Liku-Liku dan Tantang Pra PON 2019 dan PON XX 2021 NTT Penuh Dinamika

KBRN, Kupang : Persiapan 89 atlet yang tersebar di 12 cabang olahraga di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Tahun 2020 di Provinsi Papua yang terunda pelaksanaannya ke Oktober 2021 dilalui penuh tantangan.

Tantangan ini sungguh dirasakan dan dialami insane olahraga NTT, dan semuanya berjalan tidak semudah dan semulus persiapan PON-PON sebelumnya sesuai rancangan KONI NTT sejak Pra PON Tahun 2019.

Pada hal agasan awal terselenggaranya Pekan Olahraga Nasional atau PON secara universal di Tanah air  sejak tahun 1948 merupakan wadah mencari bibit-bibit atlet berbakat di setiap Provinsi dari berbagai cabang olahraga, untuk dipersiapkan selanjutnya mengikuti even-even pada jenjang internasional sepert Sea Games, Asian Games, maupun Olimpiade ataupun kejuaraan dunia sesuai potensi prestasi kecabangan olahraga di setiap Provinsi.

Akan tetapi gelora Pekan Olahraga Nasional yang dikumandangkan sejak tahun 1948 itu, olahraga tak melulu dimaknai demi prestasi dan kesehatan semata.

Akan tetapi lebih sebagai perjuangan dan pembangunan mental dan spirit anak bangsa dalam membangun rasa solidaritas, kekeluargaan, persaudaraan, persahabatan, dan rasa cinta antar anak bangsa.

Semangat ini tentunya membutuhkan proses panjang mengikuti multi event ini. Dalam proses persiapan Kontingen tidak terlepas dari ketersediaan anggaran.

Anggaran yang diperoleh pun rata-rata setiap daerah di provinsi masih menggantungkan alokasi dari APBD Provinsi maupun Kabupaten-Kota.

Kondisi demikian sungguh dialami KONI Provinsi Nusa Tenggara Timur sebagai payung organisasi berbagai cabang olahraga dalam mempersiapkan atlet sejak Pra Pekan Olahraga Nasional (Pra PON) pada tahun 2019 -PON XX Tahun 2020 di Papua yang tertunda ke Tahun 2021 akibat pandemic covid-19.

Dinamika yang tercatat oleh RRI di Kupang sejak Pra PON 2019, anggaran persiapan para atlet mengikuti ajang ini untuk mendapatkan tiket ke PON sungguh memilukan.

Ada cabang olahraga yang berjuang sendiri-sendiri mendapat anggaran, ada pula yang masih tetapi menggantungkan harapannya kepada KONI karena ketiadaan anggaran.

Pada Selasa, (23/07/2019) KONI NTT menggelar rapat bersama Komisi Lima DPRD NTT membahas anggaran persiapan atlet NTT dari sejumlah cabang olahraga mengikuti Pra PON senilai 18 Miliar rupiah.

Rapat yang dipimpin Ketua Komisi Lima DPRD NTT Jimmi Sianto pada saat, serentak menyatakan dukungan atas pengajuan anggaran 18 miliar rupiah dan disepakati seluruh Anggota Komisi V yang hadir pada saat itu. Pada rapat tersebut Jimmi Sianto mengemukakan bahwa, secara umum seluruh pimpinan dan anggota sangat mendukung pengajuan sisa anggaran persiapan dan keikutsertaan kontingen NTT dalam Prakualifikasi PON tahun 2019 senilai 18 miliar rupiah.

Akan tetapi dalam perjalanan, semua rancangan tersebut tidak semulus yang dihasilkan dalam sidang di Rumah Aspirasi NTT itu.

Anggaran persiapan dan pemberangkatan Tim Pra PON NTT tersebut tak kunjung dicairkan hingga semua cabang olahraga yang mengikuti Pra PON pulang ke Kupang.

Anggaran tersebut baru dicarikan pada akhir tahun, Desember 2019.

