Papeda Bungkus atau Fienukhu Masyarakat Sentani
- 23 Jul 2024 21:37 WIB
- Jayapura
KBRN, Jayapura: Sagu yang di olah menjadi papeda merupakan makanan pokok tradisional Papua, salah satunya masyarakat yang mendiami pesisir Danau Sentani. Khasnya, papeda di wilayah ini dibungkus daun yang disebut fienukhu, yang dalam bahasa Sentani berarti papeda bungkus.
Papeda bungkus ala masyarakat Sentani menggunakan daun sejenis pisang-pisangan yang disebut fotofe/forofe. Melansir Warisan Budaya Kemdikbud, fienukhu penting dalam upacara pembayaran mas kawin.
Fienukhu menjadi lambang kesanggupan dan kehormatan pihak perempuan, untuk menyediakannya bersama makanan tradisional lainnya. Makanan ini biasanya diisi bersama ikan gabus dalam keranjang dari daun kelapa yang dianyam menjadi satu paket (karkir).
Proses pembuatannya tidak jauh berbeda dengan pembuatan papeda pada umumnya. Pihak perempuan biasanya akan memasukkan tepung sagu ke dalam tempat tapisan/saringan berbentuk niru kecil yang disebut tatohing.
Selanjutnya, diberi air sedikit demi sedikit, terus menerus sambil diremas dan diayak di atas belanga yang disebut sempe. Hasil saringannya berupa tepung halus akan tertinggal di dalam tatohing.
Hasil saringan dibiarkan beberapa lama agar pati sagu mengendap,mengeluarkan air berwarna merah berbau asam yang harus dibuang. Setelah itu pati sagu disiram air panas mendidih sambil terus diaduk dengan cepat dan merata.
Pati sagu akan mengalami gelatinisasi transparan akibat disiram air mendidih yang kemudian disebut papeda. Dalam keadaan hangat, papeda dibentuk lalu dibungkus daun, dan jadilah fienukhu yang dapat bertahan tiga sampai empat hari.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....