Makna Filosofis Ubarampe Tradisi Jenang Sura di Surakarta
- 29 Des 2024 10:46 WIB
- Surakarta
KBRN, Surakarta: Masyarakat Jawa tidak lepas dari tradisi yang sudah ada sejak zaman dahulu. Tradisi merupakan ritual atau upacara adat yang dilakukan dengan tujuan tertentu yang memiliki makna filosofis tersendiri. Termasuk Tradisi Jenang Sura di Surakarta dengan ubarampenya yang disiapkan sebelum acara.
Dukuh Tipes, Serengan, Surakarta, merupakan salah satu daerah di Surakarta yang memiliki tradisi Jenang Sura, dengan ubarampe yang harus disiapkan sebelumnya. Bahkan, setiap ubarampe yang dibutuhkan terdapat makna filosofis yang terkandung di dalamnya.
Berikut ini, makna filosofis dalam ubarampe Tradisi Jenang Sura di Dukuh Tipes, Serengan, Surakarta, dikutip dari Sabdasastra: Jurnal Pendidikan Bahasa.
Beras Pandan Wangi
Ubarampe yang diperlukan dalam acara Tradisi Jenang Sura yang pertama adalah beras pandan wangi. Ubarampe tersebut memiliki makna filosofis sebagai wujud kemakmuran atau karaharjan.
Jenang Lemu
Ubarampe yang kedua adalah jenang lemu. Hal ini dimaksudkan sebagai harapan masyarakat Dukuh Tipes supaya senantiasa diberi kecusian hati dan diri.
Banyu Degan Wulung
Ubarampe yang diperlukan berikutnya adalah banyu degan wulung. Ubarampe tersebut memiliki makna kesegaran dan kesucian. Dimaksudkan supaya masyarakat Dukuh Tipes diberikan kesegaran dalam kehidupan, dengan adanya rasa tolong menolong, menghormati orang lain, dapat menumbuhkan rasa suci dalam masyarakat.
Bumbu Pawon
Ubarampe berikutnya adalah bumbu pawon. Makna filosofis dari bumbu pawon adalah menjalani kehidupan sehari-hari pasti memiliki permasalahan yang beraneka ragam. Masyarakat tentunya harus mencari jalan keluar yang terbaik sesuai dengan ajaran agama.
Sambel Goreng Tholo
Ubarampe yang kelima adalah sambel goreng tholo. Ubarampe tersebut memiliki makna filosofis yaitu kewaspadaan atau kepekaan dalam menyelesaikan masalah.
Garam dan Gula Jawa
Ubarampe yang keenam adalah garam dan gula Jawa. Memiliki makna filosofis yaitu dalam menjalani kehidupan, manusia tidak akan lepas dari manis dan asinnya kehidupan tersebut. Oleh karena itu, manusia harus belajar ikhlas, sabar, dan senantiasa berdoa kepada Tuhan.
Brambang Bawang
Ubarampe berikutnya adalah brambang bawang yang memiliki makna filosofis tentang perwujudan antara baik dan buruk. Dalam kehidupan, seharusnya manusia bisa membedakan perbuatan yang baik dan buruk.
Cabai Merah dan Cabai Rawit
Ubarampe yang kedelapan adalah cabai merah dan cabai rawit atau cabai kecil. Memiliki makna filosofis yaitu sebagai perwujudan permasalahan yang besar dan kecil. Dalam kehidupan, manusia akan menemui masalah yang membuat hati serta pikiran panas, sehingga manusia harus senantiasa mendekatkan diri pada sang pencipta.
Telur Ayam Jawa
Ubarampe yang kesembilan adalah telur ayang Jawa, memiliki makna filosofis wiji dadi atau perlambangan wujud pria dan wanita yang memunculkan bentuk baru. Hal ini sebagai sarana untuk mawas diri.
Sekar Telon
Ubarampe yang terakhir adalah sekar telon yang merupakan wujud dari Bungan melati, mawar, dan kenanga. Memiliki makna filosofis yaitu sarana mendekatkan diri pada Tuhan ada tiga, yaitu berdoa, pasrah akan takdir, serta memohon.
Makna filosofis yang ada dalam ubarampe Tradisi Jenang Sura dimaksudkan supaya generasi muda mengetahui serta menerapkan dalam kehidupan sehari-hari dan ikut melestarikan tradisi tersebut.
(Dhea, Ali Marsudi)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....