Pola Asuh yang Tepat, Efektif Bentuk Karakter Anak
- 13 Jan 2025 14:04 WIB
- Kupang
KBRN, Kupang: Para ilmuwan telah lama memperdebatkan bagaimana pola pengasuhan orang tua berpengaruh terhadap perkembangan anak. Menurut Nationalgeographic, pada tahun 1960-an, seorang psikolog, Diana Baumrind, mengklasifikasikan tiga pendekatan berbasis penelitian untuk pengasuhan anak, seperti pengasuhan otoriter, yang melibatkan aturan ketat, harapan tinggi dari orang tua dan disipilin yang keras, pengasuhan otoriter yang dicirikan hubungan yang dekat dan penuh kasih sayang serta membimbing anak-anak untuk memenuhi standar yang tinggi, dan pengasuhan permisif, yang dicirikan oleh kehangatan dan sedikit aturan atau harapan saat anak-anak menghadapi situasi sendiri serta pengasuhan yang lalai atau tidak terlibat yang ditambahkan dalam pola tersebut.
Menurut para peneliti, ada beberapa pola asuh terbaru yang dapat diterapkan oleh orang tua, dengan melihat potensi konsekuensi bagi masing-masing anak, diantaranya adalah:
1. Pola asuh yang lembut
Pola ini dikenal karena mengutamakan kasih sayang, kehangatan dan rasa hormat. Metode ini merupakan pendekatan yang telah populer dalam beberapa tahun terakhir.
Ciri utamanya adalah fokus pada pembinaan ikatan yang kuat antara anak dan orang tua mereka. Pola ini juga dapat terlihat seperti pola asuh yang otoriter atau permisif.
2. Pola asuh bajak salju
Orang tua yang menganut pola asuh ini, seringkali mencoba menyingkirkan rintangan dari jalan hidup anak-anak mereka. Niat orang tua yang terlihat baik, karena tidak ingin anak-anak mereka berjuang atau merasa tertekan, namun kenyataannya hal ini tidak realistis, karena tantangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan.
Penelitan telah menemukan, ketika orang tua merasa cemas tentang potensi ancaman yang mungkin dihadapi oleh anak-anak, kecemasan ini dapat ditularkan kepada anak-anak, yang berkontribusi terhadap kecemasan mereka sendiri dan intoleransi terhadap ketidakpastian. Pola asuh bajak salju merupakan pendekatan berbasis rasa takut, yang dapat menjadi bumerang bagi orang tua sendiri.
3. Pola asuh helikopter
Meski istilah ini merujuk pada orang tua yang selalu mengawasi anak-anak, hal ini juga berarti sikap mengontrol dan terlalu protektif, dan siaga setiap saat. Namun, sama halnya dengan pola asuh snowplow, pola asuh ini tidak membantu anak-anak belajar untuk melewati rintangan atau mengembangkan ketahanan mereka.
Selain itu, penelitan menemukan, bahwa pola asuh helikopter oleh para ibu, telah dikaitkan dengan penggunaan alkohol yang besar di kalangan remaja putri mereka. Studi ini menunjukkan korelasi antara pola asuh helikopter dan penggunaan alkohol oleh remaja, dan dikaitkan dengan lebih banyak depresi, karena anak menjadi tergantung pada orang tua, dan hak anak seolah dirampas oleh orang tua mereka.
4. Pola asuh bebas atau pola asuh panda
Kebalikan dari pola asuh helikopter, pola ini menekankan kemandirian dan kebebasan anak. Sisi positifnya, gaya ini dapat membantu anak mengembangkan kemandirian dan rasa percaya diri.
Namun, sisi lainnya adalah dikhawatirkan anak akan memiliki terlalu banyak kebebasan dalam bidang kehidupan yang belum siap mereka tangani. Meski demikian, beberapa penelitian menunjukkan, metode ini dapat mendorong mobilitas anak untuk mandiri, dan dikaitkan dengan kesehatan fisik dan kesejahteraan psikologis yang lebih baik.
5. Pola asuh harimau
Meski sudah jarang, namun pola ini masih ada dan kini telah diteliti lebih luas daripada banyak gaya pengasuhan yang lain. Dipopulerkan pada tahun 2021, dengan diterbitkannya memoar Amy Chua Battle Hymn of The Tiger Mother, pola ini mengambil pendekatan yang ketat dan menuntut dalam membesarkan anak, dengan harapan dan standar yang tinggi serta tingkat dukungan emosional yang rendah.
Penelitian menemukan, pola asuh ini dikaitkan dengan respons stres yang lebih tinggi, sebagaimana diukur dengan kadar kortisol pada anak. Anak yang dibesarkan dengan gaya ini, lebih mungkin mengalami kecemasan, depresi dan keterasingan yang lebih besar dari orang tua mereka.
6. Pola asuh mercusuar
Salah satu gaya pengasuhan terbaru, pola asuh mercusuar, istilah yang dicetuskan oleh Ginsburg, tidak seketat pola asuh harimau, tetapi juga tidak lepas tangan seperti pola asuh bebas. Orang tua menawarkan bimbingan dan sumber dukungan yang konsisten, dan membiarkan anak mengambil keputusan.
Hal ini berarti, orangtua tetap berada di posisi mereka, dan bukan seperti memindahkan mercusuar semakin dekat ke anak. Pola asuh ini disebut juga pola asuh seimbang, dan jika orang tua berperan sebagai pembimbing yang penuh kasih sayang dan menetapkan batasan yang tepat, maka anak-anak akan tumbuh menjadi yang terbaik serta menguatkan hubungan orang tua dan anak.
Dari semua pola asuh ini, karakteristik tertentu sangat dibutuhkan untuk menciptakan pola asuh yang efektif, seperti adanya hubungan emosional yang kuat antara orang tua dan anak, yang membuat anak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Penting bagi orang tua untuk dapat melihat dunia melalui mata anak mereka, sambil membantu mereka merasakan individualitas dan kenyamanan dengan semua perasaan yang dimilik anak. (JR)