Rahasia Rujak Natsepa dalam Sentuhan Pala yang Gurih
- 06 Des 2025 12:46 WIB
- Pusat Pemberitaan
ANGIN Teluk Baguala bergerak pelan ketika sore turun di Pantai Natsepa. Sementara itu, aroma kacang tumbuk langsung menyambut setiap pengunjung yang mendekati deretan tenda sederhana di tepi pantai.
Di salah satu tenda itulah duduk Anna Watimenna (61), yang akrab disapa Mama. Selama 21 tahun, ia setia mengulek rujak Natsepa tanpa pernah meninggalkan tempat itu.
Lapak Mama berada di Desa Suli, pesisir Kecamatan Salahutu, Maluku Tengah. Letaknya hanya sekitar 18 kilometer dari pusat Kota Ambon sehingga mudah dijangkau wisatawan.
Setiap pengunjung yang datang selalu disambut senyum lembut dari Mama. Ritme tangannya yang hafal dan tenang menunjukkan betapa lamanya hidup bersama ulekan itu.
Dalam setiap obrolan, Mama tidak pernah bosan menjelaskan perbedaan rujak Natsepa dengan rujak di daerah lain. “Bedanya pala (biji pohon pala/red) sama kacangnya,” ujarnya ditemui, Rabu (3/12/2025).

Pedagang rujak Natsepa Anna Watimenna menyiapkan bumbu pokok di antaranya pala dan kacang, Rabu (3/12/2025) (Foto: rri.co.id/Rachmad Zein)
Menurut Mama, perpaduan manis dan sedikit rasa garam menjadi ciri khas yang tak boleh hilang. Karena itu, komposisi kacang harus lebih banyak daripada gula merah agar rasa tetap seimbang.
Setelah bumbu siap, Mama melanjutkan proses dengan menambahkan buah tropis seperti kedondong dan mangga. Selain itu, juga menyediakan pepaya, nanas, dan jambu yang selalu segar.

Pedagang rujak Natsepa, Anna Watimenna, memasukkan aneka buah ke dalam layah berisi bumbu rujak, Rabu (3/12/2025). (Foto: rri.co.id/Puspita Ayu)
Setiap pesanan pun disesuaikan dengan selera pengunjung. Ada yang tidak mau ketimun, ada pula yang menolak ubi, dan Mama selalu menyesuaikannya tanpa ragu.
Menariknya, beberapa turis justru datang hanya untuk membeli bumbu rujaknya saja. “Di sana ada buah, tapi bumbunya tidak sama,” kata Mama sambil menata ulang wadah dagangannya.
Popularitas rujak Natsepa sendiri menyebar lewat cerita keluarga, rekomendasi teman, hingga video yang viral. Karena itu, banyak wisatawan tiba sambil membawa nama pedagang yang ingin mereka temui.
“Mereka bilang kami disuruh cari ibu ini,” ujar Mama Anna sambil tertawa kecil. Ia bangga karena namanya ikut melekat pada ikon kuliner pantai tersebut.

Pelanggan menikmati segarnya air kelapa sebagai pendamping rujak, dengan panorama memikat Pantai Natsepa, Rabu (3/12/2025)(Foto: rri.co.id/Rachmad Zein)
Berkah Rujak Natsepa, Tiga Anak Raih Sarjana
Setiap hari, Mama membuka lapaknya dari sekitar pukul 14.00 -20.00 WIB. Rutinitas itu tetap dijalankan selama bertahun-tahun tanpa banyak berubah.
Ketika pandemi tiba dan pengunjung hilang, Mama tetap bertahan berjualan demi bertahan hidup. “Kalau tidak jualan, mau makan pakai apa?” ujarnya pelan, mengingat masa-masa sulit tersebut.
Dari rujak itulah Mama berhasil membesarkan tiga anaknya hingga meraih gelar sarjana. Ia menyebut rujak sebagai berkat yang menopang keluarganya sejak lama.
Kini ketiga anaknya sudah bekerja dan hidup mandiri dengan penghasilan masing-masing. Meski begitu, Mama tetap memilih berjualan agar punya kesibukan dan tidak merasa kesepian.
Seiring berjalannya waktu, Pantai Natsepa kembali ramai setelah pandemi mereda. "Sabtu atau Minggu biasanya ramai wisatawan," ucapnya.
Di sisi lain, Mama mengungkapkan, bahwa padatnya pengunjung tak selalu sejalan dengan perhatian pemerintah. “Tidak pernah kami mendapat bantuan,” kata Mama Anna dengan nada tegas.
Para pedagang hanya membayar biaya lampu untuk menerangi tenda mereka setiap malam. Sisanya, termasuk bangunan di atas fondasi lama yang pernah roboh diterjang angin, mereka bangun sendiri.

Pedagang mengantar kelapa segar sebagai pendamping rujak Natsepa, Rabu (3/12/2025) (Foto: rri.co.id/Rachmad Zein)
Menjelang senja, suasana di lapak Mama semakin terasa hangat ketika bumbu kacang yang lembut menyatu dengan potongan buah segar. Perpaduan manis, asin, pedas, dan hangatnya pala menciptakan kenangan baru bagi setiap pengunjung.
Karena itu, sebelum pengunjung pergi, Mama selalu memberikan pesan yang sama dengan ketulusan sederhana. “Kalau datang ke Natsepa, jangan lupa coba rujak Natsepa," ucapnya, sambil tersenyum meninggalkan kesan menyentuh hati, khas masyarakat Ambon, manise.
(Tim liputan: Pusat Pemberitaan Pro3/rri.co.id/RRI Ambon)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....