Timus, Makanan Tradisional Hasil Bumi Nusantara Menggugah Selera

  • 14 Agt 2024 18:47 WIB
  •  Kediri

KBRN, Kediri: Timus merupakan makanan tradisional asli Indonesia dengan bahan dasar yang diolah dari salah satu hasil bumi nusantara, yakni ubi jalar. Dengan sumber karbohidrat yang terdapat didalamnya, timus ubi kerapkali dijadikan alternatif menu sarapan di pagi hari sebelum memulai aktivitas panjang yang membutuhkan energi.

Timus sebenarnya berasal dari Yogyakarta, namun keberadaan kuliner jadul berbahan ubi jalar, gula pasir, serta tambahan sedikit tepung tapioka ini banyak dijumpai juga di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dibalik tampilan timus yang memang sederhana dengan bentuk bulat memanjang, kuliner satu ini memiliki rasa khas yang enak dengan perpaduan antara manis dan gurih.

Cara membuat timus diketahui sangatlah sederhana, dimana langkah pertama yang dilakukan adalah mencuci ubi jalar kemudian merebus dan menghaluskannya dengan diblender atau ditumbuk. Setelah teksturnya berubah menjadi lebih halus dan lembut, ubi jalar dicampurkan dengan gula pasir, ditambahkan tepung tapioka dan kemudian diaduk sampai merata.

Langkah selanjutnya adalah mengolah adonan ubi jalar, gula pasir, dan tepung tapioka yang sudah menyatu dengan membentuknya menjadi bulatan berukuran memanjang. Setelah itu, adonan digoreng hingga berubah warna menjadi kecoklatan dengan tekstur lebih crispy pada bagian luar, namun empuk di bagian dalamnya.

Memasuki musim dingin seperti sekarang, timus ubi menjadi salah satu menu sarapan praktis yang mengenyangkan dan bergizi. Ubi jalar yang mengandung vitamin A dan C, berkalori rendah, mengandung serat dan beta karotin, diyakini sangat cocok untuk program penurunan berat badan karena sensasi yang dihadirkan adalah rasa kenyang lebih lama.

RRI Kediri berkesempatan mewawancarai Mamik (55), warga Bence Kota Kediri yang setiap hari berjualan aneka kue basah di area RS Baptis Kota Kediri.

“ Timus kalau pagi laris manis. Buat sarapan orang-orang yang ngga sempat makan nasi. Harganya juga murah seribu rupiah aja. Anak-anak kecil juga banyak yang suka karena rasanya kan manis legit ya, “ kata perempuan yang sudah mulai menjajakan jajanan tempoe doeloe sejak 2011 ini.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....