Kue Tuli-Tuli Khas Kendari, Usaha Nuraeny Berawal dari Ngidam

  • 06 Sep 2026 20:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kue tuli-tuli adalah jajanan tradisional khas Buton yang juga dikenal di Kendari, Sulawesi Tenggara, dan memiliki bentuk unik seperti angka delapan.
  • Nuraeny Nurdin mengembangkan usaha kuliner kue tuli-tuli setelah mengalami kesulitan mendapatkan makanan tersebut saat mengidam.
  • Kue tuli-tuli dibuat dari tepung ubi atau singkong yang diparut dan diolah menjadi adonan, memiliki rasa gurih, dan biasanya disajikan dengan sambal.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kue tuli-tuli merupakan jajanan tradisional khas Buton yang turut dikenal di Kendari, Sulawesi Tenggara. Pemilik Usaha Kuliner Kue Tuli-Tuli, Nuraeny Nurdin, mengembangkan kue tersebut setelah kesulitan mendapatkannya saat mengidam.

Kue tuli-tuli dibuat dari tepung ubi atau singkong yang diparut dan diolah menjadi adonan. Jajanan berbentuk angka delapan itu memiliki rasa gurih dan biasanya dinikmati bersama sambal.

“Awalnya itu dari rasa ngidam saat mengandung anak ketiga. Saya ngidam ingin makan tuli-tuli karena saat itu di Kendari jajanan ini memang tidak ada,” ujar Nuraeny saat berbincang bersama Pro3 RRI Jakarta, Minggu, 6 September 2026.

Nuraeny mengatakan kue tuli-tuli saat itu lebih mudah ditemukan di daerah Buton. Karena sulit mendapatkannya di Kendari, ia kemudian berinisiatif membuat kue tersebut sendiri.

Usaha tersebut kemudian terus berkembang sejak 2017 dan kini melayani berbagai kalangan. Kue tuli-tuli yang awalnya dikenal masyarakat Buton kini telah dinikmati berbagai suku.

“Yang tadinya hanya orang-orang tertentu dari daerah Buton saja, tapi lama-lama sudah dirasakan semua suku. Kalau untuk dikirim ke daerah Bali sering, karena orang yang ada di sini membawanya sebagai oleh-oleh.” kata Nuraeny.

Kue tuli-tuli milik Nuraeny dijual dengan harga Rp10 ribu untuk delapan buah. Harga tersebut sudah termasuk sambal sebagai pelengkap.

Usaha kue tuli-tuli kini menghasilkan omzet lebih dari Rp30 juta setiap bulan. Dalam menjalankan usahanya, Nuraeny hanya dibantu suaminya tanpa pegawai tambahan.

Nuraeny mengatakan produksi tetap berjalan hampir setiap hari selama bahan baku masih tersedia. Ia biasanya berhenti berproduksi ketika stok bahan baku sedang kosong.

“Kami libur (tidak produksi) kalau stok bahan bakunya sedang kosong. Apalagi sekarang kondisi kami sedang kekeringan,” ucapnya.

Bahan baku berupa tepung ubi dibeli dalam kondisi sudah jadi dari daerah Buton. Menurut Nuraeny, ketersediaan bahan baku semakin sulit diperoleh ketika kondisi sedang kering. (Rahmania Ulfah)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....