“Kita minta teman-teman KONI nanti koordinasi dengan cabang-cabang olahraga untuk menyesuaikan dengan kebutuhan anggaran yang sekarang ini. Karena kita harus menyesuaikan dengan kondisi keuangan daerah. Tapi pada prinsipnya kita sangat mendukung upaya KONI mendapatkan anggaran agar persiapan para atlet kita di NTT bisa mengiktu Pra PON dan bisa meraih tiket ke PON Papua tahun depan,” ungkap Jimmi Sianto, Selasa, (23/07/2019) di Ruang Sidang Komisi V DPRD NTT.

Ketua Umum KONI NTT Andre Koreh pada saat itu pun mengapresiasi inisiatif Komisi lima dan Badan Anggaran menggelar pertemuan bersama KONI membahas alokasi anggaran Pra Kualifikasi PON 2019.

Ia berharap, pemahaman dan pengertian baik wakil rakyat di Rumah DPRD Nusa Tenggara Timur bersama-sama memperjuangkan alokasi anggaran 18 miliar rupiah untuk persiapan pengurus, pelatih, dan atlet mengikuti Pra PON tidak terhambat.

Sementara terkait kendala anggaran persiapan Pra PON tahun 2019 Andre Koreh sangat meminta atlet dan pelatih tidak memikirkan anggaran, akan tetapi mereka tetap berlatih dan mempersiapkan diri dengan tetap berpedoman pada semangat berprestasi, sehingga target NTT meloloskan atlet sebanyak-banyak pada PON XX Tahun 2020 mendatang di Provinsi Papua, dapat terwujud  (akhirnya tertunda ke 2021 karena pandemic covid-19).

Kondisi yang sama juga dialami 89 atlet PON NTT yang tersebar di 12 cabang olahraga setelah mengantongi tiket PON dalam sesi persiapan mengikuti PON XX Tahun 2020 sebelum tertunda ke tahun 2021 di Papua karena pandemic covid-19 yang merebak sejak Maret 2020.

Kondisi tersebut semakin terpuruk karena atlet harus berhenti mempersiapkan diri mengikuti PON di Papua, sambil menunggu waktu penundaan pelaksanaan PON secara resmi oleh Presiden Jokowi ke Oktober 2021.

Dalam perjalanan semakin merebaknya covid-19 pada masa new normal sejak Juli 2020, para atlet diperbolehkan menjalani latihan secara mandiri maupun bersama-sama, akan tetapi harus mematuhi protokol kesehatan covid-19 yakni, menjaga jarak, memakai masker, mencuci tangan, menyediakan handsanitezer, dan air cuci tangan secukupnya di tempat-tempat latihan.

Selama masa itu hingga akhir tahun 2020 89 atlet NTT yang lolos PON pun diberi waktu latihan lebih panjang dengan biaya sendiri. Walau pun pada akhirnya hak-hak mereka baru terpenuhi pada akhir tahun 2020.

Dana tersebut baru digantikan Pemerintah melalui Dana Hibah ke KONI NTT kepada 12 pengurus cabang olahraga peserta PON pada akhir tahun 2020.

Kesulitan mendapatkan anggaran persiapan 89 atlet PON NTT terbawa hingga akhir Mei 2021.

Jadwal TC Desentralisasi yang ditetapkan KONI mulai Januari-Maret 2021 pun terus bergesar hingga akhir Mei.

Sementara TC Sentralisasi latihan terjadwal mulai April-September, bergeser waktunya ke Juni-September 2021 karena tidak ada kepastian alokasi anggaran oleh Pemerintah melalui Hibah Ke KONI senilia 38 Miliar rupiah.

Kondisi tersebut terkuak dalam rapat bersama KONI dan 12 Pengurus cabang olahraga peserta PON yang berlangsung di Hotel Pelangi Kota Kupang pada Sabtu (01/05/2021) dipimpin Ketua KONI NTT Dr. Adreas Welem Koreh, ST, MT saat itu.

