Mutiara Pagi: Memahami Dosa Kelalaian
- 12 Mar 2026 17:47 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID,Kupang: Sikap peduli terhadap sesama menjadi pesan utama yang disampaikan dalam program Mutiara Pagi di Radio Republik Indonesia Pro 1 Kupang, Kamis (5/3/2026). Renungan yang disampaikan oleh Zakarias Paus Tola, S.Fil., Penyuluh Agama Katolik pada Bidang Urusan Agama Katolik Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Nusa Tenggara Timur, mengangkat tema “Memahami Dosa Kelalaian” dengan bacaan Injil Lukas 16:19–31 tentang perumpamaan orang kaya dan Lazarus.
Dalam renungan tersebut dijelaskan bahwa kisah tentang orang kaya dan Lazarus menyoroti pentingnya kepedulian terhadap mereka yang menderita dan tidak mampu menolong diri sendiri. Melalui tulisan Penginjil Lukas, Yesus menyampaikan pesan moral tentang kehidupan manusia di dunia yang bersifat sementara serta adanya kehidupan kekal setelah kematian.
Zakarias Paus Tola menjelaskan bahwa perumpamaan ini terbagi dalam dua bagian besar, yakni kisah kehidupan kedua tokoh di dunia dan kisah kehidupan mereka setelah kematian. Bagian pertama hanya dituliskan secara singkat, sedangkan bagian kedua jauh lebih panjang. Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan manusia di dunia hanya sementara, sementara kehidupan setelah kematian bersifat kekal dan menjadi tempat di mana setiap perbuatan manusia diperhitungkan.
Dalam kisah tersebut, tidak ditemukan tindakan jahat secara langsung yang dilakukan oleh orang kaya terhadap Lazarus. Namun Yesus justru menyoroti dosa kelalaian, yakni sikap tidak peduli terhadap penderitaan sesama. Lazarus digambarkan selalu berada di dekat pintu rumah orang kaya, tetapi ia tidak mendapatkan perhatian ataupun bantuan dari orang tersebut.
Menurut Zakarias, perumpamaan itu mengingatkan bahwa manusia sering kali lebih peduli pada hal-hal besar yang mendatangkan keuntungan atau pujian, namun melupakan orang-orang yang berada dekat dengan mereka yang sedang mengalami kesulitan. Padahal, sering kali mereka yang menderita justru tidak berani meminta pertolongan karena rasa malu atau keterbatasan.
Ia menambahkan bahwa dalam kehidupan sehari-hari, dosa kelalaian dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti mengabaikan orang yang membutuhkan bantuan, enggan terlibat dalam hal baik yang sebenarnya mampu dilakukan, atau menunda untuk berdamai dan saling mengampuni. Sikap tersebut, jika dibiarkan, dapat menjauhkan manusia dari nilai kasih yang diajarkan Kristus.
Lebih jauh, Zakarias juga menyoroti fenomena sikap tidak peduli yang semakin berkembang dalam kehidupan masyarakat modern. Sikap ini sering disebut sebagai indiferen atau sikap cuek, yang lahir dari egoisme, rasa takut untuk bersuara, serta kecenderungan menutup diri terhadap kritik dan nasihat dari orang lain.
Melalui renungan ini, umat diajak untuk menumbuhkan dua sikap penting, yakni kepedulian dan keterbukaan. Kepedulian dapat dimulai dari hal sederhana seperti menyapa tetangga, memperhatikan kesulitan orang lain, serta membantu mereka yang membutuhkan. Sementara sikap terbuka mengajak setiap orang untuk tidak malu menerima bantuan dari sesama. Dengan semangat masa Prapaskah melalui puasa, pantang, dan amal, umat diharapkan mampu membuka hati untuk peduli terhadap sesama serta membiarkan kasih Tuhan bekerja melalui kehidupan bersama.