Nasi Ibat Kerinci

  • 25 Jul 2024 11:06 WIB
  •  Sungaipenuh

KBRN, Sungai Penuh : Alam Kerinci berada di ujung barat Provinsi Jambi, berbatasan dengan Provinsi Sumatera Barat di sebagian barat dan utara, di selatan berbatasan dengan Provinsi Bengkulu. Alam kerinci terdiri dari dua daerah yaitu Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci. Pada tulisan ini penulis akan membahas tentang tradisi unik dalam kuliner masyarakat melayu alam Kerinci, yaitu nasi Ibat (nasi bungkus).

Nasi Ibat atau nasi yang dibungkus dengan daun pisang adalah nasi hidangan khas Kerinci, yang biasa disajikan pada acara-acara atau kegiatan dalam masyarakat Alam Kerinci seperti acara Kenduri Sko, Upacara Kenduri Pernikahan, Kenduri setelah panen, Khataman Al-Qur’an setelah kematian dan lain-lain, yang mengundang tamu-tamu didusun atau dari luar Kerinci.

Hidangan nasi ibat Alam Kerinci merupkan tradisi khas masyarakat Alam Kerinci sejak ratusan Tahun silam, masih dipertahankan sampai saat ini. Nasi ibat adalah merupakan suatu hal yang wajib bagi masyarakat Alam Kerinci dalam mengadakan acara Kenduri ditengah masyarakat. Keistimewaannya adalah aroma khas yang tercium ketika bungkus pisang dibuka. Biasanya isi dari nasi Ibat adalah nasi putih bersama dengan gulai Merah daging sapi dan gulai cempedak (nangka).

Jamuan makan suku Kerinci memiliki khas tersendiri, nasi dibungkus dengan daun pisang yang disebut dengan sebutan “Nasei Ibeak” ,”ibeak “atau ibat artinya bungkus, nasai artinya nasi. Nasi ibat diletakkan atas talam bundar sebanyak 5-6 ibat /bungkus untuk 3 orang tamu undangan, nasi ibat dihidang diatas tikar yang makan beramai-ramai setiap tamu disediakan 2 ibat nasi dan nasi ibat diletakan diatas talam itu mengandung makna “Sko Tigo Takah yaitu : Sko tanggane, Sko ninek mamak, Sko dapatai”, letaknya nasi ibat tersebut berbentuk segi tiga dan diantara ketiganya diletakkan air minum, pada masa lalu air minum dimasukkan kedalam tempurung yang sudah dikikis sabutnya.

Nasi ibat diletakkan diatas piring yang sudah di isi sepiring gulai merah, biasanya gulai merah itu terdiri dari masakkan daging yang dicampur irisan nangka muda, sebagian lain menggunakan kentang sebagai pengganti nangka muda yang disebut”Gulei Puteh”.

Suku Kerinci pada masa lalu hanya mengenal satu hidangan berupa masakkan” Gulai Merah dengan maksud antara pimpinan dan rakyat, atasan dan bawahan harus merasakan satu kesatuan selera, kesatuan pendapat dan kesatuan masyarakat, serta seiya sekata, kemudik sama kemudik, kehilir sama kehilir.

Dizaman sekarang ini terkadang untuk mendapat daun pisang untuk jadi pembungkus nasi khas Alam Kerinci ini mengalami kesulitan, dikarena berkurangnya tanaman pisang yang ditanam masyarakat. Masyarakat sering mengantinya dengan pembungkus kertas yang di beli dari pasaran untuk memenuhi kebutuhan pembungkus nasi Khas Alam Kerinci ini.

Tradisi Nasi Ibat khas Alam Kerinci merupakan kekayaan budaya lokal daerah yang harus terus dilestarikan agar tidak hilang oleh arus budaya modern yang semakin kuat masuk ketengah masyarakat. Pelestarian budaya Khas Alam Kerinci sangatlah penting dilakukan bagi seluruh masyarakat, terutama generasi muda agar nilai-nilai agama dan budaya tidak hilang oleh derasnya pengaruh budaya sekuler dan barat yang masuk ketengah masyarakat.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....