Wingko Babat, Kuliner Tradisional di Bawah Jembatan Ampera

  • 18 Agt 2025 19:20 WIB
  •  Palembang

KBRN Palembang: Wingko babat merupakan salah satu kue tradisional khas nusantara yang memiliki cita rasa manis gurih dengan tekstur legit dan lembut.

Kue ini berbahan dasar kelapa parut yang dicampur dengan tepung ketan, gula, dan santan, sehingga menghasilkan aroma harum yang khas saat dipanggang.

Di Palembang, salah satu pedagang yang setia menghadirkan wingko babat adalah Bu Surtini, yang berjualan di bawah Jembatan Ampera, dekat pelataran Benteng Kuto Besak (BKB) Palembang.

Dalam bincang santai bersama RRI (Minggu, 17/8/2025), Bu Surtini menjelaskan bahwa berjualan wingko babat sudah digelutinya sejak beberapa tahun lalu. Menurutnya, setiap ada kegiatan besar di sekitar Sungai Musi, seperti lomba bidar, omzet dagangannya bisa berlipat ganda.

“Kalau ada acara, pembeli ramai sekali. Wingko babat ini banyak dicari sebagai oleh-oleh atau teman bersantai sambil menikmati suasana sungai,” ungkapnya.

Adapun resep wingko babat ala Bu Surtini cukup sederhana dan bisa dipraktikkan di rumah.

Bahan-bahannya terdiri atas 500 gram kelapa parut setengah tua, 250 gram tepung ketan, 200 gram gula pasir, 200 ml santan kental, 2 butir telur, serta sedikit garam untuk penyeimbang rasa. Semua bahan tersebut mudah diperoleh di pasar tradisional maupun swalayan.

Cara membuatnya, pertama-tama campurkan kelapa parut dengan tepung ketan, gula, dan garam, kemudian aduk rata.

Setelah itu, tambahkan santan kental serta telur, lalu aduk hingga adonan kalis dan tidak terlalu encer.

Adonan kemudian dicetak sesuai selera, bisa berbentuk bulat pipih atau kotak. Selanjutnya, panggang adonan di atas wajan datar atau teflon dengan api kecil sampai kedua sisinya berwarna kecokelatan dan harum.

Menurut Bu Surtini, kunci kelezatan wingko babat terletak pada penggunaan kelapa parut segar serta proses pemanggangan yang sabar.

“Kalau kelapanya masih segar, wangi dan gurihnya lebih terasa. Jangan lupa dipanggang pelan-pelan supaya matang merata,” jelasnya.

Dengan cara tersebut, wingko babat bisa bertahan hingga dua hari pada suhu ruang, dan lebih lama jika disimpan dalam wadah tertutup.

Selain dijual langsung kepada wisatawan dan pengunjung, Bu Surtini juga menerima pesanan dalam jumlah besar untuk acara keluarga maupun hajatan.

Ia menuturkan bahwa banyak warga yang menjadikan wingko babat sebagai suguhan karena rasanya yang khas serta cocok dinikmati semua kalangan. Baginya, menjaga kualitas rasa adalah kunci agar pelanggan tetap setia.

Wingko babat bukan sekadar kue tradisional, tetapi juga bagian dari warisan kuliner nusantara yang patut dilestarikan.

Lewat tangan pedagang seperti Bu Surtini, cita rasa wingko babat tetap eksis di tengah modernisasi kuliner yang semakin beragam.

Kehadirannya di bawah Jembatan Ampera menjadi pelengkap suasana wisata Palembang yang kaya budaya dan kuliner.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....