IHSG Diperkirakan Stagnan dengan Peluang Menguat Terbatas

  • 11 Sep 2024 10:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan stagnan, dengan peluang menguat terbatas, Rabu (11/9/2024). IHSG naik 0,76 persen atau 58 poin ke level 7.761.

Kenaikan IHSG ditopang oleh aliran masuk modal asing (net buy) oleh investor asing sebesar Rp237 miliar. Saham yang paling banyak dibeli asing adalah BBCA, BREN, BBRI, MAPI, dan KLBF.

“Hari ini IHSG berpotensi sideways cenderung menguat terbatas. Pelaku pasar sedang menunggu data inflasi Amerika Serikat yang akan diumumkan nanti malam,” kata Head of Research Retail BNI Sekuritas, Fanny Suherman dalam analisisnya.

Baca juga: Mayoritas Saham Naik, IHSG Berbalik Menguat

Fanny memperkirakan, pergerakan IHSG hari ini di rentang 7.670-7.720 untuk level support. Adapun level resist, IHSG diperkirakan bergerak di rentang 7.780 – 7.800.

Sementara, bursa global ditutup bervariasi pada Selasa kemarin. Indeks Wall Street, Amerika Serikat mayoritas menguat, kecuali Dow Jones yang berbalik arah.

Indeks S&P 500 naik 0,45 persen dan Nasdaq Composite menguat 0,84 persen. Adapun Dow Jones melemah 0,23 persen.

Indeks bursa Asia-Pasifik juga ditutup beragam pada Selasa kemarin, seiring optimisme pemangkasan suku bunga The Fed. Bursa saham Jepang, indeks Nikkei 225 berakhir turun 0,16 persen dan Topix turun 0,12 persen.

“Pergerakan harga saham-saham domestik juga mendapat dukungan dari pelemahan yen. Hal itu meredakan kekhawatiran terkait pembalikan transaksi carry trade,” ucap Fanny.

Carry trade adalah transaksi investasi dengan cara meminjam di mata uang berbunga rendah seperti yen, Jepang. Pinjaman ini diinvestasikan ke mata uang yang berbunga lebih tinggi.

Bursa saham dari Asia lainnya, seperti KOSPI Korea Selatan melemah 0,49 persen dan Taiex Taiwan turun 0,38 persen. Bursa saham Singapura, Straits Times Index (STI) menguat 0,57 persen, indeks saham Australia S&P/ASX 200 naik 0,30 persen.

“Penguatan ini terdorong prospek stimulus dari konsumen utama Tiongkok yang diperkirakan menaikkan harga komoditas. Selanjutnya data inflasi dan laporan klaim pengangguran akan menjadi pedoman terakhir yang akan menentukan arah kebijakan moneter,” ujarnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....