Nikmat Citarasa Maluku di Ujung JMP Ambon

  • 02 Des 2025 17:33 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Ambon: Di perjalanan pulang dari Benteng Amsterdam, Maluku Tengah, Maluku, aroma kopi memanggil dari ujung Jembatan Merah Putih (JMP), Kota Ambon, Selasa (2/11/2025). Coffee Ujung JMP berdiri tenang, seolah menunggu setiap pejalan yang ingin beristirahat.

Begitu masuk, suasana hangat langsung menyapa lewat lampu kuning temaram dan ornamen kayu Ambon. Obrolan pelan para pengunjung menyatu dengan suara mesin kopi yang terus bekerja.

Namun, daya tarik utamanya bukan hanya ruangannya, melainkan menu bernuansa Maluku yang jarang ditemukan di kafe lain. Di sini, kopi menjadi pengantar untuk berkenalan dengan rasa-rasa lokal.

Yang paling memikat tentu nasi bakar ikan cakalang. Berbeda dengan kebiasaan rumah tradisional Maluku, kafe ini memilih daun pisang sebagai pembungkus sebelum dibakar perlahan.

Sajian nasi cakalang bakar di Coffe Ujung JMP (Foto: rri.co.id/Busra)

Ketika dibuka, uap panas bercampur wangi asap langsung menyeruak. Tekstur ikan yang lembut bertemu aroma daun pisang yang manis dan gurih.

Puspa, salah satu pengunjung dari Jakarta, yang kami temui, memuji perpaduan itu sebagai “rasa yang mengingatkan rumah, tapi lebih rapi.” Ia menambahkan, cakalang suwir dan sambal Maluku membuat suapan pertama terasa menampar lidah.

Selain menu berat, kafe ini juga punya suguhan ringan yang cepat mencuri perhatian, yakni sukun goreng. Renyah di luar, lembut di dalam, dan makin tegas saat dicelup sambal pedas manis.

Untuk yang butuh kehangatan, wedang jahe racikan barista jadi pilihan favorit. Jahe tua dihancurkan, direbus bersama gula merah, lalu ditutup sedikit madu agar rasa akhirnya membulat.

Di luar soal rasa, Coffee Ujung JMP punya daya tarik unik, semua orang terasa setara. Mahasiswa duduk berdampingan dengan tokoh publik, sementara nelayan dan pekerja malam memesan kopi tanpa canggung.

Menjelang malam, kafe ini pelan-pelan berubah menjadi ruang cerita. Wartawan, pegiat komunitas, dan warga sering berkumpul di meja-meja panjang, membahas isu kota sambil menunggu angin Teluk Ambon lewat.

"Di titik itu, Coffee Ujung JMP bukan lagi sekadar tempat makan atau minum. Namun, menjadi ruang kecil yang merawat ingatan tentang Maluku, hangat, bersahaja, dan selalu mengundang untuk kembali," ujar Ongen salah satu wartawan di Kota Ambon.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....