“Dengan terlambatnya pencairan dana PON tentunya sangat mempengaruhi persiapan KONI menuju PON dua puluh. Baik biaya pelatdanya, biaya peralatannya, keberangkatan kontingen dari Kupang-Jayapura, Jayapura-Kupang, akomodasi dan konsumsi yang tidak menjadi tanggungjawab PB. PON, transportasi lokal selama pelaksanaan PON, uang saku atlet dan lain-lain,” ungkap Andre Koreh dihadapan pengurus, Pelatih, dan Manager Official peserta PON 2021 NTT.

“Informasi dari Bendahara dana hibah dari Badan Keuangan, KONI mendapatkan alokasi hibah empat miliar rupiah dan sudah meminta KONI menyiapkan NPHDnya atau Nota Perjanjian Hibah Daerah dan administrasi.  Dan pada dikonfirmasi apakah bantuan rutin untuk Pengprov cabang olahraga seperti tahun lalu (2020), atau seperti, kita belum tau. Jadi yang sudah pasti itu ada anggaran empat miliar rupiah tapi itu rutin katanya. Nah kalau hanya empat miliar kita tidak pigi Papua,” tegas Andre Koreh.

Pada rapat yang berlangsung pada 01 Mei 2021 Ketua KONI NTT Andre Koreh mengatakan, untuk dukungan dana persiapan ke PON Papua, KONI NTT sudah mengajukan anggaran ke Pemerintah senilai kurang lebih 38 miliar rupiah lebih sejak 2019 melalui Komisi V DPRD NTT saat ini dipimpin Ketua Jimmi W.B Sianto dan Wakil Ketua Moh. Ansor.

Anggaran tersebut kemudian direfisi pada tahun 2020 senilai 30 miliar dan kemudian dirasionalisasi lagi menjadi 28 Miliar rupiah.

Dari usulan data tersebut, Ketua KONI NTT sangat berharap segera dicairkan lebih awal, sehingga persiapan para atlet ke PON Papua lebih maksimal. Akan tetapi hingga akhir Mei 2021 anggaran tersebut belum ada kepastian dari Pemerintah dan kapan pecairan.

“Untuk dukungan dana tahun 2019 kami sudah mengusulkan 38 miliar rupiah. Tahun 2020 mengusulkan 30 miliar rupiah  dan sudah direvisi. Informasi dari Badan Anggaran Dana PON 20 M, tidak termasuk bonus atlet. Sampai dengan hari ini kita masih berpatokan dengan angka 20 miliar rupiah lebih, dan kapan realisasinya kita belum dapat informasi resmi dari Badang Anggaran Daerah termasuk bagaimana bentuk pertanggungjawabannya. Kita belum tau pasti informasinya,” ungkap Andre Koreh lebih lanjut di Hotel Pelangi Kota Kupang, Sabtu (01/05/2021) malam.

Sementara itu,  berdasarkan catatan KONI NTT, Pelatda Desentralisasi 89 atlet PON NTT, alternative pertama berlangsung dari Januari-Mei sedangkan alternative kedua berlangsung mulai Januari-Juni 2021. Sementara Pelatda terpusat antara Juni-September 2021.

Khusus Pelatda Desentralisasi, rata-rata cabang olahraga perorangan sudah berjalan seperti yang disampaikan Pelatih Atlet PON Kempo Juliana Toh, kecuali cabang olahraga beregu yakni Sepak Bola masih berlangsung mandiri hingga Mei 2021.

“Kalau dari Kempo kita tanggal 10 Januari kita sudah pembukaan pelatda waktu itu kita sama-sama dengan atletik. Dan setelah itu tanggal 11 kita sudah mulai latihan. Atlet kita semua sudah di Kupang dan kitas sudah mulai TC pagi sore di Aula KONI NTT,” ungkap Uli Toh.

