Nyepi Kupang Dirangkai Aksi Toleransi
- 13 Mar 2026 04:09 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang – Persiapan menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1948 di Kupang, Nusa Tenggara Timur, tidak hanya diwarnai rangkaian ritual keagamaan, tetapi juga berbagai kegiatan sosial yang menonjolkan semangat toleransi antarumat beragama. Ketua Panitia Pawai Ogoh-ogoh, I Wayan Gede Astawa, mengatakan rangkaian kegiatan Nyepi tahun ini dirancang terbuka dengan melibatkan berbagai lapisan masyarakat sebagai bentuk penguatan harmoni sosial di Kota Kupang.
Rangkaian kegiatan diawali dengan aksi kemanusiaan berupa donor darah yang digelar pada awal Maret lalu. Kegiatan tersebut tidak hanya diikuti umat Hindu, tetapi juga masyarakat umum yang turut berpartisipasi menyumbangkan darah untuk kepentingan kemanusiaan.
Selain itu, panitia juga menggelar kegiatan Saka Pogasewana dengan berbagi takjil dan berbuka puasa bersama masyarakat di Masjid Al-Fitrah Oesapa. Kegiatan ini melibatkan imam masjid serta warga sekitar sebagai simbol kebersamaan lintas agama.


“Seluruh rangkaian kegiatan kami upayakan melibatkan semua lapisan masyarakat. Tidak hanya umat Hindu, tetapi juga masyarakat umum,” ujar Astawa.
Selanjutnya, pada 16 Maret umat Hindu akan melaksanakan upacara penyucian diri dan alam semesta atau Melasti di kawasan Pantai Oivah, tepatnya di Pulau Oivanantha. Puncak rangkaian kegiatan akan digelar pada 18 Maret melalui upacara Tawur Kesanga di kawasan Bundaran El Tari, yang dirangkaikan dengan pawai ogoh-ogoh sebelum umat Hindu memasuki hari suci Nyepi.
Astawa menjelaskan, dalam sejumlah kegiatan budaya biasanya turut melibatkan unsur Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia, bahkan masyarakat lintas agama juga kerap ikut ambil bagian. Namun untuk beberapa kegiatan tahun ini, panitia menyesuaikan keterlibatan lintas unsur tersebut karena bertepatan dengan bulan puasa dan menjelang Hari Raya Idul Fitri, sehingga banyak pihak memiliki agenda masing-masing.
Setelah rangkaian Tawur Kesanga dan pawai ogoh-ogoh, umat Hindu akan menjalani Tapa Brata Penyepian sebagai inti perayaan Nyepi. Rangkaian perayaan kemudian akan ditutup dengan Dharma Santi yang dijadwalkan berlangsung setelah masa libur berakhir.
Bagi masyarakat Kupang, rangkaian perayaan Nyepi tidak hanya menjadi momentum spiritual umat Hindu, tetapi juga ruang memperkuat nilai toleransi dan persaudaraan di tengah masyarakat yang majemuk. (As)