Pelepas Dahaga, Begini Sejarah Romantis 'Es Selendang Mayang'

  • 11 Apr 2026 13:37 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Es Selendang Mayang merupakan minuman tradisional Betawi berbahan tepung beras dengan cita rasa manis dan menyegarkan, serta harga yang relatif terjangkau.
  • Minuman ini memiliki sejarah panjang sejak 1940-an, terinspirasi dari cerita rakyat dan filosofi warna yang mencerminkan perpaduan budaya Betawi.
  • Selain sebagai pelepas dahaga, selendang mayang menjadi simbol identitas budaya yang kini perlu dilestarikan di tengah perubahan zaman.

RRI.CO.ID, Jakarta - Di tengah ragam kuliner tradisional Betawi, es selendang mayang hadir sebagai sajian manis yang menyegarkan sekaligus sarat nilai sejarah. Minuman berbahan dasar tepung beras ini dikenal dengan teksturnya yang kenyal berpadu dengan kuah santan dan gula merah.

Harga Es Selendang Mayang umumnya cukup terjangkau, tergantung lokasi dan penyajiannya. Di pedagang kaki lima atau pasar tradisional, minuman ini biasanya dibanderol sekitar Rp5.000 hingga Rp10.000 per porsi.

Sementara itu, jika dijual di kafe atau tempat kuliner modern dengan penyajian lebih menarik, harganya bisa berkisar antara Rp15.000 hingga Rp25.000 per porsi.

Menjadi salah satu minuman favorit pelepas dahaga ditengah teriknya Jakarta, es selendang mayang juga mempunyai sejarahnya. Melansir dari situs resmi referensi.data.kemendikdasmen.go.id, berikut adalah sejarahnya.

Sejarah selendang mayang, minuman yang satu ini sering dikaitkan dengan cerita rakyat Jampang Mayangsari. Mayangsari terkenal dengan kecantikannya dan salah satu keunggulannya adalah rambutnya yang hitam panjang ikal.

Selain memiliki kecantikan yang rupawan tidak jarang banyak pria yang menginginkan Mayangsari. Termasuk lelaki muda bernama Jampang.

Ada pula yang mengaitkannya dengan perempuan yang memakai selendang dengan rambut hitam ikat dua. Bentuknya yang semua di loyang berlapis 3 warna lalu dipotong panjang seperti selendang.

Setelahnya dipotong kecil berbentuk wajik, pada daerah tertentu, masyarakat juga menyebut minuman ini bendrong. Dalam sejarah selendang mayang, minuman ini disebut selendang mayang karena setiap lapisan terdiri dari beberapa warna.

Nama selendang mayang diketahui muncul karena bentuk jajanan ini sendiri. Kata ‘selendang’ dari selendang mayang diketahui berasal dari warna makanan yang berwarna hijau, putih, dan merah.

Warna tersebut seperti selendang penari dan kata ‘mayang’ mempunyai arti kenyal dan manis. Warna-warna itu adalah warna-warna khas masyarakat Betawi.

Hal ini dapat dilihat dari pemilihan warna seperti merah yang berhubungan dengan Tiongkok. Warna kuning yang merupakan warna khas Melayu, dan hijau yang diidentikkan berasal dari Arab.

Minuman ini ternyata telah mulai populer sejak tahun 1940-an. Selendang mayang juga pernah disebut-sebut menghilang selama puluhan tahun.

Baru pada tahun 1990-an, minuman ini muncul kembali dan sering ditemukan di acara hajatan. Melihat tradisi yang ada di daerah Betawi, selendang mayang biasanya disajikan saat pesta pernikahan.

Selain itu juga sebagai menu takjil atau disajikan saat acara hajatan bernuansa budaya Betawi. Menyantap selendang mayang melambangkan kehangatan dan kemeriahan.

Selain menyegarkan, minuman yang satu ini juga dapat mengurangi rasa lapar karena dibuat dengan bahan dasar tepung beras. Sejarah selendang mayang membuktikan bahwa kuliner khas daerah memiliki cerita panjang yang layak untuk dilestarikan.

Sebagai warisan budaya, minuman ini bukan sekadar pelepas dahaga, tetapi juga simbol identitas masyarakat Betawi. Kehadirannya mencerminkan kearifan lokal dalam mengolah bahan sederhana menjadi sajian bernilai.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....