Sekertaris Pengurus Provinsi Pertina Nusa Tenggara Timur David Selan dihadapan Pengurus KONI NTT dalam rapat koordinasi persiapan PON XX yang berlangsung pada, Sabtu 01 Mei 2021 di Hotel Pelangi Kota Kupang menegaskan bahwa, cabang olahraga tinju sungguh merasakan kesulitan mempersiapkan 10 atletnya. Walaupun menurut David Selan, dari sepuluh atlet PON Tinju NTT empat diantaranya sedang menjalani latihan khusus di sentra keolahragaan PPLD oleh Dinas Kepemudaan dan Olahraga NTT di Kota Kupang.

Akan tetapi enam atletnya saat ini masih menjalani latihan di Kabupaten Belu dan Sumba Timur, sehingga Manager dan Tim Pelatih sangat kesulitan mengontrol program latihan yang dijalankan.

Oleh karena itu, David Selan meminta KONI agar berupaya segera ada sentralisasi latihan terpusat di Kota Kupang.

Pihaknya juga meminta KONI terus membangun komunikasi dengan Pemerintah dan DPRD NTT agar alokasi anggaran persiapan PON mendapat kepastian dari Pemerintah yang akan dihibahkan ke KONI.

Kendala dan kesulitan mempersiapkan atlet PON NTT menuju Papua pada Oktober 2021 juga diutarakan Manajer cabang olahraga pencak silat Dominggu Haga, selaku Wakil Ketua satu Pengurus IPSI NTT.

Menurut Dominggus, program latihan lima atlet PON pencak silat sangat terganggu walaupun sebagai sedang digodok oleh Pelatih di Sentra Keolahragaan PPLD NTT.

“Ini kami sangat sulit sekali. Kita sudah jadwalkan sebenarnya tanggal tujuh Juni kita sudah tryout, tapi kondisi masih terbatas anggaran sehingga kita belum bisa melakukan tryout, karena memang dana belum,” tegas Dominggus ketika dihubungi RRI di Kupang, kamis (11/06/2021)

“Nah potensi mereka ini medali emas. Nah dengan persiapan seperti kami sangat ragu anak-anak bisa mencapai prestasi maksimal dua medali emas yang ditargetkan KONI NTT ke kami. Nah kalau memang tidak jadi, seharusnya disampaikan secara jujur agar anak-anak tidak kecewa di kemudian hari,” tegasnya lebih lanjut.

Bahkan Wakil Ketua Satu Pengurus IPSI NTT ini juga mengatakan, jika tidak ada anggaran pasti maka akan sangat mengganggu persiapan para atlet NTT menuju PON Papua, apalagi IPSI NTT ditarget oleh KONI harus bisa mendulang medali dua emas.

Pelatih atlet PON cabang olahraga renang Henok Bire juga sangat berharap, alokasi anggaran persiapan atlet PON NTT menuju Papua segera ada kejelasan realisasi dari Pemerintah Porovinsi NTT, sehingga persiapan atlet benar-benar maksimal.

Menurut Henok Bire, persiapan tanpa biaya sangat niscaya mencapai prestasi maksimal karena dalam mempersiapan atlet membutuhan biaya seperti sewa kolam renang, penyediaan vitamin dan makan yang cukup bergizi.

Tantangan ini terus berjalan pada pertengahan Juni 2021. Banyak harapan tryout para atlet PON NTT pun tak kunjung terang benderang.

Masih berjalan dalam suasana bayang-bayang apakah rencana tryout sebagai wadah evaluasi persiapan 89 atlet NTT selaku duta olahraga ke Papua akankan terwujud.

Banyak atlet dan pelatih pun berkisah dan seraya berharap ada ketukan hati Pemerintah dan wakil rakyat di DPRD NTT akan menjawab dan mengibati rasa haus dan asa yang tak kunjung terang.

Pantau RRI di Kupang, jadwal TC sentralisasi latihan sesuai edaran yang dikeluarkan KONI NTT kepada Pengurus 12 Cabang Olahraga di PON Papua 2021 sudah harus berjalan mulai Juni.

