masalah pengangguran dan ketergantungan pada sektor lain. Selain itu, data BPS juga menunjukkan bahwa Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel non bintang hanya mencapai 17,23% yang mengindikasikan adanya kelebihan suplai infrastruktur akomodasi yang telah menggunakan sumber daya secara tidak efisien.
Indikasi ini diperkuat oleh beberapa faktor lain seperti rata-rata lama menginap sangat rendah yang berdurasi antara 1,41 hingga 1,76 malam yang menunjukkan bahwa hotel kesulitan untuk mempertahankan tamu yang menginap sehingga cepat kosong kembali. Durasi singkat ini mencerminkan wisata yang cenderung menguntungkan korporasi besar dengan pengeluaran wisatawan yang lebih banyak mengalir ke perusahaan di luar daerah daripada ke UMKM lokal.
Akar permasalahan dari rendahnya durasi tinggal wisatawan ini salah satunya keterbatasan dan kurangnya integrasi produk wisata di mana destinasi hanya menawarkan atraksi bersifat sekali lihat sehingga wisatawan merasa dapat mengeksplorasi semuanya dalam waktu singkat. Permasalahan ini diperparah oleh infrastruktur dan fasilitas pendukung yang belum optimal terkait konektivitas antar objek wisata, pilihan akomodasi yang kurang kompetitif, serta minimnya fasilitas penunjang seperti restoran atau tempat hiburan yang mendorong pengeluaran dan perpanjangan masa inap.
Ironisnya, meskipun NTT merupakan salah satu provinsi dengan jumlah bandara terbanyak di Indonesia, akses ke berbagai destinasi terhambat oleh harga tiket pesawat yang sangat mahal yang secara signifikan membatasi minat wisatawan non-premium. Solusi yang dapat ditawarkan untuk mengatasi permasalahan rendahnya durasi tinggal wisatawan di NTT berpusat pada dua pilar utama antara lain peningkatan konektivitas antar objek wisata dan efektivitas pengeluaran per kapita wisatawan.
Strategi utama dimulai dari peningkatan konektivitas dan aksesibilitas antar objek wisata baik melalui optimalisasi frekuensi penerbangan maupun pengembangan sistem angkutan laut yang efisien, upaya ini mencakup optimalisasi transportasi antarpulau dan perbaikan infrastruktur darat. Untuk transportasi antarpulau, diperlukan insentif agar maskapai dapat meningkatkan frekuensi perjalanan dan membuka rute perintis yang menghubungkan antar objek wisata yang potensial dikombinasikan dengan pengembangan sistem angkutan laut yang terjadwal dan biaya yang terjangkau.
Secara paralel, perbaikan infrastruktur jalan di dalam pulau-pulau juga harus diprioritaskan untuk memangkas waktu tempuh perjalanan darat yang didukung oleh penyediaan layanan transportasi lokal yang bersertifikasi. Melalui integrasi seluruh moda transportasi ini, hambatan utama bagi wisatawan untuk memperpanjang waktu tinggal dan mengeksplorasi lebih banyak destinasi di NTT perlahan akan memudar.
Sementara itu, untuk meningkatkan kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian di NTT dapat dilakukan melalui peningkatan efektivitas pengeluaran per kapita dari wisatawan yang diwujudkan melalui penarikan retribusi dari perusahaan non-lokal termasuk akomodasi berskala besar yang memegang peran sentral dalam rantai pasok pariwisata. Mekanisme ini dapat diwujudkan melalui penerapan iuran atau retribusi pembangunan pariwisata yang dikenakan kepada hotel atau resort serta resto non-lokal, selain itu, pemerintah daerah perlu menstandardisasi dan mengintegrasikan sistem ticketing di seluruh objek wisata untuk memastikan seluruh pendapatan retribusi atau tiket masuk dikelola secara efisien dan transparan ke kas daerah sekaligus memberikan insentif pajak atau retribusi bagi perusahaan yang berkomitmen menggunakan rantai pasok dan tenaga kerja lokal.
Penulis: Raina Rega, S.Tr.Stat, Statistisi Ahli Pertama dan Nugroho P. Aji, S.Tr.Stat, Pranata Komputer Ahli Pertama BPS Kabupaten Rote Ndao.