Budaya Minum Kopi Pancong, Cara Beda Ngopi di Aceh
- 03 Jul 2024 23:45 WIB
- Banda Aceh
KBRN, Banda Aceh: "Bang kupi pancong saboh" (Bang kopi pancung satu) Begitulah yang sering terdengar saat pengunjung memesan kopi di warung kopi yang ada di Aceh. Di Aceh, masyarakatnya terkenal dengan kebiasaan unik dalam menikmati kopi. Salah satu tradisi minum kopi yang khas di daerah ini adalah kupi pancong.
Nama "kupi pancong" berasal dari penyajiannya yang hanya setengah cangkir, mirip dengan dipotong atau dipancung. Meskipun hanya setengah cangkir, bubuk kopi yang digunakan tetap satu porsi penuh kopi biasa, sehingga menghasilkan rasa yang sangat kuat, aroma yang tajam, dan tekstur yang pekat.
Walaupun menggunakan jumlah bubuk kopi yang sama, kupi pancong tidak memiliki perbedaan rasa yang mencolok dibandingkan dengan kopi biasa. Perbedaannya hanya terletak pada volume penyajian yang lebih kecil dan harganya yang sedikit lebih ekonomis. Selain karena hanya disajikan setengah cangkir, nama kopi pancong juga berasal dari kebiasaan masyarakat Aceh yang sering menyajikan kopi ini dengan kue pancong. Kue pancong menjadi pendamping yang menambah kenikmatan saat menikmati kopi ini.
Kupi pancong umumnya lebih disukai oleh kalangan yang lebih tua dan sering ditemukan di pedesaan. Sementara itu, generasi muda cenderung jarang menikmati kupi pancong. Kopi pancong biasanya dinikmati dengan cara diseruput perlahan, sehingga menghabiskannya waktu yang cukup lama. Namun, hal ini bukan disebabkan oleh porsinya yang hanya setengah. Bagi masyarakat Aceh, meminum kopi bukan hanya soal menikmati cita rasanya, melainkan juga dimanfaatkan sebagai momen untuk berdiskusi dan mempererat interaksi sosial.
Orang Aceh memang terkenal senang menghabiskan waktu berjam-jam untuk berbincang di warung kopi, menikmati suasana sambil menyeruput kopi. Kebiasaan ini tidak hanya mempererat hubungan sosial di antara mereka, tetapi juga membuat setiap individu di masyarakat Aceh sangat akrab satu sama lain.
Dikutip dari laman Indonesia Kaya, tradisi minum kopi ini telah berkembang turun temurun seiring perkembangan Aceh sebagai salah satu daerah produsen kopi kelas dunia. Sejak era kolonial Belanda hingga sekarang, setidaknya ada dua daerah sentra produksi kopi di Aceh, yaitu Ulee Kareng dan Gayo. Kopi Ulee Kareng yang termasuk jenis kopi Robusta dihasilkan dari Kecamatan Ulee Kareng.
Sementara, kopi Gayo yang termasuk jenis Kopi Arabika di pasar dunia termasuk kelas kopi premium. Kedua jenis kopi inilah yang mengharumkan nama Aceh sebagai salah satu produsen kopi terbaik di Tanah Air yang merajai 40% pasar dalam negeri. Khusus untuk Kopi Ulee Kareng, bisa dikatakan hampir semua kedai kopi di Banda Aceh menyuguhkan kopi produksi daerah ini. Proses pengolahan bubuk kopi di kedai-kedai kopi ini menyimpan keunikan tersendiri.
Budaya minum kopi ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari orang Aceh. Bahkan kebiasaan ini melebihi rata-rata kebiasaan minum kopi di daerah lain. Bahkan saking mendalamnya budaya minum kopi ini, sampai ada ungkapan populer di Aceh yaitu "Kupi sikhan glah, peh beureukah lua Nangroe". Ungkapan ini dapat diartikan walaupun minum kopi hanya setengah gelas, tetapi cakap bicaranya sampai ke luar negeri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....