Mengenal Megibung, Tradisi Makan Bersama ala Masyarakat Bali
- 23 Apr 2025 09:03 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Jika dalam budaya Sunda mempunyai tradisi ngeliwet yang merupakan makan bersama dalam satu wadah. Tentunya di tanah Bali mempunyai hal yang serupa, tradisi ini dinamakan Megibung.
Bedanya dengan ngeliwet yang dilakukan masyarakat Sunda tanpa melibatkan campur tangan dapur. Megibung justru mengawalinya dengan menyiapkan bahan, memasak, hingga menyantap pun dilakukan bersama-sama.
Lantas bagaimana makna tradisi Megibung dalam masyarakat Bali saat Hari Raya Galungan? Mengutip situs Pemkab Karangasem, berikut ulasannya.
Tradisi Megibung ini dikenalkan oleh Raja Karangasem yaitu I Gusti Agung Anglurah Ketut Karangasem sekitar tahun 1614 Caka atau 1692 Masehi. Ketika pada saat itu, Karangasem dalam ekspedisinya menaklukkan Raja-raja yang ada di tanah Lombok.
Ketika istirahat dari peperangan, raja menganjurkan semua prajuritnya untuk makan bersama dalam posisi melingkar atau disebut Megibung. Bahkan, raja sendiri konon ikut makan bersama dengan prajuritnya.
Megibung dimulai dari masak masakan khas traditional Bali secara bersama-sama, baik itu nasi maupun lauknya. Setelah selesai memasak, warga kemudian menyiapkan makanan itu untuk disantap.
Nasi putih diletakkan dalam satu wadah yang disebut 'gibungan', sedangkan lauk dan sayur yang akan disantap disebut 'karangan'. Tradisi megibung ini dilangsungkan saat ada upacara adat dan Keagamaan di suatu tempat.
Ada beberapa etika yang perlu diperhatikan saat acara Megibung, sebelum makan kita harus cuci tangan terlebuh dahulu. Dan tidak menjatuhkan remah/sisa makanan dari suapan, serta tidak mengambil makanan di sebelah Anda.
Jika salah satu sudah merasa puas dan kenyang dilarang meninggalkan temannya. Walaupun aturan ini tidak tertulis tapi masih diikuti peserta makan Megibung.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....