Sejarah Jaje Laklak Kudapan Manis Khas Bali

  • 03 Mei 2024 13:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Indonesia memiliki banyak jenis makanan ringan atau kudapan dari seluruh nusantara, salah satunya Bali. Jaje laklak adalah kudapan manis khas Bali, kue ini hampir mirip dengan serabi yang ada di daerah Jawa.

Kudapan ini dibuat dari campuran tepung beras, santan,sari daun suji atau daun pandan serta bahan lainnya. Proses pembuatannya pun terbilang mudah dan tidak memakan waktu lama.

Jaje laklak disajikan dengan tabutan kelapa raut kukus serta gula aren sebagai pemanisnya. Menikmati kuliner ini lebih pas jika ditemani dengan secangkir kopi ataupun teh pahit.

Awal mula dikenalnya jaje laklak dalam masyarakat Bali berhubungan dengan sejarah perjalananan Dang Hyang Nirartha dalam agama Hindu. Kisah penyeberangan Dang Hyang Nirartha dan keluarganya dari Blambangan melintas selat Bali menuju daratan Bali.

Setelah berhasil mendarat di Bali ketika Dang Hyang Nirartha memasuki hutan rimba raya (Jimbarwana). Dang Hyang Nirartha masuk ke mulut naga yang sedang menganga dan masuk menuju perutnya.

Di dalam perut naga Dang Hyang Nirartha menemukan tiga tangkai bunga teratai berwarna biru tua, merah dan putih. Teratai itu dipetik dan Dang Hyang Nirartha secara tiba-tiba keluar dari perut naga.

Anak dan istrinya ketakutan melihat Dang Hyang Nirartha keluar dari mulut naga dalam keadaan tubuhnya berwarna-warni. Dang Hyang Nirartha kelihatan hitam, putih lalu berubah lagi berwarna kemerahan.

Dalam keadaan ketakutan anak dan istrinya serentak melarikan diri dengan sabar Dang Hyang Nirartha mencari anak dan istrinya. Putra dan putrinya berhasil ditemukan kecuali istri dan satu putrinya yang bernama Ida Diah Swabawa.

Karena dicari kemana-mana tetap tidak ditemukan maka Dang Hyang Nirartha menganggap mereka sudah meninggal. Selanjutnya agar arwah anak dan istrinya tidak terlunta-lunta maka Dang Hyang Nirartha melakukan upacara penyupatan.

Kemudian arwah istri dan anaknya didewakan sebagai Dewi Melanting di Pura Pulaki. Namun Dang Hyang Nirartha terperanjat melihat salah satu putrinya yang tidak lari yaitu Ida Rai Istri.

Sehingga dia dianugrahi sebuah kekuatan untuk menguasai seluruh makhluk halus yang ada di alam ini (dengan gelar Ratu Niang Sakti). Beliau bersedia namun ada satu permintaannya yaitu mohon diberi sesajen berupa jaje laklak tape.

Hal ini disanggupi oleh Dang Hyang Nirartha sebagai ayahandanya, sejak saat itulah jaje laklak tape dikenal sebagai sebuah sarana upacara. Khususnya sebagai persembahan pada Bhuta-Bhuti agar tidak mengganggu kehidupan manusia di Bali.

Lewat pengalaman itu penggunaan jaja laklak dalam upacara menjadi sangat umum. Dikarenakan ini diperkenalkan secara luas oleh Dang Hyang Nirartha kepada masyarakat di Bali.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....