Akan tetapi secara factual banyak cabang olahraga belum menjalankan program tersebut karena ketiadaan anggaran.

Persiapan delapan atlet PON Nusa Tenggara Timur Tahun 2021 cabang olahraga atletik yang terpatau langsung oleh RRI di Stadion Oepoi Kupang, Kamis (10/06/2021) pagi, saat ini terus berkembang dan meningkat sejak Januari-uni 2021.

Peningkatan program latihan delapan atlet atletik PON NTT secara tegas disampaikan Pelatih Oliva Sadi/ ketika diwawancarai RRI di Stadion Oepoi Kupang, Kamis (10/06/2021).

Menurut Oliva Sadi, program latihan saat ini sudah pada tahap persiapan khusus menuju Pra Kompetisi.

Pada tahapan ini Oliva Sadi sangat berharap ada moment uji coba, sehingga pelatih dapat mengukur progress dan mental atlet sebelum mengikuti lomba di PON Papua pada 02-15 Oktober 2021.

Salah satu ajang uji coba atau tryout delapan atlet atletik PON NTT adalah, Jateng Open yang direncanakan berlangsung pada Juli 2021.

Rencana tersebut belum mendapat kapastian.

Pelatih PON cabang olahraga atletik lainnya Frans Ferdinan pada kesempatan yang sama mengemukakan bahwa, berdasarkan catatan para pelatih progress persiapan delapan atlet atletik PON NTT 2021 sejak fase persiapan umum sejak Januari-awal Juni 2021 terus meningkat.

Salah satu fase yang diharapkan para pelatih adalah menyiapkan ruang tryout atau uji coba.

Tujuannya adalah untuk mengukur kemampuan dan catatan waktu dari masing-masing atlet sekaligus sebagai bahan evaluasi para pelatih sebelum lomba berlangsung di Papua.

Kedua pelatih atlet atletik PON NTT 2021 Oliva Sadi dan Frans Ferdinan sangat berharap, program latihan dalam sisa waktu sebelum pelaksanaan PON di Papua pada Oktober 2021, perlu ada pembenahan-pembenahan berupa peningkatan daya tahan dan kecepatan atlet.

Karena daya tahan dan kecepatan sangat menentukan hasil yang akan dicapai seorang atlet ketika mengikuti lomba sesuai nomornya masing-masing.

Sementara itu, catatan RRI di Kupang dari KONI Nusa Tenggara Timur (NTT) pada PON XX Tahun 2021  meloloskan atlet terbanyak dari PON-PON sebelumnya.

Jumlah atlet yang tercatat di PON tahun ini sebanyak 89 orang.

Mereka tersebar di 12 cabang olahraga yakni, atletik 08 (delapan) orang, kempo 23 orang, tinju 10 atlet,  pencak silat 6 (enam) atlet, tarung derjat dua orang, criket 14 orang, sepak bola 20 orang, wushu dua orang, taekwondo , muaythai, menembak dan renang masing-masing satu orang atlet.

Dari cabang-cabang olahraga tersebut tercatat sejarah perjalan PON ke PON yang diikuti KONI NTT, sejak 30 tahun yang lalu NTT baru kembali meloloskan cabang olahraga populer yakni Sepak Bola di PON Papua 2021. Sementara itu, dari 89 atlet yang diikutkan ke PON Papua, KONI menargetkan sedikitnya sepuluh medali emas.

Enam dari cabang olahraga Kempo, dua dari tinju, dan dua medali emas lainnya ditargetkan dari cabang olahraga pencak silat.

Dalam kondisi terbatasnya anggaran cabang-cabang olahraga tersebut miris dan pesimis sulit mencapainya karena persiapan kurang maksimal terkendala anggaran. Demikian catatan Khusus Dinamika PON ke-20 Tahun 2021 di Nusa Tenggara Timur sejak Para PON 2019-Juni 2021. (Allo Tani).

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar