IHSG Tersungkur ke Zona Merah, Turun 0,25 Persen
- 09 Sep 2024 20:10 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tergelincir ke zona merah dalam penutupan perdagangan awal pekan ini. Data RTI Business menunjukkan, IHSG turun 0,25 persen atau 19 poin ke level 7.702.
IHSG sempat mencapai level tertinggi 7.748 pada sesi pertama perdagangan. Tapi setelahnya terus menurun dan sempat mencapat level terendah di 7.654.
Hari ini sebanyak 353 saham nilainya turun, 236 saham naik nilainya dan 211 saham stagnan. Volume saham yang diperdagangkan sebanyak 18,61 miliar lembar saham, dengan frekuensi perdagangan sebanyak 1,1 juta kali transaksi.
Total nilai perdagangan tercatat sebesar Rp10,74 triliun, dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp13.221 triliun. Saham sektor properti dan real estate naik paling kuat (1,91 persen), sektor kesehatan turun paling dalam (0,97 persen).
“Sepanjang hari ini indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan bergerak melemah. Saham-saham yang mengalami penurunan paling besar di antaranya saham ESSA, EXCL JSMR, ACES dan MBMA,” kata Tim Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Senin (9/9/2024).
Bursa Asia, sambung Tim Analis Pilarmas, juga cenderung melemah dalam penutupan perdagangan hari ini. Sentimen pasar negatif, karena pelaku pasar mengkhawatirkan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat dan Tiongkok.
Data pengangguran di AS yang dirilis akhir pekan kemarin, menurun menjadi 4,2 persen. Di sisi lain, data penggajian pekerja non-pertanian (Non-Farm Payrolls) naik dari 89 ribu menjadi 142 ribu.
Meski mengalami kenaikan, NFP di bawah perkiraan pasar sebesar 160 ribu. Selain itu data sebelumnya direvisi dari 114 ribu menjadi 89 ribu.
“Inilah yang membuat pasar khawatir karena revisinya cukup dalam. Sementara pasar menyiratkan peluang 75 persen untuk pemangkasan suku bunga acuan The Fed,” ujar Tim Analis Pilarmas.
Pelaku pasar, pekan ini menunggu rilis neraca perdagangan yang diperkirakan menurun. Data produksi industri juga diperkirakan menurun dari sebelumnya 5,1 persen menjadi 4,7 persen.
“Pelemahan ekonomi Tiongkok juga terlihat dari aktivitas indeks manufaktur yang berada di zona kontraksi. Data penjualan ritel juga diperkirakan menurun dari 2,7 persen menjadi 2,5 persen,” kata Tim Analis Pilarmas Investindo Sekuritas menutup analisisnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....